Sep 082010
 

Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Keutamaan Shalat Malam Dan Petunjuk Pelaksanaannya

Anak-anak sekalian, shalat apa saja sih pada malam hari itu? Kemarin witirnya sudah kita jelaskan. Tarawihnya juga sudah kita jelaskan. Kalau shalat Witir itu tidak terbatas hanya pada bulan Ramadhan saja. Sedangkan shalat Tarawih hanya pada bulan Ramadhan. Bolehkah shalat Tarawih di bulan syawal? Tidak boleh. Kalau yang seperti itu malah akan menyebabkan kamu masuk neraka karena kamu melakukan perbuatan bid’ah.

كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Itu jangan dilakukan sebab tidak diperintahkan. Ngapain kita melakukan shalat itu, tidak diperintahkan? Di dalam agama ini yang tidak diperintahkan jangan dilakukan. Terus mau shalat apa kalau begitu? Ya, banyak shalat. Karena itu kita akan pelajari. Itu adalah shalatul lail (shalat yang dilakukan pada malam hari). Di sini kata-kata shalat ini shalat apa namanya? Shalat tarawih shalat malam. Shalat witir juga shalat malam karena tidak ada witir pada siang hari. Kalau disebutkan shalat malam tanpa disertai nama shalat Tarawih, shalat Witir, atau shalat Fajar, berarti shalat sunah muthlaq. Berapa jumlah rakaat shalat sunah muthlaq itu? Tidak ada batasannya. Paling sedikit berapa? Itulah hebatnya shalat sunah muthlaq; rakaatnya tidak ditentukan. Kita bisa melakukan shalat ini. Misalnya, pada malam bulan puasa shalat tarawih sudah kita lakukan, shalat witir juga sudah kita lakukan, mau shalat apa lagi? Kita bisa melakukan shalat sunah muthlaq. Kita bisa melakukan shalat tahajud. Shalat ini bisa juga dilakukan pada waktu sahur. Disyariatkannya sahur itu supaya kita bangun malam. Kalau kita bangun malam, kita sudah makan dan minum, kan segar. Kalau sudah segar ngapain? Ya, untuk shalat lah, bukan untuk jalan-jalan, bukan untuk nongkrong di depan televisi. Sekarang pada jam-jam seperti ini acara televisi juga ada, menarik, ada sinetron-sinetron, macam-macam. Radio juga, ada obrolan, dan lain sebagainya. Kita bangun bukan untuk itu. Tapi lakukanlah shalat malam. Shalat sunah muthlaq/shalat malam itu tidak ada batasannya. Mau seratus rakaat, kalau kuat silakan. Mau tiga rakaat saja juga silakan. Itu diniati shalat apa, ustadz? Niatnya niat shalat malam,

أصلي صلاة الليل

Kalau kamu tidak bisa berbahasa arab, “Niat shalat malam dua rakaat.” Sudah dapat dua rakaat, ingin menambah lagi, silakan menambah lagi. Dapat dua rakaat lagi, salam lagi. Ingin menambah lagi, tambah lagi. Ingin tiduran dulu, tiduran saja. Setelah ambil Wudhu ternyata belum subuh, kamu shalat lagi, itu boleh-boleh saja. Saya ingin siswa/siswi Darunnajah mempunyai pengetahuan seperti itu sehingga tidak kebingunan shalat. Nanti pada saat shalat ditanya, “Shalat apaan memang? Lah, shalat begitu banyaknya? Shalat melulu? Di kampung tidak ada. Waktu saya kecil tidak ada shalat seperti itu.” Itu tandanya belum belajar. “Di mushalla saya tidak pernah ada shalat seperti itu.” Ya, belajarlah supaya tahu! Jadi boleh saja melakukan shalat berapa saja. Berarti ini selain shalat Tarawih dan Witir? Iya, kalau shalat Tarawih ada hitungannya. Witir juga ada hitungannya. Shalat Witir kalau kebanyakan tidak boleh. Paling banyak berapa rakaat kemarin? 11 rakaat saja. “Biarin saya mau shalat witir 19 rakaat! Kan Innallaha witrun yuhibbul witr. Allah suka yang ganjil-ganjil?” Ya, shalat Witir itu ada batasannya. Tetapi kalau shalat sunah muthalq tidak ada batasannya. Kemudian Rasulullah Saw. memerintahkan kita,

أن نصلي من الليل ما قل أو كثر ونجعل آخر ذلك وترا . رواه الطبراني والبزار

Ini dari samurah bin jundab, “Rasulullah pernah menyuruh kami supaya melakukan shalat malam.” Shalat malam berapa rakaat? Beliau mengatakan, “Baik sedikit maupun banyak.” Jadi bilangannnya berapa? Ya, sedikit itu bisa satu rakaat. Sedangkan banyak bisa berapa saja. Bilangan di bawah 3 itu sedikit. Kalau dalam bahasa Arab, jama’ itu minimal 3. Kata Samurah, “Saya pernah disuruh oleh Rasulullah Saw. melakukan shalat malam.” Berapa jumlahnya? Di situ dikatakan, “Mau sedikit atau banyak, silahkan.” Dan kata Rasulullah, “Supaya akhir shalatnya itu ganjil.” Shalat malam misalnya, sudah melakukan shalat enam rakaat, jangan setelah enam rakaat itu berhenti, tetapi jadikan penutup shalatmu itu witr (ganjil). Kalau kita shalat empat rakaat kemudian mau berhenti, berdiri lagi untuk shalat satu rakaat menjadi lima rakaat. Misalnya, kita sudah shalat 16 rakaat kemudian ingin berhenti, kita berdiri lagi untuk melakukan shalat satu rakaat lagi sehingga menjadi 17 rakaat.

Ada hadits lain dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas juga pernah merasa diperintah oleh Rasulullah Saw.,

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بصلاة الليل ورغب فيها حتى قال عليكم بصلاة الليل ولو ركعة

Ibnu Abbas ra. pernah diperintah oleh Rasulullah Saw. supaya melakukan shalat malam dan Rasulullah Saw. mendorong, “Lakukan shalat Ibnu Abbas.” Sampai-sampai Rasulullah mengatakan, “Sekalipun hanya satu rakaat, jangan sampai kamu tidak melakukan shalat malam.” Saya mau bertanya, “Anak-anak SMP kuat tidak shalat satu rakaat?” Kuat. “Kalau dua rakaat kuat tidak?” Baiklah nanti malam setelah sahur mau tidak shalat? Mau. Mau shalat berapa rakaat? Kuatnya berapa? Kalau disuruh shalat, kuatnya satu saja deh. Kalau disuruh mengambil uang, sebanyak-banyaknya. Ya, satu rakaat lebih baik daripada tidak. Kamu shalat satu rakaat terus menerus lebih baik daripada tidak sama sekali. Lakukan itu! Ibnu Abbas pernah diperintah oleh Rasulullah Saw. Abbas itu paman Rasul. Ibnu Abbas berarti saudara sepupu Rasul. Namanya Abdullah. “Kamu harus shalat malam, Ibnu Abbas, sekalipun hanya satu rakaat.” Kita juga masak sih satu rakaat saja tidak bisa.

Pada hadits yang lain dijelaskan,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمنا الاستخارة بالأمور كلها كما يعلمنا سورة من القرآن ويقول : إذا هم أحدكم بالأمر فليركع ركعتين

Di sini dikatakan bahwa shalat istikharah itu juga termasuk shalat malam, yaitu shalat yang dilakukan pada malam hari. Istikharah itu shalat yang seperti apa? Shalat Istikharah itu shalat yang kita lakukan saat sedang ada masalah yang kita ingin solusinya. Pada saat yang demikian kita juga bisa melakukan shalat malam.

Di malam hari itu, anak-anak sekalian, yang paling baik jam berapa? Kalau malam dibagi menjadi dua, bagian mana yang paling baik? Kemarin berapa jam satu malam itu? Kalau kita kira-kira dari Isya, Isya’ rata-rata jam berapa? Kira-kira malam itu mulai dari jam setengah delapan sampai jam setengah lima. Berapa jam itu? 9 jam. Kalau malam yang sembilan jam itu dibagi menjadi dua, berarti setengahnya berapa jam? 4 setengah jam. Kalau setengah delapan ditambah empat setengah berapa? Jam 12. Jam berapa shalat malam itu afdhal? Kalau malam itu dibagi dua, berarti dari jam 12 sampai subuh. Bagaimana kalau shalatnya sebelum jam 12? Kalau persoalannya afdhol dan tidaknya, tidak afdhol. Tetapi boleh tidak melakukan shalat sebelum jam 12? Kita shalalt Tarawih jam berapa? Ba’da Isya’ kira-kira jam setengah delapan. Itu kan shalat malam juga. Shalat Witir juga ba’da Isya’. Itu boleh-boleh saja. Tetapi kalau ditanya, “Yang afdhol sebelum jam 12 atau setelah jam 12? Dikatakan, “Setelah jam 12.” Itu namanya tengah malam. Kalau malam itu dibagi menjadi 3, yang bagus adalah sepertiga malam yang akhir. Kalau terakhirnya jam setengah lima, setengah dua itu sudah termasuk waktu yang afdhal. Ini tentang shalat malam.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ينزل ربنا عز وجل كل ليلة إلى سماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأستغفر له . رواه الجماعة

Rasulullah Saw. menjelaskan kepada para sahabat bahwa Allah Tuhan kita setiap malam turun ke langit bumi. Langit itu banyak sekali. Setiap planet mempunyai langit. Ada berapa planet kita ini? Milyaran. Setiap planet mempunyai langit. Tuhan kita setiap malam turun ke langit dunia. Hal itu terjadi ketika malam tinggal sepertiga yang terakhir, yaitu sekitar jam setengah dua sampai subuh. Kamu sahur jam berapa? Jam 3 atau setengah empat. Berarti pada saat itu Allah masih berada di langit dunia. Pada saat itu Allah Swt. melihat-lihat siapa yang sedang memohon kepada Allah, berdoa, Allah akan kabulkan.

Tuhan kita tiap malam turun mendekat ke langit bumi ketika malam tinggal sepertiga saja. Apa yang dilakukan oleh Tuhan kita? Mencari orang yang berdoa. “Siapa yang sedang berdoa, Aku akan kabulkan.” katanya. Bila ada orang yang sedang memohon kepada Allah, akan Ia berikan. Dan bila ada orang yang sedang memohon ampunan, akan Ia ampuni. Kapan itu terjadi? Ketika malam tinggal sepertiga yang akhir. Pada saat sahur itu Allah sudah dekat ada di langit dunia. Lorong Allah juga sedang terbuka. Siapa yang minta akan Allah kabulkan. Yang meminta ampunan pun akan Allah ampuni. Maka rugi sekali kita, kalau pada saat seperti itu kita tidak manfaatkan. Bahkan saya pernah melihat saat jalan malam, orang-orang selesai sahur bermain catur, setelah Maghrib anak-anak di jalan main catur. Memangnya sudah tidak ada yang diminta? Memangnya sudah kaya raya? Kita semua adalah fuqara. Keinginan kita luar biasa banyaknya. Mungkin kalau kamu disuruh menulis keinginan kamu dan disediakan buku, sampai buku tersebut penuh pun belum habis keinginanmu. Tetapi kenapa saat kita disuruh minta tidak mau? Anak-anak sekalian, misalnya di kampung kamu ada orang membagi-bagikan uang, kemudian orang-orang dipanggil-panggi, “Siapa yang ingin duit, silahkan ke sini ambil sebanyak banyaknya!” Kamu melihat ada orang yang tidak mau mengambil padahal dia mendengar panggilan tersebut dan bisa jalan. Orang itu apa namanya? Majnun bukan? Ia adalah orang yang tidak punya otak; sudah disuruh untuk datang ke rumah dan akan dikasih. Orang-orang pun sudah membuktikannya dengan datang ke rumahnya dan mendapatkan hasil. Orang ini tidak meminta. Posisi kita seperti itu. Kita disuruh Allah Swt. meminta. “Silahkan kamu minta apa saja, akan Aku beri.” Kita malah tidur saja, malah bercanda. Kita ini jenis orang-orang seperti itu. Maka supaya ada perubahan dengan adanya bulan puasa tahun ini anak-anak mengaji seperti ini setelah Zuhur. Bulan puasa tahun ini harus lebih baik daripada bulan puasa sebelumnya. Nanti di bulan Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil ula, Jumadi Tsaniyah, Rajab, dan Sya’ban anak-anak harus menjadi orang-orang yang baik, harus berubah. Ustadz ingin bukti. Jika demikian, anak-anak tidak akan mengalami kesulitan apapun, tidak ada yang bayaran nunggak, terlambat, apalagi kesulitan macam-macam. Saya tidak menginginkan hal itu. Maka caranya setiap malam kita manfaatkan untuk melakukan shalat. Shalat apa saja yang berapa saja jumlahnya, ya shalat sunah muthlaq. Mau berapa saja, silahkan. Kok bingung? Mungkin kalau kamu belum pernah ikut mengaji puasa seperti ini, saat malam-malam disuruh shalat, kamu akan berkata, “Sudah.” Shalat apa? “Isya’.” Ya, shalat sunahlah. “Shalat sunah apaan? Kan ba’diyah sudah tadi.” Ya shalat sunah yang lain. “Yang lain emang apaan?” Kalau orang tidak pernah belajar, seperti itu wajar. Tetap kamu sudah belajar di sini. Maka kamu hendaknya rajin melakukan shalat ini. Ini sebagai bukti bahwa kita adalah orang yang beriman. Ingat, berkali-kali pak kyai menyatakan,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْض

Kalau semua manusia ini, di kampung-kampung, di gang-gang, di rumah-rumah ini beriman dan bertakwa, keberkahan dari langit akan Allah bukakan. Kalau selama ini masih terkunci, kamu masih sulit sekali mencari pintu-pintu rizki, atau kunci-kunci pintu rizki ini, maka sadarilah bahwa kamu masih belum banyak melakukan ibadah. Kamu masih lemah sekali tentang shalat ini. Jangankan shalat-shalat tambahan seperti itu, shalat lima waktu saja masih banyak yang ditinggalkan. Pantas kalau orang seperti ini rizkinya juga dipersulit oleh Allah. Kamu jangan menjadi orang yang pantas menjadi orang miskin. Ada tidak yang pantas menjadi orang miskin di sini? Siapa, coba angkat tangan? Atau adakah yang merasa tidak pantas menjadi orang kaya? Pantaskah menjadi orang kaya? Ya, pantaslah. Tapi perilaku kamu itu pantas tidak menjadi orang kaya. Ini yang menjadi persoalan. Ingin jadi orang? Ingin. Disuruh shalat, tidak mau, “Ogah, mendingan kerja saja yang capek.” Itu orang bodoh. Padahal dengan shalat yang rajin, bekerja pun akan mendapatkan petunjuk dari Allah Swt.; tidak usah terlalu capek, yang dihasilkan lebih banyak daripada orang-orang yang capek bekerja. Ini kalau masalah keimanan dan ketakwaan kita meningkat betul. Indikatornya antara lain adalah dengan shalat.

Baiklah semoga Allah Swt. memberikan petunjuk kepada kita. Amin. Amin pun kalau tidak ikhlas, tidak diterima oleh Allah. Percuma saja amin-amin. Maka pantaskanlah dirimu menjadi orang kaya.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Keutamaan Shalat Malam Dan Petunjuk Pelaksanaannya