Sep 112011
 

  1. I.            Muqodimah

Pesantren merupakan salah satu model system pendidikan yang ada di Indonesia. Keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia pun selama ini telah banyak membantu bangsa ini dapat keluar dari lubang kebodohan. Adapun sistem pendidikan yang diterapkan oleh pesantren biasanya menggunakan sistem asrama. Jadi para santri diperkenankan untuk tinggal di arama, supaya dapat mengikuti pengajaran-pengajaran yang di berikan oleh sang Kyai dan para Ustadz/ Ustadzahnya.

Sistem asrama ini diberlakukan supaya pengawasan tehadap para santri akan lebih terkontrol. Sebab, selama waktu 24 jam penuh, santri di asrama selalu dalam pengawasan sang Kyai maupun para Ustadz/ Ustadzah. Hal ini lah yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan sistem pendidikan pada umumnya. Dengan model sistem pengawasan selama 24 jam seperti ini, diharapkan supaya para santri akan lebih disiplin dalam menjalankan setiap kewajibannya mejadi seorang santri.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan akan pendidikan pesantren pun semakin lama semakin di butuhkan oleh masyarakat. Sebab, hal ini sudah menjadi sesuatu yang wajar. Kalau sistem pendidikan yang di tawarkan oleh pesantren itu lebih unggul dari pada yang lainya.

Sesuai kebutuhan zaman, sekarang banyak pesantren yang telah menyediakan sistem pendidikan berbasis islam terpadu. Sistem ini adalah memadukan antara pendidikan agama murni dengan pendidikan formal (umum). Seperti hal-nya Pelayanan pendidikan berbasis islam terpadu yang di tawarkan oleh Pesanten Darunnajah II ini. Selain Pesantren Darunnajah II mengajarkan keilmuan tentang agama, tapi juga di padu dengan pendidikan formal (umum). Adapun pendidikan (formal) yang di tawarkan oleh Pesantren Darunnajah II, yakni; mulai dari RA/TK, MI/SD,MTs/ SLTP, MA/SLTA/ SMK, dan bahkan rencananya akan membuka sampai Perguruan Tinggi.

Dengan adanya sistem pendidikan islam terpadu seperti ini, diharapkan kelak para santri yang lulus dari Pesantren Darunnajah II, akan menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi umat. Di samping itu, Darunnajah II juga mempunyai cita-cita agar kelak para lulusan dari pesantren ini mudah-mudahan akan menjadi pemimpin yang bertaqwa serta berakhaqul karimah di negeri ini. Dengan adanya pemimpin negera yang bertaqwa, diharapkan negara ini akan menjadi lebih tentram dan makmur.

Jadi, para santri Darunnajah II ini memang orang-orang yang dipilih oleh Allah SWT, untuk menjadi orang-orang yang baik. Karena kalian semua telah ditunjukkan oleh Allah SWT untuk memperoleh kesempatan belajar ilmu agama dan ilmu formal (umum). Sehingga, bersyukurlah kalian (para santri) yang telah dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi manusia yang unggul.

Pimpinan Pesantren Darunnajah II, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc dalam  tausiahnya, beliau menyampaikan kepada para santrinya tentang manusia yang dipilih, seperti halnya firman Allah SWT dan Hadits di bawah ini;

Allah SWT berfirman:

قال الله تعالى: “فمن يريدالله اْن يهديه يسرح صدره للاسلام ومن يريدالله اْن يضله يجعل صدره ضيقا حرجا كاْنما يصعد في السماء كذلك يجعل الله رجسا على الذين لايؤمنون”

Sabda Rasullullah:

ولولانفر من كل فرقه منهم طائفة ليتفقهوا في الدين لينضرواقومهم اذارجعواقومهم لعلهم يحذرون

Dari ayat al-Qur’an dan Hadits di atas menerangkan, bahwa barang siapa yang di kehendaki oleh allah SWT untuk di berikan petunjuk, maka ia dibukakan hatinya untuk islam. Sebaliknya, barang siapa yang di kehendaki oleh allah SWT untuk di sesatkan, maka dia sempit, terpaksa di dalam memenuhi islam. Ia seakan-akan mendaki ke langit. Demikian allah SWT menjadikan hambanya contoh yang berat terhadap orang-orang yang tidak beriman.

Pernyataan di atas memberikan sebuah anologi, bahwa barang siapa yang masuk di sebuah lembaga pendidikan yang di dalamnya banyak memberikan kajian tentang keislaman, serta mereka mau menekuninya, maka orang seperti itulah gambaran sebagaimana  manusia yang dipilih oleh Allah SWT untuk memperoleh hidayahnya. Sebagaimana di Sabdakan oleh Rasulullah SAW;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من يريد الله به خيرا يفقهه في الدين”

Rasullullah SAW bersabda: ”Barang siapa yang dikehendaki baik oleh allah SWT, allah memberikan kefahaman tentang agama (islam) baginya”.

Oleh sebab itu, mari kita mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT, karena  kita telah diberi rahmat hidayat serta iyanahnya, sehingga kita diberikan petunjuk oleh Allah SWT untuk belajar dan mendalami  ilmu agama (islam)  di Pesantren Darunnajah II Cipining ini.

 

  1. II.             Hakekat pesantren.

Asal-usul pesantren bermula pada adanya seorang ahli agama (islam) yang biasa disebut kyai. Karena orang-orang dari lingkungan tidak sempat belajar agama, maka belajarlah mereka kepadanya. Dibawah bimbingan sang kyai tersebut muncul sebuah ketertarikan akan sistem-sistem pengajarannya. Yang tadinya dari orang-orang sekitar terdekatnya,  kian hari kian banyak dan tidak lagi  untuk rutin pulang pergi didalam menempuhnya dengan jarak yang jauh.

Berawal dari kondisi inilah mereka membangun rumah-rumah sebagai komunitas jama’ahnya serta mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pengajaran. Perkembangan selanjutnya, pada masa kini terjadinya sebuah pesantren bukan seperti demikian lagi, ada pesantren yang didirikan oleh orang kaya raya (hartawan) dengan jalan membeli lahan untuk dijadikan pesantren dengan tenaga pengajar atau pendidiknya direkrut dari luar daerah secara profesioanal. Keduanya sebenarnya sama, hanya saja yang membedakan adalah faktor terjadinya pesantren, adapun unsur-unsur pokoknya tetap sama, yaitu;

1)      Adanya pimpinan yang berfungsi sebagai penanggung jawab atas berjalannya sebuah lembaga pesantren.

2)       Adanya masjid yang digunakan sebagai tempat ibadah dan belajar serta aktifitas-aktifitas lainnya.

3)      Adanya asrama (tempat tinggal) para santri dan pendidiknya.

4)      Adanya kegiatan belajar mengajar yang tertata rapi serta adanya aturan-aturan yang jelas.

5)      Adanya kegiatan-kegiatan ibadah.

Tidak disebut pesantren apabila unsur-unsur tersebut diatas tidak dipenuhi. Sebagai permisalan arama ABRI, POLISI. Didalamnya ada maasjid untuk ibadah, adanya pimpinan, adanya asrama tetapi tidak diajarkan pelajaran agama yang mendalam.mereka belajar agama bukan sebagai pokok, melainkan sebagai tambahan. Seperti ini belum bisa dikatakan sebagai pesantren.

Ada juga hotel, didalam hotel ada pimpinan, masjid, aturan jelas namun disana tidak diajarkan bagaimana belajar agama dan ibadah-ibadah lainnya. Kemandirianpun juga tidak di kenalkan. Segala sesuatu sudah tersedia oleh pelayan. Berbeda dengan pesantren yang segala sesuatunya harus diwujudkan oleh santri; cuci pakaian, membersihkan kamar, lingkungan, cuci piring dan lain sebagainya. Kecuali hal-hal yang memang tidak mungkin dikerjakannya karena terbenturnya waktu.

  1. III.            Mengenal Darunnajah II Cipining.

Seperti hal-nya para pejuang yang akan terjun ke medan perang. Maka para pejuang tersebut harus lah bersiap diri, serta mengetahui dan mengenal semua kondisi medan perang. Sebab hal ini merupakan bekal utama untuk mereka mencapai kemenangan. Begitu pula para santri yang ingin masuk ke Pesantren Darunnajah II  Cipining. Mereka harus mengetahui, serta mengenal betul dan paham siapa Pesantren Darunnajah II itu. Bagaimana keadaan atau isi Pesantren Darunnajah II. Serta apa arah tujuan didirikannya  Pesantren Darunnajah II.

Hal ini sangat penting, bahkan wajib dimengerti oleh setiap penghuni Pesantren Darunnajah II Cipining untuk memantapkan diri, meyakinkan di dalam melangkah maju ke depannya. Menurut pimpinan Pesantren Darunnajah II Cipining, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc dalam sebuah tausiahnya. Beliau menerangkan, ”Janganlah memahami pesantren ini secara setegah-setengah saja. Karena hal ini diibaratkan bagaikan se-ekor monyet yang makan se-buah maggis. Monyet itu menggigitnya dan merasakan pahitnya kulit manggis, akhirnya dibuanglah manggis tersebut.

Demikian halnya kalau kita memahami pesantren ini secara setengah hati, maka yang akan timbul bukanlah manisnya menuntut ilmu, melainkan yang muncul adalah  pikiran-pikiran negative saja. Yang akhirnya memberikan dampak negatif pikiran kita dalam melihat dan memahami Pesantren Darunnajah II tercinta ini.  Akhirnya yang seharusnya menuntut ilmu di pesantren itu rasanya manis, maka akan terasa pahit, karena yang dipahami cuma hanya luarnya saja.

Di pesantren juga sama halnya seperti kehidupan normal lainnya, ada kalanya senang dan  ada kalanya sedih. Disini tidak ada namanya sedih yang berkepanjangan serta senang yang berkelarutan. Kondisi seperti ini harus dimengerti oleh setiap santri yang tinggal di Pesantren Darunnajah II ini.

Dengan di adakannya Khutbatul ’Arsy ini adalah sebagai media komunikasi sosialisasi untuk memahamkan para santri baru maupun para santri lama. Dengan tujuannya adalah untuk memantapkan langkah semua para santri di dalam mengikuti progam-progam pesantren. Sebagaimana ibarat ingin ke Jakarta atau ke tujuan Kota lainnya. Maka, mereka harus yakin betul mau  mengikuti kendaraan yang mana untuk sampai pada tujuannya tanpa ada keraguan dan kebimbangan sedikitpun.

Begitu pula para santri yang ingin menuntut ilmu di Pesantren Darunnajah II, santri harus tahu, apa maksud dan tujuannya agar tidak berhenti di tengah jalan. Baik itu maksud dan tujuan yang ada dalam diri santri maupun VISI dan MISI pesantren yang dipercaya sebagai kendaraan untuk menuntut ilmu ini. Tidak hanya tahu dan paham saja tentang VISI dan MISI pesantren. Tapi untuk memperoleh ilmu yang berkah dan bermanfaat, para santri haruslah taat dan patuh terhadap semua ketentuan yang diterapkan oleh pesantren. Serta santri haruslah belajar yang sungguh-sungguh, mempercayai pesantren, mencintainya dan turut serta memperjuangkan keberadaannya. Insyaallah semua ilmu yang diberikan oleh sang guru akan bermanfaat dan berkah.

Untuk mengenal lebih lanjut tentang Pesantren Darunnajah II Cipining. Maka, silah untuk membaca keterangan di bawah ini:

  1. A.      VISI dan MISI Pesantren Darunnajah II.

 

  • VISI

 

Imam, Muttaqien, ‘Alim, Mubaligh, ‘Amil.

 

  • MISI

 

a)      Menyelenggarakan Pendidikan dari Usia Dini s/d Perguruan Tinggi

b)      Melatih Mu’amalah Ma’al Khaliq dan Ma’al Khalqi

c)      Melatih Kepemimpinan

d)      Melatih dakwah dan Mengajar

e)      Melatih Ibadah

  1. B.     Sejarah Berdirinya Pesantren Darunnajah II .

Berdirinya Pesantren Darunnajah II tidak terlepas dari adanya kurangnya kapasitas arama dalam menampung banyaknya para santri baru yang mendaftar di Pesantren Darunnajah I. Hal ini terjadi Pada tahun pelajaran 1985-1986 Darunnajah 1 Jakarta tidak mampu lagi menampung calon santri. Pendaftar pada waktu itu mencapai lebih kurang 1500 santri. Apabila banyak yang ditolak tanpa memberikan solusinya. Maka, pesantren akan bisa dikatakan dzalim terhadap ummat islam.

Maka untuk mencarikan solusinya diadakan tahap pencarian lahan baru untuk membagun pesantren. Hal ini  dilaksanakan tepatnya pada tahun 1986 dan akhirnya ditemukan lah lahan tersebut di Kampung Cipining Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Jawa Barat. Pada saat itu kondisi transportasi yang menghubungkan Jakarta/ Tanggerang dengan Bogor sudah cukup halus serta ditambah pada waktu itu pula tiang-tiang listrik sudah ada di daerah tersebut. Ini menandakan bahwa kampung ini akan segera ramai di waktu mendatang.

 Tanah yang pada saat itu ( 1 m) harganya hanya ½  kg beras. Padahal harga beras pada waktu itu masih berkisar Rp. 250. Jadi, harga tanah 1 m pada waktu itu hanya  Rp 125. Dengan adanya informasi adanya lahan potensial untuk pengembangan pesantren. Maka, hal tersebut kemudian dimusyawarahkan kepada pengurus Pesantren Darunnajah Jakarta pada saat itu. Selanjutnya  akhirnya pun di tindak lanjuti untuk di beli dan dikembangkan menjadi pesantren Darunnajah II seperti sekarang ini.

Karena murahnya tanah serta didukung dengan potensialnya daerah tersebut untuk pengembangan pesantren. Maka, selanjutnya di sosialisasikan kepada para santri untuk turut ambil bagian dalam pembelian lahan wakaf. Tidak ketinggalan juga para wali santri yang mendengar kabar tersebut juga ikut serta dalam pembelian tanah tersebut untuk diwakafkan.

Namun belakangan di stop oleh pihak kecamatan setempat, sebab sudah melebihi kapasitas pembelian tanah. Maka, kepemilikan tanah ini perlu diterbitkan SK dari Gubernur Jawa Barat. Selanjut berangkatlah pengurus yayasan untuk membuat SK pembelian tanah tersebut. Yang akhirnya menghasilkan putusan SK pebebasan tanah wakaf seluas 70 ha. Sebagai di sah kan dalam kebijakan SK kepemilikan tanah dengan Nomor 593.82/SK.259.S/AGR-DA/225-87, tanggal 24 Februari 1987.

Pada  tahun 1987 dimulai lah pembangunan Pesantren Darunnajah II Cipining. Pada awalnya hanya membangun 16 ruang kamar yang terbagi dalam 4 unit (sekarang rayon 1,2,3, dan 4). Dan akhirnya pada tanggal 18 Juli 1988 Pesantren Darunnajah 2 Cipining resmi didirikan dan santri yang masuk pada tahun pertama ini sebanyak 200 santri. Semua santri tersebut merupakan    limpahan dari Pesantren Darunnajah 1 Jakarta yang mana pada saat itu memang kapasitasnya sudah tidak bisa menampung pendaftaran santri baru lagi.

Setelah pembangunan Pesantren Darunnajah II selesai, maka di adakan peresmian Pesantren. Dalam peresmian Pesantren Darunnajah II Cipining ini, dihadiri oleh tokoh-tokoh pemuka agama, antara lain; Pimpinan Pondok Modern Gontor, Pengurus Yayasan Darunnajah, dan Tokoh-tokoh masyarakat sebagai undangan.  Mereka semua berkumpul untuk berdo’a dan mendukung atas berdirinya pesantren ini supaya barokah dan senantiasa dirahmati oleh Allah SWT. Amin….

  1. C.     Tokoh Pendiri Pesantren Pesantren Darunnajah II.

Pendiri pesantren Darunnajah 2 Cipining adalah juga pendiri pesantren Darunnajah 1 Jakarta yaitu;

1)      K.H. Abdul Manaf Mukhayyar

2)      Drs. K.H. Mahrus Amin.

3)      Letkol (purw) Drs. H. Komaruzzaman (alm)

  1. D.    Profil Pimpinan Pesantren Darunnajah

a)      K.H. Abdul Manaf Mukhayyar (Darunnajah I)

Beliau dari suku betawi asli, sekolah di jam’iayul khoir. Setelah lulus, kemudian mendirikan Madrasah Patunduan, yang tempatnya (sekarang dijadikan sebagai kompleks DPR dan Gelora Bung Karno). Karena ada pembangunan kompleks gedung DPR dan Gelora Bung Karno, kemudian madrasah tersebut digusur. Dengan hasil ganti rugi penggusuran tersebut, maka selanjutnya beliau hijrah ke Ulujami’ dan di tempat itu lah beliau mendirikan Pesantren Darunnajah 1 Jakarta pada waktu itu masih ikut Kabupaten Tangerang tahun 1974.

Kemudian tahun 1986 kemudian mencari lahan untuk wakaf di kawasan Cipining, Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Untuk sebagai solusi atas membludaknya santri di Darunnajah 1 Jakarta pada tahun 1974.

 

 

 

b)      K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc (Darunnajah II)

Lahir di Desa Parakan Sebaran Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah pada tanggal 21 agustus 1949. Ayah beliau (Bapak Abdul Jalal almarhum) memberikan nama Jamhari, karena pada masa itu ada seorang kyai yang baik dan masyhur bernama Jamhari.

Kegiatan semasa kecil beliau telah dihabiskan untuk menuntut ilmu. Sebagaimana kebanyakan anak-anak pada waktu itu, beliau juga mengenyam  Sekolah Dasar di Desa setempat, selanjutnya sore harinya beliau menuntut ilmuu di Madrasah Diniyah dan malam harinya belajar mengaji di Masjid atau di Musholah.

Kemudian untuk pendidikan menengah atasnya, beliau melanjutkan  ke Sekolah Menengah Kanisius (SMK) yang dirasakan bagus kualitasnya serta senantiasa meluluskan alumni dengan prosentase 100%. Tidak lama setelah itu berbalik haluan, yang tadinya menimba ilmu pengetahuan umum 100%. Kini mengenyam pendidikan pesantren murni (salafi) selama 3 tahun, yaitu Pondok Pesantren Luhur Dondong, Mangkang, Semarang, pondok pesantren kaliwungu kendal (musiman), dan Pondok Pesantren Krayapan Kendal (musiman).

Akan tetapi Allah SWT kembali berkehendak lain, setelah munculnya Gerakan Pemberontak 30 september 1965 yang didalangi oleh komunis. Akhirnya pada tahun 1966 K.H. Jamhari dikirim ke Pondok Modern Gontor Jawa Timur. Tamat dari KMI Gontor, selanjutnya beliau dipercayai untuk membantu mengajar di Pondok tersebut sambil menyelesaikan S.1 nya di IPD (sekarang ISID) Fakultas Tarbiyah. Setamat S.1 tahun 1977 beliau kembali ke kampung kelahiran.

Dalam masa-masa seperti ini beliau bingung, yang tadinya senantiasa disibukkan dengan kegiatan-kegiatan, kini harus membuat kesibukan-kesibukan baru. Akhirnya dibukalah pengajian-penagjian dan tabligh kelilingan. Di samping itu, dengan modal Ijazah yang dipunyainya beliau kirimkan ke Timur Tengah (Al-Azhar, Cairo, Jam’iyah Islamiyah Riyad, Jam’iyah Malik Abdul  Aziz Makkah dan Dewan Da’wah. Selang beberapa lama kemudian beberapa suratnya terbalas dan beliau mengambil peluang yang lebih besar (6 dari 40) yaitu di Umm al-Qura University Makkah al-Mukarramah. Untuk memudahkan pengurusan beliau pergi ke Jakarta dan disarankan oleh teman-teman untuk menetap disana. Akhirnya beliau pun menetap di Jakarta, yang pada waktu itu ikut serta membantu mengajar di Pondok Pesantren Darurrahman jalan senopati 3A Jakarta.

Belum selesai 1 tahun dalam masa penantian, panggilan dari makkah datang. Atas rindha kedua orang tuanya khususnya Ibu berangkatlah ke Makkah untuk mengambil S.2  dibidang Tarbiyah. Akan tetapi pihak Jami’ah menyarankan agar mengambil bidang Syari’ah bukan Tarbiyah sebagaimana yang diharapkan. Beliupun mengikuti saran yang dimaksud. Pada tahun ke dua menikah dengan Ibu Rahmah (putri pendiri pesantren) yang pada waktu itu masih berstatus Mahasiswi Universitas Al-Azhar Cairo. Lalu kemudian diboyong ke Makkah juga.

Inilah mungkin awal cikal bakal beliau ditakdirkan sebagai pimpinan pesantren, di samping belajar tentang ilmu Tarbiayah, beliau juga belajar ilmu  Syari’ah.

  1. E.     Hak miliki Darunnajah.

Pesantren Darunnajah II Cipining adalah milik umat islam bukan milik siapa-siapa, bukan milik orang NU, bukan milik Persis, Muhammadiyah, Ahmadiyah, dan yang lainnya. Pesantren ini juga bukan miliknya PPP, PKB, PDI, GOLKAR, PBB, PKS dan lain sebagainya. Pesantren Darunnajah adalah milik bersama dan mempunyai prinsip yang selalu di pegang teguh.

معاهددارالنجاج فوق جميع الطوائف ولمصلحة الجميع

”Berdiri di atas dan untuk semua golongan”. Artinya bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan dan da’wah islamiyah yang independent, tidak berafiliasi kepada partai politik atau organisasi massa tertentu. Ia juga tidak berhubungan dengan politik apa lagi terlibat dengan kelompok/ sakte atau ajaran luar ahli sunnah wa al-jama’ah maupun yang di larang secara politis oleh pemerintah Republik Indonesia yang sah.

Hubungan dengan pemerintah pun akrab tidak ada pertentangan. Pesantren menghormati pemerintah, selagi tidak menyuruh pada kepada hal yang mungkar, demikian pula pemerintah pun melindungi pesantren selaku umara’.

Hubungan Darunnajah dengan pesantren lain pun juga salaing mengisi, artinya bahwa Pesantren Darunnajah mendukung perkembangan pesantren lainnya dalam jalan kerja sama baik didalam ketenagaan pendidik atau yang lainnya.

 

  1. F.      Tujuan Institusional Darunnajah II.

 

Sebagai pesantren, Darunnajah II memiliki kepedulian yang besar terhadap pendalaman pelajaran agama. Namun demikian, pesantren juga tidak menutup mata terhadap kebutuhan dan tuntutan dunia pendidikan dan perkembangan zaman pada umumnya. Oleh karena itu, telah dirumuskan tujuan pendidikan dalam skala prioritas sebagai berikut:

  1. Tujuan umum

1)      Mempersiapkan dan membentuk kader ulama’ al-amilien al-shalihin agar mampu menyampaikan da’wah islamiyah kepada seluruh lapisan masyarakat.

2)      Mempersiapkan pemimpin-pemimpin muslim yang luas pengetahuan agamanya dan memiliki ketrampilan.

3)      Mempersiapkan guru-guru agama islam.

  1. Tujuan Khusus.

1)      Mendalami ilmu agama islam/ tafaqquh fi al-din.

2)      Melatih mu’amalah ma’a al-kholik dan mu’amalah ma’a al-naas yang benar.

3)      Melatih kepemimpinan yang tangguh dan bertanggung jawab..

4)      Menyelenggarakan latihan-latihan mengajar dan da’wah islamiyah, baik dengan pidato tulisan maupun dengan sistem dan media lainnya.

  1. G.    Pendidikan Yang Ditawarkan Oleh Darunnajah II.

 

Secara formal saat ini Pesantren Darunnajah II Cipining telah memiliki berbagai tingkat/ unit pendidikan sebagai berikut;

  1. Tarbiyatul Mu’allimin/ Mu’allimat al-islamiyah progam 6 (enam) tahun/ tingkat Tsanawiyah Aliyah (putra berdiri tahun 1988, putri berdiri tahun 1995) berasrama.
  2. TMI tingkat takhasus (berdiri tahun 1990) putra dan putri berasrama.
  3. Madrasah Diniyah Awwaliyah (MDA) 1991, putra dan putri non asrama.
  4. Raudhatul Athfal/ Taman Kanak-kanak (RA/TK) 1992 putra/ putri, non asrama.
  5. Madrasah Ibtida’iyah (MI) 1993 putra/ putri, non asrama.
  6. Pesantren SD/MI, 1994 putra/ putri berasrama.
  7. Madrasah Tsanawiyah (MTs), 1994 putra/ putri asrama (pesantren lokal) non asrama.
  8. Madrasah Aliyah (MA) 1997, putra/ putri asrama (pesantren lokal)/ non asrama.
  9. Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SLTP), 2003 putra/ putri asrama (pesantren lokal)/ non asrama.
  10. Madrasah Aliyah Teknologi (dalam rancangan).

Di antara unit yang ada, TMI lah yang dimaksud dengan pendidikan integral. Ada pun unit yang lainnya yang setara dengan TMI (MTs,/MA/SLTP) sedikit demi sedikit disamakan dengan kurikulum TMI untuk kedepannya.

  1. H.    Kurikulum Pendidikan Darunnajah II.

 

Kurikulum yang dipergunakan adalah perpaduan antara ”Kurikulum Pondok Modern Gontor, Kurikulum Departemen Agama (MTs/ MA/SLTP), dan Kurikulum Salafiyah”.

Bidang studi Ulum Islamiyah dan Bahasa Arab di ajarkan dengan menggunakan bahasa arab langsung sebagai bahasa pengantar mulai dari kelaas 2 (dua) TMI. Demikian halnya pula dengan pelajaran Bahasa Inggris, bahasa pengantarnya pun juga menggunakan Bahasa Inggris. Sedangkan bidang studi lain/ pelajaran umum tetap diajarkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Santri juga diberikan berbagai macam kegiatan dan ketrampilan dengan  2 (dua) opsi kriteria, yakni; wajib dan pilihan. Dengan demikian diharapkan semua kegiatan yang dilaksanakan baik formal maupun non formal mampu menunjang ke arah tujuan pesantren sebagaimana tersebut diatas.

  1. I.       Pendidikan Ekstrakurikuler Darunnajah II.

 

Di luar aktivitas sekolah, santri juga diberikan menu kegiatan ekstrakurikuler. Sehingga harapannya para santri dapat memperoleh ilmu tambahan serta dapat mengasah skill para santri. Jenis-jenis aktifitas para santri yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Bahasa Arab dan Inggris (wajib) dan dipraktekkan secara langsung.
  2. Kepramukaan (wajib)
  3. Pidato/ Khutbah/ Ceramah setelah sholat fardhu dan diskusi (wajib).
  4. Komputer dan Informatika (wajib).
  5. Seni beladiri/ silat (wajib).
  6. Seni tilawah dan kajian kandungan al-qur’an.
  7. Organisasi dan kepemimpinan (wajib)
  8. Praktik mengajar dan imamah (wajib)
  9. Praktek da’wah dan pengabdian masyarakat/ PDPM (wajib)
  10. Ketrampilan dan seni budaya
  11. Olahraga (sepak bola, badminton, tennis meja, basket, renang, volly, dan sebagainya.
  12. Rihlah ilmiyah/ study tour
  13. Safari da’wah mingguan
  14. Magang menjadi guru mengaji dan belajar kitab-kitab.
  15. Majlis ta’lim (masyarakat)

Kegiatan luar sekolah ini telah disusun sedemikian rupa. Sehingga  menjadi satu kesatuan dan dibagi menjadi 5 (lima) bagian yaitu: kegiatan harian, kegiatan mingguan, kegiatan bulanan, kegiatan berkala, dan kegiatan tahunan. Penjadwalan semacam ini, diharapkan supaya kegiatan para santri akan lebih teratur dan tepat sasaran, serta supaya dapat menghasilkan output yang berkualiatas.

  1. J.      Upaya Pembentukan Karakter Santri.

Upaya untuk pembentukan karakter santri, maka pihak pesantren telah mentukan konsep pengajaran pembentukan karakter. Konsep pengajaran tersebut telah di tuangkan ke dalam panca  jiwa Darunnajah II. Yang mana konsep panca jiwa tersebut telah menjadi landasan para santri dalam menjalankan setiap aktifitas di pesantren maupun di luar pesantren.

Untuk menjiwai pengajaran pembentukan karakter, maka pihak pesantren telah mewajibkan kepada setiap santri untuk mengamalkannya dalam setiap kesehariannya. Hal tesebut dapat tercermin ketika para santri melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya; kewajiban santri harus shalat berjama’ah, gotong-royong, belajar, dan lain sebagainya. Adapun  Panca jiwa yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Keikhlasan.
  2. Kesederhanaan.
  3. Ukhuwah Islamiyah.
  4. Berdikari.
  5. Kebebasan.

Di samping itu, Pesantren Darunnajah II juga mempunyai ”motto, yang senantiasa di junjung tinggi oleh para santri. Adapun  ”motto” yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Berbudi tinggi
  2. Berbadan sehat
  3. Berpengetahuan luas
  4. Berpikiran bebas
  5. Kreatif

Demikian pula di dalam mengupayakan pemahaman secara benar terhadap para santri tentang tujuan misi dan arah pendidikan pesantren. Maka, pihak pesantren telah mensosialisaasikannya melalui ceramah-ceramah setiap harinya.  Di samping penghayatan dalam kegiatan sehari-hari, pesantren juga telah mengadakan pengarahan terhadap para santri dengan waktu yang berkala, antara lain sebagai berikut:

  1. Khutbah iftitah (pekan perkenalan) awal tahun pelajaran.
  2. Nasihat dan pengarahan secara rutin di Masjid maupun berkala pada berbagai kesempatan/ acara.
  3. Nasihat menjelang liburan (etiket) dan setelah ujian semester.

Begitu juga di dalam mendidik dan mengembangkan kreatifitas santri, selain adanya pimpinan yang mengatur dan mengontrol segala kegiatan para santri. Menejemen pengelola Pesantren Darunnajah II juga telah dibantu 7 (tujuh) biro sebagai perwakilan yang menangani hal atau ikhlwal yang terjadi di pesanntren sesuai dengan bidang dan job masing-masing. Ketujuh biro dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Biro pendidikan.
  2. Biro pengasuhan santri.
  3. Biro da’wah dan humas.
  4. Biro rumah tangga.
  5. Biro pengkaderan.
  6. Biro keuangan.
  7. Biro usaha.

 

  1. K.    Sifat Santri Darunnajah II

Pesantren Darunnajah 2 Cipining di dalam mendidik putra-putrinya  senantiasa berpedoman terhadap aturan syari’ah dan sunnah-nya yang diharapkan santri dapat menjadi manusia terpilih  sebagai mana harapan pesantren.

Untuk itu pesantren mengambil logo ”lebah” sebagai lambang pendidikan dengan harapan para santri dapat mempedominya. Sifat-sifat lebah itu antara lain sebagai berikut;

1)      Tidak memakan makanan yang kotor

2)      Tidak mau ke tempat-tempat yang kotor.

3)      Mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap pimpinan.

4)      Mempunyai jiwa kebersamaan yang tinggi.

5)      Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.

6)      Organisasi yang solid dan mantap.

7)      Tidak mengganggu kepada yang lainnya, apabila diganggu akan mempertahankannya (berjiwa kesatria).

8)      Banyak manfaatnya bagi yang lain.

  1. IV.            Hubungan Darunnajah II Cipining Dengan Darunnajah I Jakarta.   

Setelah para pengurus yayasan bermusyawarah, terpilihlah nama K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc pada waktu menjabat sebagai wakil pimpinan dibidang pendidikan (beliau juga adalah menantu dari pendiri Darunnajah ). Sebagai pemegang amanat mengelola pesantren darunnajah II Cipining dengan kondisi masih hutan dan terletak di kampung tersebut. Akhirnya dengan penuh tawakkal kepada allah SWT yang bersaangkutan siap untuk mengemban amanat.

Secara struktural Darunnajah II Cipining adalah pengembangan dari Darunnajah I Jakarta dengan kurikulum, kegiatan, tata tertib, yayasan yang sama yaitu Yayasan Darunnajah, hanya saja yang membedakan adalah faktor kondisi dan budaya lingkungan serta teknis pelaksanaannya saja.

Di samping Darunnajah II Cipining, juga ada pesantren Darunnajah III (Al-mansyur Serang), Darunnajah IV juga di Serang, serta Darunnajah V di muko-muko selatan, Bengkulu.

  1. V.            Penutup

 

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran kepada Pesantren Darunnajah II Cipining, dalam mengembangkan pelayanan pendidikan berbasis islam yang berkualitas ini kepada masyarakat. Begitu pula dengan para  santrinya, mudah-mudahan kita semua menjadi manusia yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi yang lainnya.

خيرالناس احسنهم خلقا واْنفعهم للناس

”Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling baik akhlaknya adan paling bermanfaat bagi orang lain”.

 

Semoga apa yang menjadi harapan dan cita-cita kita semua akan terwujud dengan adanya keridha an dari Allah SWT. Amin,,,,,,,

(Wardan/ Kasanudin)