Jul 252012
 

Itikaf adalah berdiam diri di masjid, sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadar. Hukum itikaf adalah sunnah.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW biasa beritikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beritikaf selama dua puluh hari. (HR Bukhari).

Waktu Itikaf.

Menurut mazhab Syafi’i Itikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang beritikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat Itikaf maka syahlah Itikafnya.

Itikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang paling utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan

Rasulullah memulai itikaf dengan masuk ke masjid sebelum matahari terbenam memasuki malam ke-21. Itikaf selesai setelah matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan. Tetapi, beberapa kalangan ulama lebih menyukai menunggu hingga dilaksanakannya shalat Ied.

Dianjurkan untuk memulai itikaf di malam tanggal 21 setelah magrib, kemudian mulai masuk ke tempat khusus (semacam tenda atau sekat) setelah subuh pagi harinya (tanggal 21 Ramadan).

Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian masuk ke tenda itikafnya.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

Rukun Itikaf.

Itikaf dianggap syah apabila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut:

  1. Niat. Niat adalah kunci segala amal hamba Allah yang betul-betul  mengharap ridla dan pahala dari-Nya.
  2. Berdiam di masjid. Maksudnya dengan diiringi dengan tafakkur, dzikir, berdo’a dan lain-lainya.
  3. Di dalam masjid. Itikaf dianggap syah bila dilakukan di dalam masjid, yang biasa digunakan untuk sholat Jum’ah.
  4. Islam, suci dan akil baligh.

Cara ber-Itikaf.

  1. Niat ber-Itikaf karena Allah. Misalnya dengan mengucapkan: Aku berniat Itikaf karena Allah ta’ala.
  2. Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do’a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
  3. Diutamakan memulai Itikaf setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah saw: “Aisyah berkata bahwasannya Nabi saw. apabila hendak ber-Itikaf beliau shalat subuh kenudian masuk ke tempat Itikaf. (H.R. Bukhori, Muslim)
  4. Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca:

 أللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

Ya Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah kami.

Hikmah Ber-Itikaf .

Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.

  1. Lebih mudah memerangi hawa nafsu, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan  jiwa.
  2. Selama beritikaf hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.

Tujuan Itikaf

  1.  Menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah
  2. Meraih keutamaan-keutamaan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan.
  3. Menunggu saat-saat Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan

Hal-hal yang membatalkan Itikaf.

  1. Berbuat dosa besar
  2. Berhubungan seksual.
  3. Hilang akal karena gila atau mabuk.
  4. Murtad (keluar dari agama).
  5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.
  6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud Itikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah.
  7. Orang yang sakit dan  membawa kesulitan dalam melaksanakan itikaf.

Itikaf batal dengan keluar dari masjid tanpa udzur. Dan di antara bentuk udzur yang diperbolehkan adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (seperti makan, minum, mandi, buang air, dan semacamnya) jika memang semua itu tidak bisa dilakukan di masjid.

Orang yang itikaf boleh mengeluarkan sebagian anggota tubuhnya dari masjid dan itu tidak membatalkan itikafnya.

Orang yang beritikaf juga boleh menyisir, bercukur, memotong kuku, membersihkan diri dari kotoran dan bau. Bahkan, membersihkan masjid. Masjid harus dijaga kebersihan dan kesuciannya ketika orang-orang yang beritikaf makan, minum, dan tidur di masjid.

Itikaf bagi muslimah

Itikaf disunnahkan bagi pria, begitu juga wanita. Tapi, bagi wanita ada syarat tambahan selain syarat-syarat secara umum di atas, yaitu, pertama, harus mendapat izin suami atau orang tua.

Kedua, tempat dan pelaksanaan itikaf wanita sesuai dengan tujuan syariah DAN tidak menimbulkan fitnah bagi kaum lelaki. Para ulama berbeda pendapat tentang masjid untuk itikaf kaum wanita. Tapi, sebagian menganggap lebih baik jika wanita beritikaf di tempat shalat di rumahnya. Tapi, jika ia akan mendapat manfaat yang banyak dengan itikaf di masjid, maka tidak masalah.

Wanita boleh mengunjungi mahramnya yang tengah itikaf, dan hal itu tidak mengurangi nilai itikaf seseorang.

Keutamaan Itikaf

Itikaf merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw., dan memiliki banyak keutamaan, antara lain :

  1. Dengan beritikaf orang akan dengan mudah dapat melakukan ibadah shalat fardhu secara kontinyu dan berjama’ah karena dia telah berada di dalam masjid. Berarti dia pulang dengan membawa pahala shalat jama’ah 27 kali lipat dibandingkan shalat sendirian.
  2. Itikaf membantu menguatkan seseoranng untuk mendirikan shalat dengan khusyu’ karena mu’takif (orang yang beritikaf) telah memutuskan perhatian kepada selain Allah. Dia telah melepaskan segala kesibukan dan pikiran duniawi atau apapun yang dapat menghilangkan kejernihan hati dan ketentraman jiwanya.
  3. Itikaf membantu mu’takif untuk menjalankan shalat atau amalan sunnah sebab dia telah mengkhusyu’kan dirinya untuk sibuk dengan berbagai macam ibadah. Ia mengkonsentrasikan pikiran dan jiwanya kepada Allah serta berharap kelak berjumpa denganNya. Rasulullah saw. bersabda, “Sedekat-dekatnya hamba pada Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah (saat bersujud) dengan berdo’a.” (HR. Muslim).
  4. Itikaf membuat orang yang melakukannya selalu beruntung dengan mendapatkan shaf pertama pada shalat berjama’ah. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda. “Kalau saja manusia mengetahui akan (keutamaan) yang ada pada saat adzan dan shaf pertama, maka mereka tidak mendapatkan dirinya kecuali pastilah akan mementingkannya.” (HR. Bukhari).
  5.  Seorang mu’takif akan mendapatkan pahala menunggu datangnya waktu sahalat. Sabda Rasulullah saw., “sesungguhnya salah seorang diantara kamu teteap akan mendapat pahala shalat, selama menunggu shalat (berikutnya). Dan para malaikat pun akan mendo’akan, “Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah berilah dia rahmat,” selama beranjak dari tempat shalatnya (masjid) atau sebelum terkena hadats.” (HR. Bukhari).
  6. Itikaf juga menjaga puasa seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa walau kecil sekalipun, seperti mengumpat, berdebat, bebicara kotor, dan sebagainya. Itikaf juga merupakan sarana untuk menjaga pandangan mata dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
  7. Itikaf juga bisa digunakan sebagai sarana untuk mengintrospeksi diri, mengetahui sajauh mana kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Dalam hal ini, itikaf dapat diibaratkan sebagai rumah sakit, tempat dimana seseorang melakukan pengobatan secara total terhadap penyakit jiwanya, sehingga tidak bertambah parah. Sebagaimana tubuh, jiwa juga memerlukan pengobatan jika sakit.

Ibnu Qayyim Al Jauzi berkata,  “Itikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beritikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah,”.

Itulah urgensi itikaf. Ruh kita memerlukan waktu berhenti sejenak untuk disucikan. Hati kita butuh waktu khusus untuk bisa berkonsentrasi secara penuh beribadah dan bertaqarub kepada Allah saw.

Kita perlu menjauh dari rutinitas kehidupan dunia untuk mendekatkan diri seutuhnya kepada Allah saw., bermunajat dalam doa dan istighfar serta membulatkan niat untuk menjalankan syariat sehingga ketika kembali beraktivitas sehari-hari kita menjadi manusia baru yang lebih bernilai.

Agar itikaf kita berhasil memperkokoh keislaman dan ketakwaan kita, tidak ada salahnya jika dalam beritikaf kita dibimbing oleh orang-orang yang ahli dan mampu mengarahkan kita dalam membersihkan diri dari dosa.

Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan inayahNya kepada kita agar dapat menjalankan itikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Semoga dalam proses ibadah puasa yang sedang kita jalani ini benar-benar menjadi ajang latihan sehingga keluar menjadi “alumni ramadhan” yang berkualitas. Amin!