Tidak berlebihan memang, jika pesantren Darunnajah Cipining memiliki perhatian yang serius terhadap belajar santri. Apalagi saat-saat ujian tiba seperti sekarang ini. Semua aktivitas yang dapat menyebabkan gangguan konsentrasi belajar seperti kegiatan ekstrakurikuler, olah raga dll diberhentikan. Kemudian jadwal belajar diperketat. “Utrukuu ma siwa addarsi” (tinggalkan semua kegiatan kecuali belajar). Begitulah salah satu pamplet panitia ujian yang terpasang di beberapa tempat strategis di seluruh area pesantren. Mengingatkan dan mengkondisikan sekaligus mengaktifkan suasana belajar.

Maka, kegiatan belajar santri mendapat prioritas, sekurang-kurangnya 3 kali dalam sehari, selepas sholat Shubuh, Ashar dan Isya. Di masjid putra, do’a belajar dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc.  Seusai menjadi Imam sholat berjamaah, beliau sengaja membuka belajar dengan memimpin do’a. Beliau mengatakan, inilah bentuk keseriusan pesantren dalam memperhatikan belajar santri. “Pesantren mengingkan yang terbaik, dan inilah yang pesantren berikan kepada santri, perhatian terbaik”.

Kegiatan belajar ini turut pula didukung oleh dewan guru secara maksimal. Usai sholat bejamaah, mereka pun tidak langsung meninggalkan masjid, Namun merapikan barisan belajar santri. Santri berbaris saling berhadapan per kelas. Hal ini guna memudahkan pengawasan dan bimbingan.

Setelah kondisi dan kegiatan belajar telah rapi, guru yang tidak memiliki jadwal mengawas dapat meninggalkan masjid dan meneruskan kegiatannya. Namun bagi yang bertugas mengawas, akan tetap tinggal di masjid hingga belajar santri selesai. Bagi santri yang merasa ada kesulitan dalam memahami pelajaran, dapat langsung bertanya kepada pengawas. Di dalam pengawasan, panitia ujian mendistribusikan secara rata, terdapat guru junior (baru) hingga senior dalam sekali tugas guna menghandel semua kelas yang ada.

Kegiatan belajar santri biasanya telah dimulai 1 pekan sebelum ujian berlangsung. Kebijakan ini, selain guna mengingatkan santri bahwa waktu ujian telah semakin dekat, juga agar santri dapat mengangsur pelajaran. Disinilah nilai plus santri, mereka belajar 3 kurikulum sekaligus, sehingga dapat dikatakan kurikulumnya 300 persen. Ketiga kurikulum itu adalah kurikulum madrasah yang bersumber dari departemen agama (depag), kurikulum nasional dari pendidikan nasional (diknas), dan kurikulum pesantren (Gontor). Sehingga tidak salah jika pesantren Darunnajah Cipining dalam hal ini TMI (Tarbiyatul Mu’allimien wal Mu’allimat Al-Islamiyah) telah mendapatkan legalitas sejajar (disamakan) dengan sekolah umum. (Wardan/Billah)

Share: