Feb 282011
 

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Peran Orang Tua Di Dalam Mendidik Anak”

Kaum perempuan subhanallah banyak sekali yang bisa dilakukan. Anak-anak penurut, karena ibunya memang sabar, memang perhatian terhadap anak-anaknya; semuanya shalat, semuanya mengaji. Bukannya berfikiran anak-anak yang penting dikasih makan, yang penting dimandikan, dijaga kesehatannya, tidak. Tapi juga difikirkan bagaimana supaya anak juga bisa shalat semuanya, bagaimana anak bisa mengaji. Ini yang paling penting.

Kebanyakan orang perpendapat yang penting anaknya sudah besar, pakaiannya rapi, tidak memalukan, badannya sehat, setelah itu terserah mau jadi apa, yang penting sudah diurusi. Jangan begitu. Urusi anak kita sampai mau shalat di masjid terus. Walau bapaknya sulit disuruh ke masjid, tapi anaknya harus bisa. Begitu seharusnya. Dibiasakan, supaya nanti kalau sudah besar terbiasa. Tapi jangan lupa, banyak anak kecil yang rajin ke masjid, tetapi setelah besar tidak mau ke masjid. Masih kecil masih menurut, dibelikan pakaian rapi, baju koko, pakai kopiah putih, difoto, dipasang di dinding, “Nih, rajin ke masjid.” Setelah besar, setelah sekolah SMP, sekolah Tsanawiyah, tidak mau ke masjid. Apalagi setelah umur 15 atau 16 tahun, naik motor kesana kemari. Banyak yang seperti itu. Kita yang harus berusaha berjuang betul-betul.

Memang tidak mudah. Maka itu tadi perlu pembiasaan. Biasakan dari kecil, dan jangan putus asa. Waktu kecil rajin, nanti kalau anak sudah umur belasan, sudah tidak peduli lagi. Jangan sampai begitu. Antarkan terus, “Ayo ke masjid. Ayo ke masjid.” Itu amal shaleh. Ini ada contoh yang baik, kisahnya pernah ditayangkan di TV. Ada orang anaknya delapan, semuanya hafal Al-Quran. Bapaknya menjadi anggota DPR. Yang delapan ini karena hafal Al-Quran semuanya malah ada yang kuliah di fakultas kedokteran, ada yang di fakultas teknik, jadi orang pintar semua. Ini luar biasa. Ketika ditanya, “Bagaimana bisa begitu?” Dijawab begini “Ibunya yang sangat peduli terhadap mereka. Saya laki-laki memang ke sana kemari cari usaha, tapi ibunya ini yang memang terus menerus mendampinginya.” Luar biasa. Ini contoh yang baik sekali.

Di Jakarta saya punya teman. Anaknya sebelas. Sudah 8 yang hafal Al-Quran 30 juz. Sisanya tinggal 3 yang masih dalam proses menghafal Al-Quran. Saya bilang, “Caranya bagaimana?” Ketika anak berumur empat tahun dan sudah mulai bisa berbicara, ibunya suka mengajari, “Bismillahirrahmanirrahim.” Anak menurut. “Qulhuwallahuahad. Allahusshamad.” Yang pendek-pendek seperti itu. Nanti ketika umur lima tahun, mulai diajari membaca, menghafal, membaca, menghafal, membaca, menghafal. Umur enam tahun di pesantrenkan, di Demak Jawa Tengah, di Kyai Hariri. Di sana umur enam tahun itu mengaji Al-Quran terus, membaca terus, menghafal. Ketika umur 11 tahun – dari umur 6 tahun ke 11 tahun – itu sudah selesai hafalan Al-Qurannya. Anak pintar, sehingga ketika tamat SD, dia sudah hafal Al-Quran dan punya ijazah SD. Ia bisa melanjutkan ke Tsanawiyah, kemudian ke Aliyah. Saya tanya, “Setelah Tsanawiyah dan Aliyah kemana?” “Ini ada yang di Aljazair, ada lagi yang di Yaman. Semuanya beasiswa. Ada yang di Madinah.” Luar biasa. Ini contoh yang baik sekali.

Memang wanita-wanita zaman sekarang inginnya bersih, kerja di kantor, kerja di mana-mana, akhirnya anak-anaknya tidak terurus. Tidak salah orang bekerja mencari rizki, boleh-boleh saja. Tetapi sebagai seorang ibu mestinya masalah anak itu adalah yang utama. Seorang ibu adalah sekolah yang pertama (Al Madrasatul Ula); Yang mengajari kalau menerima sesuatu menggunakan tangan kanan atau tangan kiri itu ibu. Yang mengajari buang air menggunakan tangan kiri, itu ibu. Yang mengajari mau makan cuci tangan, itu ibu. Maka itu anak jangan dilupakan; jangan sampai bekerja sehari semalam, sedangkan anaknya tidak diurus. Ini yang banyak terjadi sekarang.

Maka kalau anak tidak diurus hasilnya akan sulit, runyam. Ketika anak sudah besar, anak tidak menurut. Ketika anak sudah besar ia punya kemauan, kita tidak melayani, ia suka mengamuk, kadang-kadang marah. Kita orang tua selalu kalah. Karena orang tua itu selalu mengalah pada anak. Daripada anak kabur atau bunuh diri, ya sudahlah. Minta motor, belikan motor, minta handphone, belikan handphone. Baru kalau nanti kecelakaan kepalanya pecah dan sebagainya, yang menanggung kita juga. Maka daripada anak seperti itu, alangkah lebih baiknya kalau dari kecil sudah diarahkan terus. Pendidikan juga; anak harus dididik, dicarikan pendidikan yang baik.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Peran Orang Tua Di Dalam Mendidik Anak”