I.              Pendahuluan

Studi atas Al-Quran telah banyak dilakukan oleh para ulama dan sarjana terdahulu. Termasuk para sahabat di zaman Rasulullah S.A.W.  Hal itu tidak lepas dari disiplin dan keahlian yang dimiliki oleh mereka masing-masing. Ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan eksplorasi lewat perspektif keimanan historis, bahasa dan sastra, pengkodifikasian, kemu’jizatan penafsiran serta telaah kepada huruf-hurufnya.

Al-Qur’an Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah S.W.T.   dan ia adalah kitab yang yang selalu dipelihara (Q.S. al-Hijr/15: 9).

Dengan jaminan ayat tersebut, setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai al-Qur’an saat ini tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang pernah dibacakan/perdengarkan oleh Rasulullah S.A.W.  dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat.

Al-Qur’an juga menjadi bukti kebenaran Rasulullah S.A.W.  Bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap.[1] Pertama, menantang mereka untuk siapapun yang meragukannya untuk menyusun semacam al-Qur’an secara keseluruhan (Q.S. al-Tur/52: 34). Kedua, menantang mereka untuk menyusun sepuluh surah semacam al-Qur’an (Q.S. Hud/11: 13). Ketiga, menantang mereka untuk menyusun satu surah saja semacam al-Qur’an (Q.S. Yunus/10: 38). Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surah saja dari al-Qur’an (Q.S. al-Baqarah/2: 23). Dalam hal ini Allah S.W.T.   menegaskan dalam FirmanNya pada Q.S. al-Isra’/17: 88;

Artinya : “Katakanlah, Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Walaupun al-Qur’an menjadi bukti kebenaran Rasulullah S.A.W.  , tapi fungsi utamanya adalah menjadi petunjuk untuk seluruh umat manusia. Sebagai petunjuk, Rasulullah S.A.W.   mendapat tugas untuk menjelaskan maksud dari ayat-ayat Allah S.W.T. yang terkandung dalam al-Qur’an (Q.S. al-Nahl/16: 44). Namun harus digaris bawahi pula bahwa penjelasan-penjelasan Rasulullah S.A.W.   tentang arti ayat-ayat al-Qur’an tidak banyak yang kita ketahui, bukan saja karena riwayat-riwayat yang diterima oleh generasi-generasi setelah beliau tidak banyak dan sebagiannya tidak dapat dipertanggungjawabkan otensitasya, tetapi juga karena Rasulullah S.A.W.   sendiri tidak menafsirkan semua ayat al-Qur’an.[2]

Dari segi materi, terlihat bahwa ada ayat-ayat al-Qur’an yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah S.W.T.   atau oleh Rasulullah S.A.W. bila beliau menerima penjelasan dari Allah S.W.T.[3]Sebagaimana firman Allah S.W.T.   dalam Q.S. Ali ‘Imran/3:7 yang membagi ayat-ayat al-Qur’an kepada muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar)[4] dan bahwa:

Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[5], Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.[6] Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Termasuk dalam hal ini adalah huruf-huruf hijaiyah yang menjadi ayat-ayat pembuka surah-setelah basmalah-pada sebagian surah dalam al-Qur’an yang sering dikenal dengan istilah fawatih al-suwar. Tentang fawatih al-suwar ini, ada yang berusaha menafsirkan makna huruf-huruf tersebut, namun sebagian besar menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Swt yang mengetahui.

II.           Definisi

Kata Fawâtih al-Suwar  berasal dari bahasa Arab, sebuah kalimat yang terdiri dari susunan dua kata, fawâtih dan al-Suwar. Memahami ungkapan ini, sebaiknya kita urai terlebih dahulu kepada pencarian makna kata perkata.

Kata فواتح yang berarti pembuka adalah jamak Taksir dari (فاتحة), yang mempunyai arti permulaan, pembukaan, dan pendahuluan.

Sedangkan السور adalah jamak dari سورة yang secara etimologi mempunyai banyak arti, yaitu : tingkatan atau martabat, tanda atau alamat, gedung yang tinggi dan indah, susunan sesuatu atas lainnya yang bertingkat tingkat.

Menurut Ibn Abi al-Isba’  dalam kitab al Khawathir as-Shawanih fi asrar al-fawatih yang ditulisnya, dia menggunakan istilah al-Fawatih dengan arti jenis-jenis perkataan yang membuka surah-surah dalam al-Qur’an. Jenis-jenis perkataan itu dibagi menjadi sepuluh kelompok; salah satunya adalah huruf-huruf tahajji (dibaca dengan cara dieja), atau yang biasa kita sebut dengan al-fawatih. Sementara Sembilan jenis lainnya adalah pujian: pujian kepada Allah, baik tahmid maupun tasbih; nida’  (seruan); jumlah khabariyah (kalimat berita); qasam (sumpah); syarat, perintah, doa, dan ta’lil (alasan)[7]

Secara terminologi surah dimaknai secara berbeda, menurut Manna’ al-Qaththan bahwa surah adalah sekumpulan ayat ayat al-Quran yang mempunyai tempat bermula dan sekaligus tempat berhenti. Sebaliknya al-Ja’bari mengatakan bahwa surah adalah sebagian al-Qur’an yang mencakup beberapa ayat yang memiliki permulaan dan penghabisan (penutup), paling sedikit tiga ayat.

Dari pengertian di atas, maka dapat dipahami dari segi makna fawâtih al-suwar berarti pembuka-pembuka surah karena posisinya yang mengawali perjalanaan teks-teks setiap surat.

Sebagian Ulama ada yang mengidentikkan fawâtih al-suwar dengan huruf al-muqatta’ah atau huruf-huruf yang terpisah dalam al-Quran. Seperti misalnya, Manna’ Khalil al-Qaththan dalam bukunya” Mabahis Fi Ulum al-Quran“. Namun bila diteliti lebih jauh, sesungguhnya keduanya sama sekali berbeda. Sebab huruf al-muqatta’ah ini tidak terdapat pada semua awal surat yang jumlahnya 114 dalam al-Qur’an. Ia tak lebih hanya merupakan sebagian dari beberapa bentuk “fawâtih al-Suwar ” yang ada dalam al-Qur’an.

Fawatih Suwari adalah kalimat-kalimat yang dipakai untuk pembukaan surah, ia merupakan bagian dari ayat Mutasyabihat. Karena ia bersifat mujmal, mu’awwal, dan musykil. Di dalam al-Qur’an terdapat huruf-huruf awalan dalam pembuka surah dalam bentuk yang berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu ciri kebesaran Allah dan kemahatahuan-Nya, sehingga kita terpanggil untuk menggali ayat-ayat tersebut. Dengan adanya suatu keyakinan bahwa semakin dikaji ayat al-Qur’an itu, maka semakin luas pengetahuan kita. Hal ini dapat dibuktikan dengan. perkembangan ilmu tafsir yang kita lihat hingga sekarang ini.[8]

III.        Macam-Macam

Setelah basmalah, pada permulaan dua puluh Sembilan surah di dalam al-Qur’an terdapat satu atau sekelompok huruf hijaiyah yang biasanya dibaca sebagai huruf-huruf terpisah atau berdiri sendiri. Sejumlah nama lazimya digunakan untuk merujuk kepada huruf-huruf tersebut, seperti fawatih al-suwar (pembuka-pembuka surah), awail al-suwar (permulaan-permulaan surah), al-huruf al-muqatta’ah/at (huruf-huruf potong/terpisah), dan sebagainya. Sementara sebutan yang lazim digunakan sarjana Barat ketika merujuk pada huruf-huruf tersebut adalah “huruf-huruf misterius”.[9]

Meskipun penulis tidak menemukan penjelasan definitif tentang arti fawatih al-suwar dari berbagai referensi yang ada, namun fawatih al-suwar secara khusus[10] yang dimaksudkan dalam makalah ini adalah huruf-huruf hijaiyah yang menempati awal surah-setelah basmalah-yang biasanya dibaca sebagai huruf-huruf terpisah, yang terdapat pada dua puluh sembilan surah dalam al-Qur’an.

Potongan huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada sejumlah surah al-Qur’an, ada kalanya hanya muncul sekali secara tunggal atau dalam kombinasi dan sebelum surah-surah yang tersendiri, tetapi juga terdapat kombinasi-kombinasi lain yang muncul sebelum beberapa surah, dan surah-surah yang memiliki huruf-huruf kombinasi yang sama berada dalam satu kelompok.[11]

Namun secara garis besarnya ada lima bentuk awalan yang dimulai oleh fawatih al-suwar tersebut, yang dapat dilihat dalam al-Qur’an, yakni:

  1. Pembukan dengan pujian kepada Allah (al-istiftah bi al-tsana).

Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu:

1)            Menetapkan sifat-sifat terpuji kepada Allah (al-itsbat shifat al-madhiy) dengan menggunakan salah satu lafal berikut :

  • Memakai lafal hamdalah, yakni dibuka dengan (الحمد لله), yang terdapat dalam 5 surat. Al-An’âm, Al-Kahfi, Saba, Fâtir, Al-Fâtihah.
  • Memakai lafal (تبارك), yang terdapat dalam 2 surat, al-Furôn, al-Mulk.

2)            Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih ‘an sifat naqshim) dengan menggunakan lafal tasbih, (يسبح\سبح\سبح\سبحن) sebagai yang terdapat dalam 7 surat.

Berdasarkan uraian di atas, ternyata masing-masing surat tersebut menetapkan sifat-sifat yang negatif. Surat-surat yang diawali dengan pujian ini memiliki tasbih itu merupakan monopoli Allah. Dalam hal ini, tasbih dimulai dengan mashdar dan selanjutnya diikuti dengan fi’il. Ini semua dimaksudkan agar mencakup seluruh tasbih, sekaligus menunjukkan betapa ajaibnya Al-Quran itu.

  1. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Istiftah bi al-huruf al-muqatha’ah).

Pembukan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang, yakni (ا\ي\هـ\ن\م\ل\ك\ق\ع\ك\ص\س\ر\ح)

Penggunan huruf-huruf tersebut dalam pembukaan surat-surat Alquran disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari kelompok berikut:

1)           Kelompok sederhana, terdiri dari satu huruf, terdapat dalam 3 surat, yakni (ص) (QS. Shad); (ق) (QS. Qaf); dan (ن) (QS. Nun).

2)            Kelompok yang terdiri dari dua huruf, tedapat dalam 3 surat, yakni (حم) (QS. Al-Mu’min; QS. Al-Sajdah; QS. Al-Zukhruf, QS. Al-Dukhan; QS. Al-Jatsiyah; dan QS.Al-Ahkaf; (طه) (QS. Thaha); (طس) (QS. Al-Naml); dan (يس) (QS. Yasin).

3)    Kelompok yang terdiri dari tiga huruf, yakni (الم) QS. Al-Bqarah, QS. Ali Imran, QS. Al-Ankabut, QS. Al-Rum, QS. Luqman dan QS. Al-Sajdah); (الر) (QS. Yunus, QS. Hud, QS. Ibrahim, QS. Yusuf, dan QS. Al-Hijr, dan (طسم) (QS. Al-Qashash dan QS. Al-Syu’ara).

4)           Kelompok yang terdiri dari empat huruf, yakni (المر) (QS. Al-Ra’ad) dan (المص) (QS. Al-A’raf).

5)           Kelompok yang terdiri dari lima huruf, yakni rangkaian ((كهيعص (QS. Maryam) dan (حم عسق) (QS. Al-Syuara).

  1. Pembukaan dengan panggilan (al-istiftah bi al-nida).

Nida ini ada tiga macam, yaitu nida’ untuk nabi, nida untuk kaum mukminin dan nida untuk umat manusia.

  1. Pembukaan dengan kalimat (jumlah) khabariah (al-istiftah bi al-jumal al-khabariayyah).

Jumlah khabariyyah di dalam pembukaan surat ada dua macam, yaitu:

1)             Jumlah ismiyyah

Jumlah ismiyyah yang menjadi pembuka surat terdapat 11 surat, yaitu: (a) (براءة من الله ورسوله) (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan rasul-Nya (QS. Al-Taubah); (b) (سورة انزلناها وفرضناها) (ini adalah) satu surat yang Kami nuzulkan dan kami wajibkan (QS. Al-Nur); (c) (تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم) /Kitab Alquran ini dinuzulkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Zumar); (d) (الذين كفروا زصلوا عن سبيل الله) (orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia), dari jalan Allah), (QS. Muhammad); (e) (ان فتحنالك فتحا مبينا) / Sunngguh kami telah, memberikan keapdamu kemenangan yang nyata (QS. Al-Fath); (f) (الرحمان علم القران) /Alah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan, (QS. Al-Rahman); (g) (الحاقة ماالحاقة) / Kiamat, apakah hari kiamat itu? (QS. Al-Haqqa); (h) (ان ارسلنانوحا الي قوم) /Sungguh telah mengutus Nuh kepada kaumnya (QS. Nuh) ; (i) (انا انزلنه في ليلة القدر) /Sungguh telah menurunkannya (Alquran) pada malam al-Qadr (QS. Al-Qadr); QS. Al-Qadr; (j) (القارعة ما القارعة) /Hari Kiamat, apakah Hari kiamat itu?(QS. Al-Qari’ah); (k) (انا اعطيناك الكوثر) /Sungguh kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (QS. Al-Kawtsar).

2)            Jumlah fi’liyah

Jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat-surat Alquran terdapat dalam 12 surat, yaitu (a) (يسئلونك عن الانفال) /Mereka bertanya kepadamu tentang pendistribusian harta rampasan perang (QS. Al-Anfal); (b) (اتي امرالله فلا تستعجلوه) /Telah pasti datangnya ketetapan Allah itu, maka janganlah minta disegerakan (QS. Al-Nahl), (c). (اقترب للناس حسابهم) /Telah dekat datangnya saat itu (QS. Al-Qamar); (d) (قدافلحل المئمنون) /Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (QS. Al-Mukminun; (e) (اقتربت الساعة) /telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalam mereka (QS. Al-Anbiya); (f) (قدسمع الله قول التي تجادلك) /Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpanya (QS. Al-Ma’arij); (g) (لاقسم بيوم القيامة) /Aku bersumpah dengan hari kiamat (QS. Al-Qiyamah); (h) (لااقسم بهذا البلاد) /Aku bersumpah dengan kota ini, Makkah (QS. Balad); (i) (عبس وتولي) /Dia (Muhammad) bermuka Masam dan berpaling (QS. ‘Abasa) (j) (لم يكن الذين كفروا من اهل الكتاب) /Dia Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan agamanya (QS. Al-Bayyinah); (k) (الهاكمتكاثر) /Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (QS. Al-Takatsur).

Adapun hikmah dan rahasia adanya pembukaan surat-surat dengan nida’ yaitu untuk memberi perhatian dan peringatan, baik bagi Nabi, umatnya, maupun untuk menjadi pedoman kehidupan ini.

  1. Pembukaan dengan sumpah (al-istiftah bi al-qasam).

Sumpah yang digunakan dalam pembukaan surat Al-quran ada tiga macam dan terdapat dalam 15 surat.

1)            Sumpah dengan benda-benda angkasa, misalnya (والصفات) (Demi rombongan yang bersaf-saf) dalam QS. Al-Shaffat; (والنجم) (Demi bintang) dalam surat al-Najm; (والمرسلات) (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa) dalam QS. Al-Nai’at; (والسماء ذات البروج) (Demi lagit yang memiliki gugusan bintang) dalam QS. Al-Buruj; (والسماء و الطارق) (Demi langit dan yang datang pada malam harinya) dalam QS al-Thariq; (والفجروليال عشر) (Demi fajar dan malam yang sepuluh) dalam QS. Al-Fajr; dan (والشمس والضحها) (Demi matahari dan cahanyanya di waktu duha) dalam QS. Al-Syams.

2)            Sumpah dengan benda-benda bawah, misalnya (والذاريات ذروا) (Demi angin yang menerbangkan debu dengan sekuat-keuatnya) dalam QS. Al-Dzariyyat; (والطور) (Demi bukit Thur) dalam QS. Al-Thur; (والتين) (Demi buah Tin) dalam QS. Al-Thin; (والعاديت) (Demi kuda perang yang berlari kencang) dalam QS. Al-‘Adiyat.

3)            Sumpah dengan waktu, misalnya (واليل) (Demi malam) dalam QS. Al-Layl; (والضحي) (Demi waktu duha) dalam QS. Al-Dhuha; (والعصر) (Demi waktu) dalam QS. Al-Ashr.

Hikmah dari fawatih al suwar dengan sumpah ini, pertama, agar manusia meneladani sikap bertanggung jawab; berbicara harus benar dan jujur dan berani berbicara untuk menegakkan keadilan; kedua, agar dalam bersumpah manusia harus senantiasa memakai nama-nama Allah bukan selain-Nya; ketiga, digunakannya beberapa benda sebagai sumpah Allah dimaksudkan agar benda-benda itu diperhatikan manusia dalam rangka mendekatkan diri keapda Allah, karena pada dasarnya, benda-benda itu ciptaan Allah.

  1. Pembukaan dengan syarat (al-istiftah bi al-syarth).

Syarat yang digunakan dalam pembukaan surat Al-Quran ada dua macam dan digunakan dalam 7 surat, yakni: (1) (إذا الشمس كوّرت) / Apabila matahari digulung dalam QS. Al-Takwir; (2) (إذا الشماء انفطرت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Infithar; (3) (إذالشماء انشقت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Insyiqaq, (4) (إذا واقعت الواقعة) /Apabila terjadi hari kiamat , dalam QS. Al-Waqi’ah; (5) (إذا جاءك المنافقون) /Apabila orang-orang munafik datang kepedamu, dalam QS. Al-Munafiqun; (6) (اذا زلزلت الارض زلزالها) /Apabila bumi dogoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dalam QS. Al-Zaljalah; (7) (اذاجاءنصرالله والفتح) /Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dalam QS. Al-Nashr.

  1. Pembukaan dengan kata kerja perintah (al-istiftah bi al-amr)

1)            Dengan (اقرأ) bacalah, yang hanya terdapat dalam QS. Al-Alaq

2)            Dengan (قل) katakanlah, yang terdapat dalam QS al-Jin, QS. Al-Kafirun, QS. Al-Falaq dan QS. Al-Nas.

  1. Pembukaan dengan pertanyaan (al-istiftah bi al-istifham)

Bentuk pertanyaan ini ada dua macam yaitu:

1)            Pertanyaan, positif yang pertanyaan dengan menggunakan kalimat positif. Pertanyaan ini digunakan dalam 4 pendahuluan surat Alquran, yaitu: (هل اتى على الانسان حين من الدهر) Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa dalam QS. Al-Dahr, (عم يتسآءلون . عن النبإ العجيم) Tentang apakah mereka saling bertanya tentang berita yang besar, dalam QS al-Naba, (هل اتاك حديث الغاشية) Sudah datangkah kepadamu berita tentang hari pembalasan? Dalam QS. Al-Ghasyiyah, (ارايت الذي يكذب بالدين) Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama? Dalam QS. Al-Ma’un.

2)                 Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat negatif, yang hanya terdapat dalam dua surat, yakni (الم نشرح لك صدرك) Bukankah kami telah melapangkan dadamu untukmu, dalam QS. Al-Insyirah dan (الم تركيف فعل ربك بأصحب الفيل) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah dalam QS. Al-Fil.

  1. Pembukaan dengan doa (al-istiftah bi al-du’a)

Pembukan dengan doa ini terdapat dalam tiga surat. Yaitu: (ويل للمطففين) Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang, dalam QS. Al-Muthaffifin, (ويل لكل همزة لمزة) Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela dalam QS. Al-Humazah, (تبت يدآ أبي لهب وتبّ) Binasalah tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa dalam QS. Al-lahab.

  1. Pembukaan dengan alasan (al-istiftah bi al-ta’lil)

Pembukan dengan alasan ini hanya terdapat dalam QS. Al-Quraisy (لإيلف قريش) Karena kebiasaan orang-orang Quraisy[12].

IV.        Pendapat Ulama’

Ketika akan membicarakan fenomena potongan huruf-huruf hijaiyah yang terdapat dalam al-Qur’an, dapat dikatakan bahwa tidak ditemukan orang Arab yang mengenal ataupun menggunakan gaya bahasa seperti itu dalam permulaan ucapan mereka. Begitu juga, kita tidak menemukan satu makna pun bagi huruf-huruf tersebut selain penyebutannya dalam huruf-huruf hijaiyah. Bahkan tidak ditemukan satu pun hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah S.A.W. mengenai tafsir huruf-huruf tersebut yang dapat dijadikan pegangan.

Barangkali inilah yang menjadi pemicu banyaknya pendapat para ulama dan perbedaan sudut pandang di antara mereka tentang penafsiran huruf-huruf tersebut.

Secara ringkas, pendapat para ulama dapat dikemukakan ke dalam tiga sudut pandang utama, yakni :

  1. Penafsiran yang memandang huruf-huruf tersebut masuk ke dalam kategori ayat-ayat mutasyabihat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah SWT.
  2. Penafsiran yang memandang huruf-huruf itu sebagai singkatan untuk kata-kata atau kalimat tertentu.
  3.  Penafsiran yang memandang huruf-huruf  itu bukan merupakan singkatan, tetapi mengajukan sejumlah kemungkinan tentang penafsiran maknanya[13] sebagaimana akan dijelaskan nantinya.

Pandangan kelompok pertama yang diwakili oleh para ulama salaf, dalam menyikapi huruf-huruf hijaiyah yang terletak pada awal surah sebagai ayat-ayat mutasyabihat, berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut telah tersusun sejak azali sedemikian rupa, melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkan yang seperti al-Qur’an.[14] Karena kehati-hatiannya, mereka tidak berani memberi penafsiran terhadap huruf-huruf itu, dan berkeyakinan bahwa Allah Swt sendiri yang mengetahui tafsirnya. Hal ini menjadi suatu kewajaran yang berlaku bagi ulama salaf karena mereka dalam hal teologi pun menolak untuk terlibat dalam pembahasan tentang hal-hal yang menurut mereka tidak dapat dilampaui oleh akal manusia.[15]

Al-Sya’bi (w.104 atau 105 H.) sebagaimana yang dikutip oleh Hasbi al-Shiddieqy menegaskan bahwa; “Huruf awalan itu adalah rahasia al-Qur’an”.[16] Dasar argumentasinya adalah karena hal tersebut dipertegas oleh perkataan Abu Bakar al-Shiddiq, bahwa:

فى كل كتاب سر وسره فى القران أوائل السور

“Di tiap-tiap kitab, ada rahasianya. Rahasia dalam al-Qur’an, ialah permulaan-permulaan surat.”

Ali bin abi Thalib juga pernah berkata:

إن لكل كتاب صفوة وصفوة هذا الكتاب حروف التهجي

“Sesungguhnya bagi tiap-tiap kitab ada saripatinya, saripati al-Qur’an ini ialah huruf-huruf hijaiyah”.

Demikian pula ahli-ahli hadis menukilkan dari Ibnu Mas’ud (w. 32 H./6523 M.) dan empat Khulafa al-Rasyidin, bahwa mereka berkata:

إن هذه الحروف علم مستور وسرّ محجوب استأثره الله به

“Sesungguhnya huruf-huruf ini, adalah ilmu yang tersembunyi dan rahasia yang terdinding, yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya”.

Karenanya, ulama-ulama yang memaknakan fawatih al-suwar ini, tidak berani memberikan pendapat secara pasti, mereka hanya menyerahkan penafsirannya yang hakiki kepada Allah SWT.

Kelompok kedua, yang memandang huruf-huruf hijaiyah pada fawâtih al-suwar itu unjuk sebagai singkatan untuk kata-kata atau kalimat tertentu, mengajukan penafsiran yang bervariasi tentang kepanjangan huruf-huruf tersebut.

Ibnu Abbas (w. 68 H.), misalnya, diriwayatkan dari padanya bahwa ia berpendapat tentang    الم, Alif menunjuk kepada Ana, lam menunjuk kepada Allah dan Mim menunjuk kepada A’lam (u) sehingga maknanya   انا الله أعلم  )Aku adalah Allah lebih mengetahui), adapun   المص adalah dari  انا الله افصّل  (Aku adalah Allah akan menjelaskan segala sesuatu), dan tentang الر     bermakna انا الله أرى  (Aku adalah Allah, Aku melihat).[17]

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa tentang كهيعص  ia berkata: الكاف  dari كريم  (Yang Maha Mulia), الهاء  dari هاد  (Memberi Petunjuk), الياء  dari حكيم  (Yang Maha Bijaksana), العين  dari عليم  (Yang Maha Mengetahui) dan الصّاد dari صادق  (Yang Maha Benar).[18] Diriwayatkan pula daripadanya bahwa ia berkata: ن، حم، الر adalah huruf-huruf terpisah dari الرحمن.[19]

Al-Suyuti menerangkan pula-sebagaimana yang dikutip oleh Hasbi al-Shiddieqy, bahwa sebagian dari huruf-huruf tersebut adalah nama Allah, seperti: ق,  طسم, .المص Demikian pula dari Salim Abd Ibn Abdillah, ia berkata:حم، الم    dan ن  dan seumpamanya adalah nama Allah Swt yang dipisah-pisah.[20]

Kelompok ketiga, berpendapat bahwa “huruf-huruf potong” yang terdapat pada permulaan sejumlah surah al-Qur’an itu bukanlah singkatan-singkatan untuk kata atau kalimat tertentu. Tetapi sehubungan dengan makna huruf-huruf tersebut, kelompok ini juga mengajukan kemungkinan-kemungkinan penafsiran yang bervariasi.

Huruf-huruf itu merupakan huruf-huruf misterius yang secara tidak jelas merujuk kepada nama-nama nabi, nama-nama bagi al-Qur’an, dan mana-nama bagi surah yang memuatnya, seperti الم   adalah nama bagi surah al-Baqarah, كهيعص  adalah nama bagi surah Maryam, ن  adalah nama surah al-Qalam, dan seterusnya. Pendapat ini dipilih oleh kebanyakan ulama kalam, dan sekelompok ulama bahasa, dan dibenarkan oleh Syekh Thusi serta dikuatkan oleh al-Tabari (224-310 H.).

Ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf tersebut merupakan tanda-tanda mistik dengan makna simbolik yang didasarkan pada nilai-nilai numeric alphabet Semitik Utara, misalnya: الم  (1+30+40=71); المص )1+30+40+60=131); الر  (1+30+200=231); المر (1+30+40+200=271), dan lain-lain, dimana angka-angka ini menunjukkan usia umat Nabi Muhammad SAW.[21] Pendapat ini selanjutnya dikomentari oleh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M.) dalam tafsir al-Manarnya sebagaimana yang dikutip oleh Baqir Hakim- bahwa: “Pendapat yang paling lemah mengenai huruf-huruf ini dan yang paling tidak masuk akal adalah bahwa jumlah hitungan angkanya mengisyaratkan umur ini atau yang serupa dengan itu”.

