Sep 122009
 

Di antara hal-hal penting yang Allah s.w.t. ingin hamba-hamba-Nya perhatikan dengan sungguh-sungguh adalah masalah pendidikan anak-anak mereka. Hal ini adalah perkara yang sulit dan berat, terlebih lagi di era (sekarang yang) penuh dengan godaan-godaan dan berbagai kontradiksi. Sementara itu anak-anak, sebagaimana telah dimaklumi, merupakan amanat di pundak para orang tua. Bahkan, Islam telah menjadikan kedua ibu bapak sebagai faktor esensial bagi kesalihan maupun kebejatan anak-anak, sebagaimana Islam menjadikan keduanya bertanggung jawab secara langsung terhadap masalah dimaksud.

DSC_1823Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w.: “Setiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhid, iman). Orang tuanyalah yang (potensial) menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”[1] Oleh karena itu tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak mereka amat besar. Mereka dituntut untuk bersungguh-sungguh mendidik, mengasuh, dan mengajar, serta memperhatikan anak-anak mereka sejak usia dini, baik dari segi agama (ibadah dan akidah), intelektualitas, mental, akhlak, maupun jasmani. Juga sikap istiqamah (konsistensi) terhadap kebenaran dan petunjuk agama yang lurus.

Anak bagaikan permata yang dapat diasah sesuka kita. Dan tiada sesuatu pun yang setara pentingnya bagi anak dibanding dengan ilmu dan adab. Dengan keduanya anak dapat memilah hal yang buruk dari yang baik, membedakan yang hak dari yang batil, mengenali kewajibannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan kewajibannya terhadap ummat dan tanah airnya. Dalam konteks ini Nabi s.a.w. bersabda: “Tiadalah pemberian orang tua yang lebih utama bagi anak mereka daripada pendidikan adab yang mulia (al-akhlaq al-karimah).”

Allah s.w.t. menjadikan pada diri manusia daya plastisitas (kemampuan menerima kebaikan maupun keburukan) yang didasari suatu hikmah (rahasia ilahi) yang Dia kehendaki atas mereka.

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan)”. (Q.S. Al-Balad [90]: 10).

Allah s.w.t. juga menjadikan orang tua wasilah bagi anak-anak untuk menerima kebenaran, sebagaimana sabda Rasul tersebut di muka.

Jika seorang anak berada di lingkungan rumah (keluarga) yang istiqamah (seluruh anggotanya berpegang teguh pada agama mereka dan akhlak mulia, kedua ibu bapaknya berkomitmen kepada ilmu, akhlak dan adab), niscaya ia tumbuh dan berkembang menjadi shalih dan istiqamah pula. Hal sebaliknya juga dapat terjadi.

DSC_1683Oleh karena itu Nabi s.a.w. memerintahkan para orang tua untuk melatih dan menganjurkan anak untuk taat dan berbuat yang ma’ruf. Rasulullah bersabda: “Suruhlah anak-anakmu untuk mendirikan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mengabaikannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah (tempat tidur) mereka.”[2]

Semuanya itu demi membiasakan anak-anak untuk berdisiplin. Rasulullah juga bersabda: “Jika seorang anak telah dapat membedakan tangan kanannya dari yang kiri maka suruhlah ia shalat.”[3] Ini adalah petunjuk Nabi s.a.w. bagi para orang tua dalam hal mendidik anak-anak mereka untuk beribadah, agar kelak mereka menjadi self disciplined dan merasa ringan menunaikan ibadah. Dikatakan Abul A’la: “Para pemuda itu tumbuh dan berkembang dengan perilaku yang telah dibiasakan oleh kedua ibu bapaknya. Pemuda tidak dapat ditaklukkan oleh akal semata, melainkan oleh pembiasaan beragama dari orang-orang terdekatnya.”

Pendidikan anak-anak merupakan kewajiban yang sulit dan berat, demikian pula mengajak mereka kepada kebaikan, dan mengarahkan mereka kepada amal shalih yang berguna dalam berbagai bidang kehidupan. Hanya orang-orang yang Allah berikan taufiq dan inayah atasnya sajalah yang dapat mengembannya dengan baik. Allah s.w.t. memerintahkan orang-orang beriman untuk memelihara diri dan keluarga mereka dari (siksa api) neraka,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka[4] yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Q.S. At-Tahrim [66]: 6)

Tanggung jawab para bapak terhadap anak-anak mereka besar, tetapi tanggung jawab para ibu lebih lebih berat dan penting. Sungguh indah kata mutiara Ahmad Syauqi: “Ibu adalah sekolah (utama). Jika engkau persiapkan dia dengan sungguh-sungguh, engkau telah mem-persiapkan (lahirnya) sebuah generasi bangsa yang harum namanya.”

Maka, jika ayah dan ibu bertolong-menolong dan serius dalam mendidik, mengasuh, dan mencurahkan perhatian, niscaya baiklah kehidupan anak-anak mereka, dan luruslah akhlak mereka. Kedua ibu bapak hidup berbahagia di dunia karena anak-anak berbakti, dan di akhirat dibalas dengan ganjaran yang lebih baik oleh Tuhan seru sekalian alam,

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[5], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka”. (Q.S. Ath-Thur [52]: 21).

Perkara melatih generasi muda (anak-anak dan remaja) untuk taat; mencintai kebaikan; suka beramal shalih; membaca al-Qur’an dan sunnah nabawiyah yang mulia; dan bergaul dengan ahli ilmu, kebajikan, dan takwa; sungguh adalah tanggung jawab yang berat, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.; “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas (rakyat) yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas mereka; dan istri adalah (juga) pemimpin di rumah suaminya, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Sungguh, setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”[6]

Beratnya tanggung jawab ini semakin kita rasakan pada era globalisasi ini. Hal mana pengaruh luar yang buruk, baik dari lingkungan masyarakat maupun dunia maya, dengan mudah menjalar dan meracuni generasi muda.

Ruang lingkup dan cakupan tanggung jawab dimaksud sangat luas, sebagaimana dikandung oleh ayat 6 surah At-Tahrim tersebut di muka. Hal ini berarti bukan hanya pendidikan profesional yang memungkingkan anak bekerja dan memperoleh penghidupan yang layak. Jauh di atas itu adalah pendidikan agama, yang dengannya anak dapat membina hablun min Allah secara benar dan baik.

Tanggung jawab (pendidikan anak) itu pertama-tama terletak di pundak para orang tua di rumah, kemudian pada para pendidik (guru), dan masyarakat. Keteladanan mereka harus dapat dirasakan oleh anak-anak. Semoga Allah s.w.t. memperbaiki keadaan kita, dan menunjuki kita kepada jalan-Nya yang lurus, dengan karunia dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Shalawat dan salam semoga senantiasa tecurah atas Rasulullah Muhammad, dan atas keluarga dan segenap sahabat beliau. Amin…

Setelah (dan sambil terus) kita tunaikan kewajiban mulia itu, marilah kita bertawakkal kepada Allah s.w.t. dan memanjatkan doa,

Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Furqan [25]: 74).[7]

Wallahu a’lam bish-shawab

Disampaikan Oleh : Ust, Mufti Abdul Wakil, S.Pd.I

Pada Khutbah Jum’at di masjid Darunnajah Cipining.


[1] Hadits muttafaq ‘alayh, dari Abu Hurairah r.a. Hal senada juga disebutkan di dalam Al-Qur’an, surah Ar-Rum [30]: 30.

[2] H.R. Abu Dawud dan Al-Hakim, dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a.

[3] H.R. Ath-Thabrany, dari Abdullah bin Habib.

[4] Menurut Sayidina Ali r.a. maksud ayat ini adalah “ajarkanlah kebaikan kepada dirimu dan keluargamu”. Hal senada diungkapkan oleh Muqatil. (Baca: Cara Nabi Mendidik Anak, oleh Ir. Muhammad ibnu Abdul Hafidh Suwaid, terjemahan Hamim Thohari, dkk., penerbit Al-I’tishom Jakarta (Cet. Ke-2, Juli 2008), hlm. 6.

[5] Maksudnya: anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya seperti derajat bapak-bapak mereka, dan dikumpulkan dengan mereka dalam surga.

[6] H.R. muttafaq ‘alayh, dari Ibnu Umar r.a.

[7] Doa-doa lain yang relevan dan mendukung, antara lain, dapat dibaca di dalam Al-Qur’an surah Asy-Syu’ara’ [26]; 83-85; Ash-Shaffat [37]: 100; Ibrahim [14]: 40; Al-Baqarah [2]: 128; Al-Ahqaf [46]: 15.