Usai mengunjungi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, rombongan pengurus Pesantren Darunnajah Cipining bergerak menuju Magelang Jawa Tengah. Perjalanan dimulai pukul 11.00 WIB (29 Juni 2010), diselingi ziarah ke makam Batu Ampar Pamekasan. Para guru shalat zhuhur (jama’ qashar dengan ashar) di masjid dekat komplek makam, dan kemudian berdoa di areal makam. Sore hari rombongan sampai di Surabaya. Kegiatan kali ini adalah ziarah ke makam Sunan Ampel. Setelah shalat maghrib (jama’ dengan isya’) di Masjid Ampel, para guru membaca kalimat thayyibah dan berdoa. Menjelang isya’ rombongan melanjutkan perjalanan ke Magelang.

Pagi hari, Rabu, 30 Juni 2010 rombongan tiba di kota Muntilan. Para peserta studi banding lalu beristirahat, mandi, dan sarapan sejenak di Masjid Jami’ Al-Mustaqiem. Adapun shalat subuh telah ditunaikan di daerah Sleman, Yogyakarta.

Ibarat pepatah “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, sehari empat pesantren sekaligus dapat dikunjungi pada tanggal 30 Juni 2010, yaitu: Pesantren Kanak-Kanak Al-Husain, Pesantren Pabelan, Pesantren Tidar, dan Pesantren Sirajul Mukhlasin. Tiga pesantren di wilayah Kabupaten Magelang, dan satu lagi di Kota Magelang.

Pesantren Kanak-Kanak Al-Husain

Pukul 08.15 WIB rombongan tiba di Pesantren Al-Husain Krakitan, Salam, Magelang. Kami disambut oleh beberapa pengurus pesantren dan dipersilahkan menempati ruang pertemuan. Sejurus kemudian pimpinan pesantren K.H. Muhsin datang, bersalaman dengan kami dan beramah-tamah sebentar. Kemudian beliau pamit meninggalkan kami karena ada kegiatan lain.

Pertemuan dimulai pukul 08.45 WIB. Kata sambutan rombongan disampaikan oleh Ustadz Muhamad Mufti, mengingat K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc masih berada di Al-Amien Sumenep untuk suatu kepentingan. Selanjutnya disampaikan sambutan tuan rumah oleh salah seorang pengurus Pesantren Al-Husain.

Acara selanjutnya adalah kunjungan lapangan. Peserta studi banding dibagi menjadi tiga kelompok, mengunjungi lokasi kampus pesantren cilik laki-laki, kampus pesantren cilik perempuan, dan kampus pesantren SLTP/SLTA (kantor pesantren). Fokus perhatian kami di sini adalah pengelolaan pesantren kanak-kanak, karena Darunnajah Cipining juga memiliki program serupa yang telah berumur lebih dari sepuluh tahun.

Rombongan Darunnajah Cipining meninggalkan Pesantren Al-Husain pukul 10.45 WIB, untuk selanjutnya berkunjung ke Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan.

Siang Hari di Pesantren Pabelan

Pukul 11.15 WIB para pengurus Darunnajah Cipining sampai di kampus Pondok Pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang. Rombongan disambut oleh beberapa guru dan pengurus Organisasi Pelajar Pondok Pabelan (OPPP), untuk kemudian diajak keliling pesantren.

Pesantren Pabelan didirikan (kembali) pada tanggal 28 Agustus 1965 oleh K.H. Hammam Dja’far. Beliau adalah alumnus KMI Gontor tahun 1960. Cikal bakal pesantren Pabelan dimulai hampir bersamaan dengan masa perang Diponegoro. Dari situlah diambil nama pabelan (yang juga nama kampung/desa), konon berarti “kampung pembelaan terhadap perjuangan kemerdekaan RI”.

Dalam perjalanannya, pesantren Pabelan telah berhasil meraih berbagai penghargaan atas karya nyatanya, baik di tingkat nasional maupun internasional, antara lain Agha Khan Award for Islamic Architectur (Pakistan) dan Kalpataru (Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI). Sepeninggal sang pendiri (Allahu Yarham) tahun 1993, kini Pesantren Pabelan dipimpin secara kolektif oleh K.H. Drs. Ahmad Musthofa, S.H.; K.H. Ahmad Najib Amin; dan K.H. Muhammad Balya.

Pertemuan dengan pimpinan pesantren Pabelan dimulai pukul 12.30 WIB, seusai shalat zhuhur. Sambutan wakil rombongan disampaikan oleh Ustadz Muhamad Mufti. Selanjutnya sambutan tuan rumah sekaligus memperkenalkan Pesantren Pabelan, disampaikan oleh K.H. Ahmad Najib Amin Hammam. Dalam kesempatan ini Kiai Najib didampingi oleh sekretaris pesantren Ahmad Zabidi, S.HI. Suasana pertemuan semakin semarak dengan dibukanya forum tanya jawab. Beberapa guru Darunnajah Cipining dengan antusias bertanya tentang Pabelan dan perkembangannya kini.

Setelah bertukar cindera mata pertemuan ditutup, para pengurus Darunnajah Cipining mohon pamit guna melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Tidar, Kota Magelang. Namun sebelum itu kami berwisata terlebih dahulu mengunjungi Candi Borobudur.

Senja Hari di Pesantren (Lembah) Tidar

Rombongan ‘Pejabat Teras’ Pesantren Darunnajah Cipining tiba di komplek Pondok Pesantren Tidar, Kota Magelang, pukul 17.30 WIB. Pesantren ini didirikan oleh K.H. Musyarofi Zarkasyi (almarhum) pada tanggal 20 Desember tahun 1983. Beliau adalah alumnus KMI Pondok Pabelan tahun 1974. Sepeninggal pendiri (akhir tahun 2006), kini pesantren ini dipimpin oleh generasi muda keponakan Kiai Musyarofi, Ustadz Bahruddin (alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2002. Beliau adalah juga teman seangkatan Ustadz Ridho Makki, S.Pd.I, putra pertama K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc). Generasi penerus pesantren ini yang lain adalah putra almarhum pendiri, M. Dzaki Yamani, yang sekarang masih kuliah di Pakistan.

Mengapa pesantren ini ‘mesti’ kita kunjungi? Salah satu sebab pokoknya adalah karena beberapa bulan yang lalu Pesantren Tidar memohon bantuan guru kepada Darunnajah Cipining. Akhirnya dikirimlah empat orang alumni TMI Darunnajah Cipining angkatan tahun 2010, yaitu: Mumuh Muhtadin, Dede Setiawan, Ule Suherman, dan Mia Armiyanti. Jadi, kunjungan ini sekaligus menengok kader-kader Darunnajah Cipining yang sedang berkhidmah di Kota AKABRI dan Gethuk ini.

Kami diterima oleh Ibu Pendiri Ustadzah Hj. Mulyati Musyarofi dan Ustadz Bahruddin. Kunjungan berlangsung +/- 1,5 jam hingga pukul 19.00. Di sini kami mendapati alumni Darunnajah Cipining yang sedang berkhidmah tampak senang, betah, dan bersemangat. Setelah menunaikan shalat maghrib (dan isya’ dijama’), kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Payaman, Kabupaten Magelang.

Mengaji di Pesantren Sirajul Mukhlasin

Pukul 19.30 tibalah rombongan Darunnajah Cipining di Pesantren Sirajul Mukhlasin, Payaman, Magelang. Di pesantren yang dahulunya didirikan oleh almarhum Simbah K.H. Siraj ini kami disambut oleh beberapa orang guru, lalu diantarkan menuju kediaman K.H. Mukhlisun, salah seorang cucu K.H. Siraj.

Setelah perkenalan secukupnya, acara langsung diambil alih oleh sang tuan rumah. Kiai Mukhlisun dengan semangatnya menyampaikan pentingnya integrasi antara tarbiyah dan dakwah di lingkungan pondok pesantren khususnya, dan di kalangan ummat pada umumnya. Bahkan menurut salah seorang penasihat Jama’ah Tabligh Indonesia ini, dakwah mesti didahulukan, tanpa mengesampingkan pentingnya aspek tarbiyah. Petuah dan nasihat berharga tentang pengamalan ajaran agama Islam dari sang kiai banyak dicatat oleh peserta studi banding.

Rombongan berpamitan sekira pukul 21.30 WIB. Selanjutnya kami menghabiskan malam di perjalanan pulang menuju medan perjuangan utama, Pesantren Darunnajah Cipining. Akhirnya dewan guru peserta studi banding dapat tiba kembali di Cipining, Kamis, 1 Juli 2010 senja hari.

Terima kasih kepada para pimpinan pesantren di Madura Jawa Timur dan di Magelang Jawa Tengah beserta dewan guru dan segenap santrinya atas perkenan dan keramah tamahan mereka menerima kunjungan silaturrahmi kami. Semoga hal ini semakin mempererat ukhuwah islamiyah dan kerja sama antarlembaga. Insyaallah ilmu dan pengalaman yang telah kami dapat sangat berguna bagi peningkatan kualitas pendidikan di Darunnajah Cipining kelak. [WARDAN/Laporan Abu Mujahid].