Kelompok Syi’ah berpendapat bahwa jika huruf-huruf awalan itu dikumpulkan dengan mengesampingkan perulangannya, maka akan menjadi suatu kalimat yang berbunyi:

صرط على حق نمسكه(Jalan yang ditempuh Ali adalah kebenaran yang kita pegangi). Tampaknya pemahaman ini bertujuan untuk memperkuat dakwaan mereka bahwa Ali sebagai imam mereka.

Karena itu pula, sebagian ulama Sunni membantahnya dengan menyusun kalimat yang mengandung pengertian yang memihak kepada Sunni dari huruf-huruf yang sama, menjadi: صحّ طريقك مع السنّة   (Telah benar jalanmu bersama sunnah).

Pendapat lain mengemukakan bahwa huruf-huruf itu merupakan tanbih, media untuk membangkitkan perhatian Rasulullah SAW. kepada apa yang disampaikan kepadanya di kala beliau dalam keadaaan sibuk misalnya. Demikian yang diungkapkan oleh Khuwaibi.[22]  Atau untuk mempesonakan bagi yang mendengarkannya (kaum musyrikin mekah dan ahli kitab di madinah) sehingga lebih menaruh perhatian kepada Risalah Allah SWT. yang disampaikan Rasulullah SAW. Sebagaimana yang diungkapkan Rasyid Ridha. Pendapat ini pula yang diungkapkan  oleh Fakhruddin al-Razy (543-606 H.) dan al-Zamakhsyari (467-538 H.).

Penafsiran-penafsiran yang muncul belakangan mengenai masalah ini dapat dikatakan belum keluar dari gagasan-gagasan klasik tersebut. Al-Suyuthi, sebagaimana dikutip oleh Taufik Adnan Amal, setelah mendiskusikan berbagai pandangan tentang makna fawatih al-suwari ini, menyimpulkan bahwa fawatih al-suwar ini adalah huruf-huruf atau symbol-simbol misterius yang makna hakikinya hanya diketahui oleh Allah SWT. Jadi, al-Suyuthi pada prinsipnya mengikuti sudut pandang kelompok pertama; dan pendapat semacam ini masih tetap dipegang teguh sejumlah mufassir modern.

M. Quraish Shihab, dalam kitab tafsirnya “Al-Misbah”menyatakan bahwa fawatih al-suwar ini merupakan isyarat bahwa kitab suci al-Qur’an ini menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang digunakan orang-orang Arab, namun demikian mereka tidak mampu membuat sesuatu yang serupa.[23] Fawatih al-Suwar ini juga menggugah perhatian orang yang mendengarnya, di samping sebagai salah satu bukti kemukjizatan al-Qur’an.[24] Sehubungan dengan hal ini, Yusuf al-Qardhawi sebagaimana dikutip oleh M.Quraish Shihab dalam tafsirnya atas surah al-Ra’d menulis bahwa memang bacaan huruf-huruf tersebut mempunyai langgam tersendiri yang dapat berpengaruh, bahkan menurut al-Qardhawi, beberapa orang temannya menyampaikan kepadanya bahwa sementara pakar dari Barat dalam bidang musik memeluk Islam setelah mendengar huruf-huruf tersebut dan bahwa sebagian di antara mereka menemukan sesuatu yang janggal pada beberapa surah yang dimulai dengan huruf fonetis itu, tetapi kemudian mengetahui bahwa kejanggalan itu lahir dari cara membacanya yang keliru. Dia tidak membacanya secara terputus-putus tetapi membacanya secara terpadu. Al-Qardhawi juga menyebutkan bahwa dia memperoleh informasi dari beberapa temannya yang mengelola Rumah Sakit “Akbar” di Panama City, Amerika, bahwa al-Qur’an mempunyai pengaruh positif terhadap oang-orang sakit, baik muslim maupun non muslim, baik yang mengerti bahasa Arab maupun tidak.[25] Dari fenomena ini terlihat bagaimana al-Qur’an menunjukkan kemukjizatannya dapat mempengaruhi psikis seseorang yang mendengarnya.

Salah satu pendapat terbaru adalah yang dikemukakan Rasyad Khalifah sebagaimana yang dikutip M.Quraish Shihab-bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat tentang huruf-huruf yang terbanyak dalam surah-surahnya. Dalam surah al-Baqarah, huruf terbanyak adalah alif, kemudian lam dan mim. Demikian juga pada surah-surah yang lainnya, masing-masing sesuai dengan huruf-huruf yang disebut pada awalnya, kecuali surah Yasin. Kedua huruf yang dipilih pada surah tersebut adalah huruf paling sedikit digunakan oleh kata-kata surah itu. Ini karena huruf ya’ (ي) dalam susunan alphabet Arab berada sesudah huruf sin (س) sehingga kedua huruf itu mengisyaratkan huruf yang terbanyak, tetapi yang paling sedikit.[26] Tentunya perlu penelitian yang seksama sebelum membenarkan teori ini.

Mencermati berbagai pandangan para ulama ataupun mufassirin dalam memaknakan fawatih al-suwar yang mengawali ke 29 surah ini dan juga mencermati ke-29 surah yang diawali dengan fawatih al-suwari ini pada umumnya ayat-ayatnya adalah ayat-ayat Makkiyah yang turun sebelum Nabi hijrah ke Medinah-hanya dua surah yang turun di medinah (Q.S. al-Baqarah/2) dan Q.S. Ali-Imran/3), dimana kehidupan nabi bersentuhan langsung dengan kehidupan kaum musyrikin atau kaum kafir Quraisy yang dalam sejarah menentang risalah yang dibawa nabi dan sekaligus meragukan kebenarannya.

Kedua, ke 29 surah ini pada umumnya mengusung tema pokok tentang ketauhidan dan argumentasi akan kebenaran al-Qur’an bagi mereka yang meragukan al-Qur’an sekaligus tantangan bagi kaum musyrikin untuk membuat semisal al-Qur’an memang meragukannya. Ketiga, huruf-huruf hijaiyah yang mengawali ke 29 surah al-Qur’an ini adalah berjumlah 14 huruf dengan mengabaikan perulangannya, separuh dari jumlah huruf ejaan hijaiyah, dan angka 29 surah merupakan jumlah huruf hijaiyah (jika dimasukkan huruf hamzah), dan mewakili setiap jenis huruf. Keempat, Dari ke 29 surah tersebut itu pula didapati bahwa pada ayat-ayat awal setelah fawatih al-suwari ini pada umumnya merujuk kepada al-Kitab, al-Qur’an atau wahyu, hanya 3 surah yang tidak memiliki rujukan semacam ini (Q.S. Maryam/19, al-‘Ankabut/29, al-Rum/30.

Dari beberapa indikasi tersebut maka penulis lebih condong kepada pendapat bahwa fawatih al-suwar ini dimaksudkan untuk menjadi salah satu bukti akan keotentikan, kebenaran dan kemukjizatan al-Qur’an sekaligus untuk menunjukkan kelemahan kaum musyrikin di hadapan al-Qur’an, oleh karena al-Qur’an yang diturunkan dengan memakai huruf-huruf dan bahasa yang mereka kenal bahkan mereka pergunakan sehari-hari akan tetapi mereka tidak mampu-bahkan tidak akan pernah mampu sampai kapanpun untuk membuat semisal al-Qur’an.

Berbagai gagasan tafsir tersebut di atas, baik gagasan dasar yang diletakkan para mufassir klasik maupun mufassir modern, meski  sangat variatif, namun gagasan-gagasan tersebut sama sekali tidak keluar dari konsepsi dasar bahwa huruf-huruf tersebut merupakan bagian dari al-Qur’an yang diterima Rasulullah SAW.

Namun tidak demikian  halnya bagi para sarjana Barat yang mulai berupaya mengungkap tabir misteri huruf-huruf tersebut. Theodore Noeldeke dapat dipandang sebagai sarjana Barat pertama yang mengajukan gagasan spekulatif mengenai huruf-huruf tersebut. Sebagaimana yang dikutip oleh Taufik Adnan Amal, menurut Noeldeke, huruf-huruf tersebut tidak berasal dari Rasulullah, namun lebih mencerminkan inisial atau monogram pemilik-pemilik naskah al-Qur’an yang digunakan Zayd Ibn Tsabit ketika pertma kali mengumpulkan al-Qur’an. Misalnya; الر  inisial dari Zubayr bin Awwam, المر dari al-Mughirah, طه  dari Thalhah Ibn Ubaydillah, حم  dan ن  dari Abd al-Rahman bin Auf, huruf tengah dari kelompok كهيعص  merupakan singkatan dari kata Ibn, sedangkan dua huruf terakhir adalah singkatan dari al-Ash; dan lain-lain.[27] Gagasan ini selanjutnya didukung dan dikembangkan oleh Hirschfeld,[28] Gagasan Noeldeke ini tidak saja sangat spekulatif tapi juga jauh menyimpang dari kebenaran.

Terlepas dari pandangan Noeldeke dan para sarjana Barat lainnya, terdapat konsepsi dasar bagi kaum muslimin meskipun mereka melakukan penafsiran yang beragam terhadap fawatih al-suwari ini, adalah mereka tidak berbeda bahwa huruf-huruf tersebut merupakan bagian dari al-Qur’an, wahyu yang dibawa Rasulullah SAW. Mereka kemudian berbeda pendapat    dalam menempatkannnya sebagai sebuah ayat yang tersendiri dalam surah-surah tersebut, sebagaimana halnya basmalah. Hal ini kemudian berimplikasi pada perbedaan penghitungan tentang jumlah ayat dalam al-Qur’an. Orang-orang Madinah menghitung 6214 ayat yang terdapat dalam al-Qur’an, orang-orang Makkah menghitung sejumlah 6219 ayat, orang-orang Kufah sejumlah 6263 ayat, orang-orang Bashrah sejumlah 6204 ayat, dan orang-orang Siria (Syam) sejumlah 6225, ayat. Tetapi dalam mushaf Usmani edisi standar Mesir, yang menjadi panutan sebagian besar dunia Islam dewasa ini, ayat al-Qur’an seluruhnya dihitung 6236 ayat.[29] Berbagai perbedaan dalam penghitungan ayat ini tentunya tidak mengimplikasikan perbedaan kandungan al-Qur’an untuk setiap sistem penghitungannya.

Imam al-Zamakhsyari (467-538 H.) mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh al-Suyuthi dalam kitabnya “al-Itqan”, bahwa ayat adalah isim ‘alam (suatu istilah) yang bersifat tauqifi, yang tidak ada qiyas di dalamnya. Karenanya, mereka menganggap الم  sebagai sebuah ayat dalam al-Qur’an, demikian pula dengan المص. Tetapi mereka tidak menganggap المر  dan   الر sebagai ayat. Mereka juga menganggap  حم sebagai sebuah ayat tersendiri dalam surah, demikian juga  طهdan يس, tetapi tidak menganggap طس  sebagai ayat.[30]

Begitu pula apa yang dikemukakan oleh Masyfuk Zuhdi, bahwa para ulama menghitung المص  satu ayat, tetapi mereka tidak menghitung المر  satu ayat. Demikian juga mereka menghitung يس  satu ayat, tetapi mereka tidak menghitung طس  sebagai ayat. Mereka juga menghitung حمعسق  dua ayat, tetapi mereka tidak menghitung كهيعص  dua ayat, padahal serupa.[31]

Al-Suyuthi menyatakan bahwa di antara dalil yang menunjukkan bahwa hal itu tauqifi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya melalui jalan periwayatan ‘Ashim bin Abi al-Nujud, dari Zir, dari Ibnu mas’ud, ia berkata:

اقرأني رسول الله صلى الله عليه وسلم سورة من الثلاثين من ال حم قال يعنى الأحقاف وقال كانت السورة اذا كانت اكثر من الثلاثين اية سمّيت الثلاثين

“Rasulullah Saw telah membacakan surat kepadaku dari ats-Tsalaatsiin, dari alif lam Ha Mim. Ia (Ibnu Mas’ud) berkata: yaitu surat al-Ahqaf. Dan berkata: dahulu jika ada surat yang ayatnya lebih dari tiga puluh dinamakan ats-Tsalaatsin

Begitu pula hadis yang dikemukakan oleh Ibnu Araby, bahwa:

ذكر النّبيّ صلّى اللّه عليه وسلّم أن الفاتحة سبع ايات وسورة الملك ثلاثون اية

“Nabi Saw pernah menyebutkan bahwa surat al-Fatihah itu tujuh ayat dan surat al-Mulk itu tiga puluh ayat”.

Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa menentukan ayat itu berdasarkan dua sifat yaitu tauqifi dan qiyas atau ijtihad, karena ketentuan suatu ayat adalah terletak pada fasilahnya.[32]

Perbedaan penghitungan ayat, selain dikarenakan perbedaan dalam penetapan basmalah sebagai ayat atau bukan dan fawatih al-suwar sebagai ayat-ayat terpisah atau tersendiri, pada hakekatnya juga disebabkan oleh perbedaan dalam menentukan apakah rima telah menandakan berakhirnya suatu ayat atau masih berlanjut, atau dengan kata lain, perbedaan dalam penetapan ra’sul ayah (kepala ayat) dan fashilah. Hal ini terjadi akibat adanya kenyataan bahwa rima di dalam al-Qur’an sebagian besarnya dihasilkan lewat penggunaan bentuk-bentuk atau akhiran-akhiran gramatikal yang sama. Demikian pula tanda wakaf sebagai tempat berhenti, ada yang menganggap pemberhentian itu bukanlah koma, tetapi memang benar-benar berhenti.

Dalam beberapa surah, yang pada umunya merupakan surah-surah panjang, ayatnya panjang dan menggugah; sementara dalam surah-surah pendek, ayatnya pendek, tetapi padat dan mengena.

Memang terdapat pengecualian terhadap generalisasi semacam ini, misalnya Q.S. al-Syu’ra/26 yang terhitung panjang, memiliki 200 ayat pendek, sementara Q.S. al-Bayyinah/98 yang terhitung pendek, berisi 8 ayat panjang, tetapi secara keseluruhan itulah gambaran umum ayat-ayat al-Qur’an.

 V.           Penutup

Fawatih al-suwar adalah huruf-huruf hijaiyah yang dibaca sendiri-sendiri sesuai dengan hurufnya, yang menempati awal surah dari 29 surah yang terdapat dalam al-Qur’an. Ada 13 bentuk fawatih al-suwar yakni: كهيعص، طسم، المص، المر، الر، الم، يس، حم، طس، طه،ص، ن، ق  yang terbagi atas 5 macam: (a). awalan yang terdiri atas satu huruf, terdapat pada 3 surah; Q.S. 38,50,68; (b). Awalan yang terdiri dari dua huruf, terdapat pada 10 surah; Q.S. 20,27,36,40, sampai dengan 46. (c) Awalan yang terdiri dari 3 huruf, terdapat pada 13 surah; Q.S. 2,3,29,30,31,32,10,11,12,14,15,26,28. (d). Awalan yang terdiri dari 4 huruf terdapat pada 2 surah; Q.S. 7 dan 13 (e). Awalan yang terdiri dari 5 huruf terdapat pada 1 surah; Q.S. 19.

Terdapat berbagai pandangan ulama tentang fawatih al-suwar tersebut, namun secara garis besar dapat dilihat dari 3 sudut pandang utama yakni; (a) Ulama salaf dan para mufassir pada umumnya menganggap fawatih al-suwar ini termasuk dalam ayat-ayat mutasyabihat, yang makna hakikinya hanya diketahui oleh Allah Swt. Dan menjadi bukti kebenaran dan kemukjizatan al-Qur’an, (b) Pandangan yang memaknakan fawatih al-suwar sebagai singkatan dari kata-kata atau kalimat tertentu, seperti Ibnu Abbas yang menafsirkan sebagai singkatan dari sifat-sifat Allah, (c). Pandangan yang menafsirkan bukan sebagai singkatan untuk kata-kata atau kalimat tertentu, namun dengan penafsiran yang beragam, seperti untuk nama nabi, nama surah, nama al-Qur’an bahkan menyusunnya sebagai sebuah kalimat yang tendensius. Beragamnya penafsiran tersebut, namun tetap pada konsensus dasar bahwa fawatih al-suwar adalah bagian dari al-Qur’an, wahyu yang dibawa Rasulullah Saw meski terdapat perbedaan dalam menempatkannya sebagai ayat yang terpisah atau tersendiri.

Penting untuk diketahui bahwa dengan membahas fawatihus suwar ini yang mempelajari akan huruf-huruf mistis dalam alqur’an setiap orang akan berusaha untuk menafsirkan akan makna apa yang terkandung didalamnya.hal yang demikian tersebut memberikan udara pemikiran yang berbeda dan bersifat kontinuitas karena penggalian makna yang tidak bersifat  dogmatis.pemahaman yang berbeda ini  disebabkan perbedaan setiap orang dalam  menanggapi sebuah gambaran inderawi.


DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an Karim

Al-Abyari, Ibrahim, Tarikh al-Qur’an, diterjemahkan oleh Hj.St. Amanah dengan judul Sejarah Al-Qur’an, Cet. I, Semarang: Dina Utama, 1993.

Ali, H. A. Mukti, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam, tc., Yogyakarta:   Mizan, 1993.

al-Hasni, Mahmud bin Alawi al-Maliki, Mutiara Ilmu-ilmu Al-Quran, Bandung, Pustaka Setia, 1998.

Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, tc., Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001.

Anwar, Abu, Ulumul Qur’an: Sebuah Pengantar, Cet. III; Jakarta: Amzah, 2009.

Bell, Richard, Bell’s Introduction to The Qur’an, diterjemahkan oleh Taufik Adnan Amal dengan judul Pengantar Studi Al-Qur’an, Cet. II; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995.

Chirzin, Muhammad, Al-Quran dan Ulumul Qur’an, Yogyakarta, PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998.

Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan terjemahnya, Cet. X; Bandung: CV, Diponegoro, 2004.

Hakim, Muhammad Baqir, Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Nashirul Haq, et. Al. dengan judul Ulumul Quran, Cet. III; Jakarta: Al-Huda, 2006.

Hidayat, Rachmat Taufiq, Khazanah Istilah al-Qur’an, Cet. V, Bandung: Mizan, 1995.

Iqbal, Mashuri Sirojuddin, dan A.Fudlali, Pengantar Ilmu Tafsir, tc., Bandung: Angkasa, t,th.

Al-Qattan, manna’ Khalil, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an,  diterjemahkan oleh Mudzakir AS dengan judul, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Cet.X; Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2007.

Al-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Ilmu-ilmu Alqur’an: Media-Media Pokok dalam menafsirkan al-Qur’an, Cet.II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1998.

——————-, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir, Cet. IX, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1986.

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat., Cet. VII; Bandung: Mizan, 1994.

——————, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Cet. VII, Jakarta: Lentera hati, 2007.

Al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Farikh Marzuki Ammar, et.al. dengan judul, Samudera Ulumul Qur’an, tc., Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset, t.th.

——————-, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Tim Editor Indiva dengan judul, Studi Al-Qur’an Komprehensif: Membahas al-Qur’an Secara Lengkap dan Mendalam, Cet. I, Solo: Indiva, 2008.

Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi’I, Ulumul Qur’an, Cet. I; Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997.

Zuhdi, Masyfuk, Pengantar Ulumul Quran, tc., Surabaya: Bina Ilmu, 1980.



[1]     Lihat: M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan Masyarakat. (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1994), h. 27.

[2]     Lihat : ibid., hal. 76

[3]     Lihat : ibid., hal. 78

[4]     Mengenai pengertian muhkam dan mutasyabih, terdapat beberapa defenisi, yang terpenting di antaranya sebagai berikut: (1) Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang mutasyabih hanyalah diketahui maksudnya oleh Allah Swt. (2). Muhkam adalah ayat yang hanya mengandung satu wajah, sedang mutasyabih mengandung banyak wajah. (3) Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memerlukan keterangan lain, sedang mutasyabih tidak demikian; ia memerlukan penjelasan dengan merujuk  kepada ayat-ayat lain. Lihat: Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Mudzakir AS dengan judul, Studi Ilmu-Ilmu  Qur’an (Cet. X; Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2007), h. 305-306.

[5]     Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.

[6]     Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

[7]     Issa J. Boullata, Al-Qur’an yang Menakjubkan, (Tangerang: Lentera Hati, 2008) h. 290-291.

[8]     Abu Anwar, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar (Cet III., Jakarta: Amzah, 2009), h. 89.

[9]     Lihat: Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (tc., Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001), h. 216.

[10]    Pembukaan-pembukaan surah al-Qur’an secara umum meliputi: (a) Pembukaan surah dengan lafal “pujian”, pada 14 surah; Lima surah dimulai dengan tahmid, yakni Q.S. al-fatihah, Al-An’am, Al-Kahfi, Saba’, Fâtir; Tujuh surah dimulai dengan tasbih dalam bentuk masdar, fiil madhi dan fiil mudhari’, yakni dalam Q.S. 17,57,59,61,62,64,87; dan dua surah diawali dengan “tabaraka”, yakni Q.S. 25, 67; (b). Pembukaan surah dengan lafal “seruan”, terdapat pada 10 surah, Satu surah dengan ungkapan “ya ayyahal-muzzammil”, Yakni Q.S. 73; satu surah dengan ungkapan “Ya ayyuhal-Muddassir” Yakni Q.S. 74; tiga surah dengan ungkapan “Ya ayyuhan-Nabiyyu, yakni Q.S. 83, 66, 86, dua surah dengan ungkapan ‘Ya ayyuihaa-Nas’, yakni Q.S. 4, 22: tiga surah dengan ungkapan Ya ayyuhal-ladzina Amanu, Yakni Q.S. 5, 49,60; (c).Pembukaan surah dengan jumlah khabariyyah (kalimat berita), terdapat pada 23 surah dalam bentuk fi’il madhiy, fi’il mudhariy, dan lainnya yakni; Q.S. 8,9,16,21,23,24,39,47,48,54,55,58,69,70,71,75,80,90,97,98,101,102, dan 108; (d). Pembukaan surah dengan “huruf sumpah”; terdapat pada lima belas surah yakni; Q.S. 37,51,52,53,77,79,85,89,91,92,93,95,100, dan 103; (e). Pembukaan surah dengan “kalimat syarat” terdapat pada tujuh surah, yakni; Q.S. 56,63,81,82,84,99, dan 110; (f). pembukaan surah dengan “kalimat  perintah”, terdapat pada enam surah, yakni; Q.S. 72,96,109,112,113, dan 114; (g). Pembukaan surah dengan “kalimat pertanyaan”, terdapat pada enam surah, yakni; Q.S 45,78,88,94,105, dan 107; (h).Pembukaan surah dengan lafal ‘kutukan’, terdapat tiga surah, yakni; Q.S.83,104, dan 111; (i). Pembukaan surah dengan lafal “karena” (ta’lil),terdapat pada satu surah huruf-huruf potong”, terdapat pada, yakni Q.S. 106.(j). Pembukaan surah dengan “huruf-huruf potong”, terdapat pada 29 surah, yakni; Q.S. 38,50,68,20,27,36,40,41,42,43,44,45,46,2,3,29,30,31,32,10,11,12,14,15,26,28,7,13, dan 19. Lihat Racmat Taufiq Hidayat, Khazanah Istilah Al-Qur’an (Cet. V, Bandung: Mizan, 1995), h. 176-178.

[11]    Lihat: Richard Bell, Bell’s Introduction to The Qur’an, diterjemahkan oleh Taufik Adnan Amal dengan judul Pengantar Studi Al-Qur’an (Cet. II; Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 1995), h. 97.

[12]   Supiana, M.Ag, M. Karman, M.Ag. Ulum Quran, (bandung: Pustaka Islamika: 2002), h.172-178.

[13]    Lihat: Taufik Adnan Amal, Op.Cit., h. 217

[14]    Lihat: T.M. Hasbi al-Shiddieqy, Op. Cit., h. 127.

[15]    Lihat: H.A. Mukti Ali, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam (tc., Yogyakarta: Mizan, 1993), h. 27.

[16]    T.M. Hasbi al-Shiddieqy, Loc. Cit.

[17]    Lihat: T.M. Hasbi al-Shiddieqy, Op. Cit., h. 131. Lihat pula: Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’I, Op. Cit., h 189. Baca pula: T.M. Hasbi al-Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir (Cet. IX, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1986), h. 59-60.

[18]    Lihat: Ibid., h. 60.

[19]    Lihat: Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’I, Op. Cit., h. 189-190.

[20]    Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’I, Op. Cit., h. 190. Baca pula: Ibrahim al-Abyari, Tarikh al-Qur’an, diterjemahkan oleh Hj. St. Amanah dengan judul Sejarah Al-Qur’an (Cet. I, Semarang: Dina Utama, 1993), h. 136-137.

[21]    Lihat: Taufik Adnan Amal, Op. Cit., h. 219.

[22]    Lihat: T.M. Hasbi al-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Op. Cit., h. 134.

[23]    Lihat: M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 12 (Cet.VII, Jakarta: Lentera hati, 2007), h. 282.

[24]    Lihat: Ibid., h. 374.

[25]    Lihat: Ibid, Vol. 6, h. 547.

[26]    Lihat: M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Vol. 1. Op. Cit., h. 86.

[27]    Baca selengkapnya pada: Taufik Adnan Amal, Op. Cit., h. 250-256.

[28]    Hirscfeld mengembangkan lebih jauh tentang inisial ini dengan menguraikan bahwa: ال  adalah kata sandang tertentu, م  adalah inisial untuk Mughirah,ص  untuk Hafshah, ر  untuk Zubayr, ك untuk Abu bakar al-Shiddiq, ـه  untuk Abu Hurairah, ن  untuk Usman bin Affan, ط  untuk Thalhah bin Ubaidillah, س  untuk Sa’d bin Abi Waqqash, ح  untuk Hudzaifah, ع  untuk Umar bin Khattab atau Ali bin Abi Thalib, atau Ibn Abbas atau Aisyah, dan ق  untuk Qasim ibn Rabi’ah. Lihat: Ibid, h. 251.

[29]    Lihat: Ibid., h. 221.

[30]    Lihat: Jalaluddin al-suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Tim Editor Indiva dengan judul, Studi Al-Qur’an Komprehensif: Membahas al-Qur’an Secara Lengkap dan Mendalam, Jilid I (Cet. I, Solo: Indiva, 2008), h. 275.

[31]    Lihat: Masyfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an (tc., Surabaya: Bina Ilmu, 1980), h. 138.

[32]    Fasilah ialah istilah yang diberikan kepada lafaz yang mengakhiri ayat, mempunyai nilai dan kesempurnaan makna dan pengaruh dalam susunan kalam. Lihat: Mashuri Sirojuddin Iqbal dan A.Fudlali, Pengantar Ilmu Tafsir (tc., Bandung: Angkasa, t,th.), h. 58

Share: