Apa yang diinginkan pesantren terhadap santrinya akan terlihat dari bagaimana pesantren mendidik para santrinya tersebut. Maka, sebagai bentuk reframing, Darunnajah Cipining menyuguhkan 5 hal yang harus dimiliki santri Darunnajah Cipining agar sebagai pribadi dan pemimpin ummat, ia menjadi acuan dan tuntunan. Kelima hal tersebut menjadi 5 jiwa santri yang dikenal dengan istilah ‘Panca Jiwa Pesantren’.

Keikhlasan

Berasal dari kata ikhlas. Mudah diucapkan namun berat dilaksanakan. Allah juga banyak menyinggung soal ikhlas, seperti contohnya pada surat Al-Hijr (39-41). Ikhlas adalah bentuk penyerahan amal yang dilakukan dan hanya berharap balasan dari Allah SWT. Secara sederhana, ikhlas menunjukkan kualitas seseorang. Semakin tinggi derajat seseorang terukur dari seberapa ia ikhlas dalam hal tersebut.

Diharapkan, para santri memiliki jiwa (ruh) keikhlasan itu. Mereka memiliki kualitas dalam beramal serta dakwah, saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Santri berjiwa keikhlasan akan memancarkan semangat kerja tanpa batas yang memunculkan aura ilahiah. Di sisi lain, keikhlasan akan berdampak positif pada diri santri karena jiwanya telah tertaut dengan semangat tiada batas. Jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja dengan harapan imbalan atau jabatan, berarti semanatnya akan berbatas pada itu.

Kesederhanaan

Berasal dari kata sederhana. Melambangkan sebuah kehidupan yang jauh dari mubazir. Allah telah mengingatkan seperti misalnya dalam Al-Qur’an surat Al A’rof ayat 31. Islam sangat peduli dengan keberkahan rezeki ummatnya. Termasuk berkah adalah dalam sisi penggunaanya. Maka, pesantren memberikan bimbingan kepada santri agar jiwa kesederhanaan ini menjadi pakaian meskipun dalam kasat mata, ia memiliki cukup harta. Justru banyak harta, tanpa iman dan ilmu, ia akan menyesatkan pemiliknya.

Kesederhanaan bisa berarti tidak menggelapkan mata pada harta. Rezeki milik Allah, dengan jalan yang benar dan halal adalah cara menjemputnya. Kesederhanaan para santri sebagai tauladan sebagaimana para sahabat yang sanagt takut berlebihan harta karena akan ada pertanggungjawabannya. Kesederhanaan juga bukan bermaksud tidak punya, namun tentang bagaimana para santri menempatkan hartanya pada posisi yang tepat.

Ukhuwah Islamiyah

Berarti tali persaudaraan sesama muslim.  Ada banyak sekali tuntunan Rasulullah terkait hal ini. Seperti salah satunya Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain tidak boleh menzhaliminya membiarkannya mendustainya dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada di sini beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang dianggap kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya hartanya dan kehormatannya“.

Berdikari

Ada yang mengartikan ini dengan sebuah akronim: Berdiri di atas kaki sendiri. Dalam istilah yang bersinonim, berdikari sama dengan mandiri. Tidak bergantung pada orang lain. Tidak menjadi benalu. Tidak menjadi beban buat orang lain.

Islam tidak menyukai ummatnya yang menjadi beban orang lain. Manusia terbaik, dalam Islam adalah yang berguna bagi orang lain. Hal ini adalah kesempatan agar seorang muslim dapat mengeluarkan zakat, shodakoh, dan amal lain yang bisa dinikmati orang lain. Meminta-minta dalam kaca mata Islam sungguh tercela. Rasulullah berkata: Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Pesantren, tidak saja menginginkan para santri pandai terhadap masalah agama. Namun ia memiliki kompetensi soal kehidupan. Ia berjaya dengan kemampuannya dan keilmuannya. Di sisi lain ia qonaah terhadap kehidupannya.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi… (QS. 28: 77).

“Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati besok” (HR. Baihaqi). “Bukanlah orang yang paling baik darimu itu yang meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya karena dunianya. Sebab, dunia itu penyampaian pada akhirat dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia” (HR. Ibnu ‘Asakir dari Anas).

Kebebasan

Pesantren memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada para santri untuk tumbuh berkembang menjadi dirinya sendiri. Pesantren bertugas membimbing dan membina santri dalam pencapaiannya terhadap cita-cita, visi dan misinya. Pesantren juga mengarahkan prestasi santri pada keahlian dan kompetensinya masing-masing.

Pada kondisi ini, santri bebas memilih jalan hidup sesuai dengan keinginannya. Mereka bebas berekspresi. Kesuksesan mereka dalam menempuh masa depan adalah kebahagiaan pesantren sebagai salah satu background hidupnya.

Dari kelima panca jiwa ini, mudah-mudahan visi pesantren Darunnajah Cipining dalam membina generasi bangsa untuk menghadapai masa depannya adalah sebuah rahmat Allah SWT. Amin. (Wardan/Billah)

Share: