Feb 072013
 

Allah swt berfirman

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (٢٩)

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Fath: 29)

Walaupun ayat diatas pada zahirnya menjelaskan tentang keutamaan ruku dan sujud, namun tersirat pula di dalamnya tentang keutamaan kalimat Thayyibah, dan pada bagian kedua diterangkan tentang keutamaan kalimat Muhammadur Rasuulullaah.

Gedung WaserdaImam Razi rah.a. menulis, “Ketika perjanjian perdamaian Hudaibiyah sedang berlangsung, orang-orang kafir menolak nama “Muhammadur Rasuulullaah” ditulis dalam perjanjian itu. Mereka berkata, “Kami tidak mengakui Muhammad itu sebagai utusan Allah. Oleh karena itu, tulislah namanya seperti yang diketahui orang banyak, yaitu Muhammad bin Abdillah!” padahal Allah telah menjelaskan di dalam Al-Quran bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul-Nya. Apabila Allah swt sebagai Dzat yang mengutus Muhammad menyatakan bahwa beliau benar-benar pesuruh-Nya, walaupun semua orang mengingkarinya, maka apalah gunanaya semua itu? Sebagai bukti atas pernyataan di atas, maka Allah telah menurunkan surat Al-Fath ayat 29 yang menerangkan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Di samping itu, ayat diatas juga menerangkan beberapa hal penting diantaranya adalah kelebihan cahaya atau nur iman yang terlihat pada wajah orang-orang beriman. Para muffasir (ahli tafsir) berbeda pendapat dalam menanggapi kalimat itu. Sebagian muffasir menerangkan bahwa nur itu terdapat pada wajah orang-orang yang berjaga pada malam hari untuk beribadah kepada Allah, sehingga wajah mereka tampak bercahaya da nada keberkahan.

Imam Razi rah.a. menulis, “Sesungguhnya ada dua macam orang yang berjaga pada malam hari. Pertama, orang yang sibuk dengan kemaksiatan dan perbuatan sia-sia. Kedua, Orang yang sibuk dengan mengerjakan Shalat dan membaca Al-Quran serta mempelajari Ilmu agama. Nanti pada hari kiamat, cahaya pada kedua jenis orang itu tampak berlainan. Oranh yang sibuk dengan kemaksiatan dan kesia-siaan tidak akan sama dengan orang yang berdzikir dan bersyukur kepada Allah sepanjang malam.

Imam Malik rah.a. dan beberapa ulama lainnya mengatakan bahwa maksud ayat diatas adalah dalil bahwa orang yang menghina para sahabat r.a., membicarakan keburukan mereka, dan hasad kepada mereka, maka telah terjerumus kepada kekafiran (Ibnu Katsir, red).

[WARDAN/@abuadara]________________________

Disampaikan pada Talim Bakda Shalat ISya oleh Santri Kelas 6 TMI di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining pada hari Kamis Tanggal 7 Februari 2013.