KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَمَّابَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : “وَأَمَّا مَنْ أُوْتِىُ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَالَيْتَنِيْ لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ” فَيَاأَيُّهَا النَّاسْ إِتَّقُ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Hendaknya seorang muslim bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmatnya yang telah Allah limpahkan kepada kita semua, baik nikmat iman, kesehatan, dan keluangan waktu sehingga kita dapat melaksanakan kewajiban kita menunaikan Shalat Jum’at. Dan hendaknyalah kita berhati-hati agar jangan sampai menjadi orang yang kuruf kepada nikmat Allah. Allah swt berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَ نَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتٌمْ إِنَّا عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim : 7)

Demikian pula kami wasiatkan untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah swt dalam segala keadaan dan waktu. Takwa, sebuah kata yang ringan diucapkan akan tetapi tidak mudah untuk diamalkan.

Ketahuilah, Wahai saudaraku Rahimakumullah, tatkala Umar bin Khaththab ra bertanya kepada sahabat Ubay bin Ka’ab ra tentang taqwa, maka berkatalah bay bin Ka’ab: “Pernahkan anda berjalan disuatu tempat yang banyak durinya?” kemudian Umar ra menjawab: “Tentu” maka berkatalah Ubay ra: “Apakah yang anda lakukan?” berkatalah Umar ra: “Saya sangat waspada dan hati-hati agar selamat dari duri itu”. Lalu Ubay ra berkata: “Demikianlah taqwa itu”.

Demikianlah taqwa yang diperintahkan oleh Allah swt dalam kitab-Nya yakni agar senantiasa waspada dan hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan kita. Oleh karena itu, janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasarkan Ilmu.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Hendaklah kita bersegera mencari bekal guna menuju pertemuan kita dengan Allah karena kita tidak tahu kapan ajal kita itu datang. Dan allah swt berfirman:

“Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku, Hai orang-orang yang berakal” (QS Al-Baqarah : 197)

Ketahuilah wahai saudaraku, Manusia setapak demi setapak menjalani kehidupannya dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Tahapan-tahapan tersebut harus dijalani sampai akhirnya nanti kita akan menemui alam akhirat tempat kita memperhitungkan amalan-amalan yang telah kita lakukan didunia. Maka tatkala kita mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw yang memberitakan tentang keadaan hari akhirat, hendaklah hati kita menjadi takut, menagislah mata kita, dan menjadi dekatlah hati kita kepada Allah swt.

Akan tetapi, bagi orang-orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah swt tatkala disebut kata Neraka, Adzab, Ash-Shirat dan lain sebagainya seakan terasa ringan diucapkan oleh lisan-lisan mereka tanpa makna sama sekali. Na’udzubillahi min dzalik. Mari kita perhatikan firman Allah swt dalam surat Al-Haqqah ayat 25-29:

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka Dia berkata: “Wahai Alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku.”

Dalam ayat ini, Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya Juz IV hal 501, menerangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara. Yaitu manakala diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah swt dari arah tangan kirinya, ketika itulah dia benar-benar menyesal. Dia mengatakan dengan penuh penyesalan: “Andaikana saya tidak usah diberi catatan amalan ini dan tidak usah tahu apakah hisab terhadap saya (tentu itu lebih baik bagi saya) dan andai kata saya mati terus dan tidak usah hidup kembali.

Coba perhatikan ayat selanjutnya:

“Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah Dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS Al-Haaqah : 30-32)

Bagi kaum beriman, yang mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut, menjadi bergetarlah hatinya, akan  menetes air mata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah dari keringat dingin dari tubuh mereka. Seakan saat itu mereka sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlan rasa takut yang amat mendalam kepada Allah swt agar tidak menjadi orang-orang yang celaka seperti ayat diatas.

Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah,

Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawabkan diri mereka. Allah swt berfirman:

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya Itulah hari ke luar (dari kubur).” (QS Qaaf : 41-42)

Juga Allah swt berfirman dalam surat Al-Mufhaffifin Ayat 4-7 yang berbunyi:

“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena Sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”.

Dan manusia dibangkitkan dalam keadaan  حُفاَةً عُرَاةً غُرْلاً  (Tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan). Sebagai mana firman-Nya:

“Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulanginya (mengembalikannya).” (QS Al-Anbiya : 104)

Manusia akan dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan dalam keadaan demikian. Bercampur dan berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala Nabi Muhammad saw menceritakan hal tersebut kepada ‘Aisyah ra maka berkatalah ia: “Wahai Rasulullah, antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat sebagian yang lain?” kemudian Rasulullah saw bersabda:

أَلْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى بَعْدٍ

“Perkara pada hari itu lebih keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lainnya”. (HR Bukhari dan Muslim, dari Aisyah ra)

Pada hari itu laki-laki tidak akan tertarik kepada wanita, dan demikian sebaliknya. Sampai seseorang itu lari dari bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan Allah swt pada hari itu. Sebagaimana Firman-Nya:

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, Dari ibu dan bapaknya, Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS Abasa : 34-37)

Demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat nanti, mudah-mudahan menjadikan kita semakin takut kepada Allah swt

أَقُوْلُ قَوْلِىْ هَاذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ , إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَمَّابَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : “وَأَمَّا مَنْ أُوْتِىُ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَالَيْتَنِيْ لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ” فَيَاأَيُّهَا النَّاسْ إِتَّقُ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Dari mimbar Jum’at ini kami sampaikan pula bahwasanya pada hari Akhir nanti matahari akan didekatkan diatas kepala-kepala sehingga bercucuran keringat mereka sehingga sebagian mereka akan tenggelam oleh keringat-keringat mereka sendiri, akan tetapi hal itu tergantung dari apa yang telah mereka perbuat di dunia.

Imam Muslim meriwayatkan dalam hadits yang Shahih Nomor 2864 dari Hadits Al-Miqdad bin al-Aswad ra berkata, ‘Rasulullah saw bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ, فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَىْ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِيْ اْلعَرَقِ , فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَىْ كَعْبَيْهِ , وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَىْ رُكْبَتَيْهِ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَىْ حَقْوَيْهِ, وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا. وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ.

“Matahari akan didekatkan pada hari kiamat kepada para makhluk sampai-sampai jarak matahari diatas kepala mereka hanya satu mil, maka manusia mengeluarkan keringat tergantung amalan-amalan mereka. Diantara mereka ada yang mengeluarkan keringat sampai mata kakinya dan ada yang sampai lututnya, ada juga yang sampai pinggangnya dan ada yang ditenggelamkan oleh keringat mereka.” Dan Rasulullah saw member Isyarat dengan tangannya ke mulutnya.

Dan seandainya ada yang bertanya “Bagaimana itu bisa terjadi sedangkan mereka berada ditempat yang satu?” Maka Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: “Ada sebuah kaidah yang hendaknya kita berpegang kepada kaidah itu, yaitu bahwa perkara ghaib wajib kita untuk mengimaninya dan membenarkannya tanpa menanyakan bagaimananya. Karena perkara tersebut berada diluar jangkauan akal-akal kita, kita tidak mampu mengetahui dan menggambarkannya.”

Demikianlah sebagian peristiwa di hari Akhir dan masih banyak lagi peristiwa yang akan kita alami yang hal itu akan menggetarkan hati bagi orang-orang Mukmin dan menjadikan mereka semakin takut kepada Allah swt

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَىْ النَّبِيْ, يَاآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَىْ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ, وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Khutbah Jum’at disampaikan Oleh: Ust Ahmad Hariadi

Pada Tanggal 9 Juli 2010

Di Masjid Jamik Darunnajah Cipining

Share: