Pengantar

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berbasis Islam. Lembaga ini menyelenggarakan pendidikan sebagaimana mestinya, yakni untuk memberantas kebodohan. Dengan niat yang suci, setiap detik waktu di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor dimanfaatkan untuk menggali ilmu, baik keilmuan tentang Islam maupun keilmuan tentang dunia. Yang diharapkan, lulusan dari Pondok  Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor,  menjadi generasi yang sukses serta bertaqwa dan berakhlaqul karimah.

Oleh sebab itu Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor, juga mendorong para santri yang telah lulus dari pesantren untuk menjadi da’i dan pengusaha yang sukses.  Dan kesuksesan itu bisa digapai melalui berbagai jalan.

Perlu kita semua sadari, setiap orang pasti menginginkan untuk sukses, tetapi kesuksesan pun tidak bisa diraih dengan mudah. Perlu usaha dan kerja keras. Mungkin kita bisa meraihnya melalui kerja sama dengan orang lain atau berkarya sendiri. Dan pastinya akan banyak saingan yang harus kita hadapi. Siapa yang berkompeten maka dialah yang akan memenangkan persaingan. Yang cerdas dan bisa menangkap peluang, maka dialah pemenangnya.

Di bawah ini adalah merupakan Contoh proposal usaha yang mungkin bisa menjadi tambahan informasi untuk sukses berwirausaha.

  1. A. Judul Usaha

Usaha Budidaya Kelinci Potong (Upaya Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Bagi Calon Pengusaha Muda)


  1. B. Latar belakang masalah

Usaha peternakan kelinci di Indonesia pada umumnya masih merupakan usaha keluarga yang bersifat sambilan dengan pemeliharaan yang masih sederhana.

Dalam upaya memenuhi permintaan daging sebagai salah satu sumber protein hewani dan bahan baku kulit untuk industri, maka usaha peternakan kelinci merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan dalam bentuk usaha peternakan.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan ragam hewani, akan tetapi tidak semua potensi kekayaan aneka ragam hewani di Indonesia tersentuh nilai ekonomisnya. Selama ini kebanyakan masyarakat di Indonesia menganggap hewan (ternak) khususnya kelinci Cuma hewan peliharaan yang disukai oleh masyarakat, karena bentuknya yang lucu.

Akan tetapi disisi lain, kalau kita lihat dari segi ekonomis terutama dalam segi gizi yang terkandung dalam daging kelinci, di sana terdapat berbagai manfaat yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Bahkan ada sebagian masyarakat yang percaya kalau daging kelinci bisa membuat kejantanan pria lebih greng. Kepercayaan seperti itu ada benarnya dan bisa di buktikan secara ilmiah. Berdasarka hasil penelitian, daging kelinci mengandung asam lemak tak jenuh dan kadar proteinnya tinggi, sehingga sangat baik untuk kesehatan.

Menurut Dr. Ir. Sri Martini Msi, pakar kelinci yang juga staf penganjar di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, daging kelinci mengandung protein tinggi dan langsung dapat diserap oleh tubuh, sehingga menimbulkan energi. Mungkin dari energi yang timbul itulah mitos itu muncul di masyarakat.

Dilihat dari khasiat dalam membangkitkan kemampuan pria, daging kelinci tidak terlalu jauh berbeda dengan daging kambing. Namun, kelebihan daging kelinci dibanding daging kambing adalah kandungan proteinnya tinggi dan lemaknya sangat sedikit yakni kadar kolesterol yang terdapat di daging kelinci adalah 39 % untuk lemak jenuh, dan untuk lemak tak jenuh 61 %, sedangkan untuk kandungan kadar protein daging kelinci menduduki posisi tertinggi dibandingkan dengan ternak yang lainnya yakni 20,8 %.[1]

Berangkat dari sinilah nilai ekonomis dari potensi daging kelinci itu muncul. Mulai dari kandungan gizi yang ada sampai pertimbangan penyerapan terhadap daging itu sediri oleh tubuh lebih cepat dibanding dengan daging ternak lainnya. Sebab daging kelinci empuk dan mudah dicerna, terutama yang berasal dari kelinci muda. Daging kelinci sangat baik dikonsumsi anak-anak, remaja, maupun orang dewasa, terlebih yang lemah perut.

Daging kelinci segar tahan 4-6 bulan disimpan di dalam freezer. Disamping daging kelinci tahan lama dalam penyimpanannya, hal itu membuat kepraktisan dan nilai tambah ekonomis dalam hal pengecilan biaya operasional bisnis. Sehingga dalam rangka pemesanan daging kelinci lintas daerahpun akan semakin terjangkau biayanya. Karena tidak ada dua kali kerja, sebab seperti pemotongan kelinci sudah dilaksanakan di suatu tempat tertentu, yang dimana kita tidak usah menyediakan tempat lain untuk penampungan kelici hidup lagi.

Dari segi masakan, daging kelinci juga bisa di olah menjadi berbagai ragam masakan; misalnya sate, gule, sop, dendeng, opor, abon, atau pepes. Masakan daging kelinci sangat digemari orang dari berbagai kalangan, baik orang-orang ekonomi mengah kebawah hingga orang-orang ekonomi menegah keatas.

Dari peluang-peluang bisnis itulah kami tertarik untuk mengembangkan usaha peternakan kelinci. Disamping potensi bisnisnya sangat luar biasa dan pruduknya pun dapat dijangkau oleh semua kalangan pasar, disisi lain yang membuat nilai ekonomis lebih tinggi adalah karena belum banyak masyarakat yang tahu bagaimana sebenarnya peluang bisnis daging kelinci itu. Sehingga untuk pemasarannya pun kami optimis akan meraih pasar yang signifikan. Kami juga akan menjaga kualitas produk yang kami keluarkan. Karena dengan kekuatan kualitas produk itulah kami akan bertahan hingga kesuksesan sesungguhnya akan tecapai.

Kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan adalah sebuah usaha, akan tetapi kami juga sadar bahwa suatu usaha tanpa didasari dengan rasa optimis dan dukungan dari beberapa pihak suatu usaha itu tidak akan bisa berjalan dengan baik. Maka dari sinilah kami butuh dukungan dari yang berwenang untuk mewujudkan impian kami sebagai pengusaha sukses dan handal dalam bidangnya serta bertaqwa. .

  1. C. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada maka permasalahan di adakannya usaha peternakan kelinci ini adalah karena adanya suatu nilai ekonomis yang terdapat di daging kelinci yang masih sangat potensial untuk di kembangkan. Serta  masih sedikitnya setuhan dari tangan bisnisman untuk lebih mengembangkan usaha daging kelinci, khususnya di kota semarang yang masih jarang bisnisman menyentuh peluang usaha peternakan tersebut.

Maka untuk memberi setuhan terhadap bisnis yang masih sangat potensial tersebut kami membuat strategi khusus untuk mengembangkannya. Khususnya dalam bidang peternakan serta strategi pemasarannya, telah kami kemas dengan konsep yang baik, untuk meraup profit yang luar biasa itu.

  1. D. Tujuan
    1. Tujuan usaha ini bermaksud untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship yang handal dan tahan banting  didalam diri mahasiswa.
    2. Sebagai salah satu sarana penunjang pendapatan bagi mahasiswa sebagai proses kemandirian dalam berusaha serta untuk mengurangi angka pengangguran dan sebagai pondasi untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru.
    3. Untuk membudidayakan kelinci potong di dibelakang rumah mahasiswa yang meliputi pengembangbiakan kelinci, pemeliharaan kelinci, pembesaran kelinci, perawatan kelinci dari segala prnyakit yang menyerangnya, serta sampai proses pemasaran yang dimana pemasaran itu merupakan ujung tombak yang akan menentukan profit atau rugi dalam bisnis itu.
    4. Pembudidayaan tanaman kangkung untuk pakan ternak (kelinci) di dekat peternakan, untuk meminimalisir biaya operasional dibidang pakan ternak. Penyediaan pakan ternak dengan memproduksi sendiri diharapkan supaya memperoleh profit yang lebih tinggi.
    5. Diadakannya usaha peternakan kelinci oleh kelompok kreatif mahasiswa ini adalah kerana untuk mengisi pasar yang masih sangat potensial untuk di garap sebagai lahan bisnis. Sehingga diharapkan setelah terselenggaranya usaha ternak kelinci tersebut disamping untuk memberikan profit dan menumbuhkan jiwa  entrepreneurship yang handal dalam diri mahasiswa, juga di sisi sosialnya kegiatan ini telah menyediakan produk yang ada untuk pasar.
  1. E. Luaran

Kegiatan kewirausahaan ini diharapkan mampu untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam jiwa mahasiswa akan pentingnya usaha mandiri. Dalam upaya melaksanakan progam kreafitas tersebut, mahasiswa juga harus melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh, karena melalui progam tersebut mahasiswa dibantu dalam upaya mengembangkan kreafitasnya untuk terjun langsung menangani bisnis nyata. Sehingga yang diharapkan supaya mahasiswa dalam melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh dalam menerapkan keilmuan bisnisnya yang telah diperoleh di bangku kuliah. Dengan adanya etos kerja yang  disebut diatas itulah mudah-mudahan dapat memberikan nilai-nilai bisnis yang dicapai melalui kegiatan tersebut.

Kegiatan kewirausahaan ini diharapkan supaya mahasiswa mampu mengeluarkan output produk-produk yang berkualitas yang mampu diterima oleh pasar yang ada.

Kami yakin, kalau kami akan mampu untuk menembus pasar yang ada, karena potensi bisnis daging kelinci saat ini masih merupakan seperti mutiara yang terpendam didalam lumpur didasar lautan dan belum semuanya tersentuh oleh tangan para bisnisman.

Produk-produk yang kami tawarkan disini merupakan produk daging kelinci potong, dimana kelinci potong merupakan salah satu produk hasil ternak yang dagingnya bernilai ekonomis tinggi. Disamping daging kelinci potong banyak mengandung gizi yang banyak dibutuhkan oleh tubuh manusia, disisi  lain juga daging kelinci bisa dimasak dengan berbagai macam masakan. Hal itulah yang menjadi nilai tambah yang tidak bisa dikalahkan oleh ternak lainnya.

Tabel 1. kadar gizi daging kelinci, ayam, dan ternak lain.

Jenis daging Protein

(%)

Lemak

(%)

Kadar Air

(%)

Kadar Kalori

(MJ/Kg)

Kelinci

Ayam

Anak sapi

Kalkun

Sapi

Domba

Babi

20,8

20,0

18,8

20,1

16,3

15,7

11,9

10,2

11,0

14,0

28,0

22,0

27,7

40,0

67,9

67,6

66,0

58,3

55,0

55,8

42,0

7,3

7,5

8,4

10,9

13,3

13,1

18,9

Sumber: shaver (1981) dan pusat penelitian dan pengembangan ternak (1984)

Dari informasi yang ada di atas itulah kami optimis akan memperoleh pasar yang sifnifikan di pasaran yang ada. Tidak hanya sampai produksi saja yang kami tekankan dalam usaha ini. Kami juga mengatur sistem pemasaran produk-produk daging ternak kelinci kami. Kami akan melakukan ekspansi pasar tidak hanya didalam kota saja. Kalau produk kami telah mencapai target-target yang diharapkan, kami akan melakukan ekspansi pasar hingga merambah luar kota. Sehingga kami pun bisa mengembangkan sayap-sayap bisnis yang ada. Dan hasil dari pemasaran kami adalah sebuah target profit yang melimpah dan bisa memenuhi pasaran yang masih terbuka lebar.[2]

  1. F. Kegunaan

Tingginya tingkat pengangguran dan semakin sempitnya lapangan pekerjaan, seharusnya tak membuat para mahasiswa was-was. Ini bisa diatasi manakala penduduk Indonesia memiliki jiwa entrepreneurship.

Progam kreatifitas mahasiwa (PKM), khususnya dalam bidang kewirausahaan ini. Mudah-mudahan dapat memberikan makna khususnya bagi mahasiswa yang melaksanakannya progam tersebut dan lebih luasnya bisa berpengaruh kepada lingkungan sekitar. Sehingga progam ini betul-betul tidak hanya sekedar tempat untuk berkreasi tingkat kecil-kecialan saja, akan tetapi lebih bermakna sebagai pembelajaran membudayakan jiwa entrepreneurship dalam diri mahasiswa.

Bisa dibayangkan dengan seksama, ketika banyak mahasiswa banyak yang tekun berwirausaha, hal itu tidak hanya para pelaku usahanya saja yang untung, akan tetapi disana pasti banyak yang diuntungkan. Misalnya dalam suatu usaha pasti membutuhkan suatu tenaga kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Maka tidak bisa dipungkiri pula ketika jiwa entrepreneurship ini telah membudaya didalam jiwa mahasiswa. Disini yang diuntungkan bukan pelaku usaha saja, hal ini akan berpengaruh kepada kemakmuran negara juga. Contoh kecil; ketika suatu negara dimana negara itu telah berkurang kemiskinananya, pasti negara itu akan maju.

Maka dari itu, disinilah peran mahasiswa dalam mengaplikasikan keilmuannya melalui kreatifitas yang bisa membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan, yakni melalui berwirausahalah dunia pekerjaan akan semakin terbuka. Karena disini orang-orang tidak akan berebut suatu lowongan pekerjaan kecil yang di perebutkan sampai ribuan orang untuk bekerja.

Jadi, manfaat kami dalam menjalankan progam ini, intinya adalah pertama Melalui progam ini kami akan semakin banyak pengalaman dalam membudayakan jiwa entrepreneurship, kedua Dengan progam ini kami bisa menambah pendapatan kami melalui produk-produk kami yang kami jual, ketiga Dalam proses pemasaran kami akan membutuhkan namanya pembeli (konsumen), didalam transaksi tersebut pasti terdapat orang-orang yang menjembatani antara konsumen dengan produsen, jadi secara otomatis kami dapat menciptakan lapangan kerja lebih luas lagi bagi para pedagang dan bisa memberikan kesempatan yang banyak untuk orang lain juga. Kempat Dalam upaya membantu pemerintah dalam memberantas pengangguran pun, kami bisa melaksanakannya dengan cara membuat lapangan pekerjaan yang baru.

Jadi peran kegunaan progam ini, mulai dari sisi ketika progam itu berjalan sampai dengan laporan akhir progam itu selesai, akan menimbulkan dampak positif bagi mahasiswa serta orang lain. Mudah-mudahan kami bisa melaksankan yang diamanatkan oleh pemerintah ini dengan baik. Dan mudah-mudahan kami akan menjadi mahasiswa kreatif, yang bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

  1. G. Gambaran umum rencana usaha

Awal mula kami mempunyai ide ini, dimulai ketika kami lihat  lingkungan disekitar. Waktu itu kami telah mengamati mulai dari betapa mudahnya kelinci itu hidup di daerah kami sampai pengelolahan pakan ternak pun mudah di jangkau.

Dari sini kami mulai berpikir lebih lajut untuk meningkatkan nilai ekonomis yang telah kami pikirkan itu. Setelah itu kami berpikir ternyata sebuah bisnis kelinci itu lebih menguntungkan dari pada bisnis ternak yang lainnya.

Hal itu awalnya kami melihat potensi yang ada di hewan Kelinci tersebut. kelinci sangat cepat berkembang biak. Pola hidupnya hampir sama dengan tikus dalam hal melahirkan anak. Kalau dikelolah secara intensif, kelinci dapat melahirkan 4-6 kali setahun. Sekali melahirkan dapat menghasilkan anak 4-10 ekor, rata-rata 8 ekor. Yang ideal 6 ekor anak perkelahiran sesuai dengan banyaknya punting susu induk yang berkembang dengan baik.

Selama ini, peternakan kelinci di Indonesia masih diusahakan sebagai peternakan keluarga yang bersifat sambilan. Sebagai alternatif, usaha peternakan kelinci sebenarnya dapat dikembangkan dalam bentuk perusahaan peternakan. Sasarannya target kelinci dapat ditingkatkan dengan target, mutu, dan permintaan pasar yang berkembang.

Kelahiran Terencana

Perkembangan kelinci dapat diatur dengan kelahiran terencana. Kelahiran untuk kelinci terjadi 31-32 hari setelah perkawinan yang berhasil, karena kebuntingan kelinci berlangsung 28-35 hari . berikut ini data-data biologi kelinci.

Data Biologi Kelinci

Lama hidup                         : 5-10 tahun

Lama produksi                   :1-3 tahun

Lama bunting                     : 28-35 hari

Lama penyapihan             : 6-8 minggu

Umur dewasa                      : 4-10 bulan

Umur dikawinkan              : 6-12 bulan

Kawin sesudah beranak   : 1 minggu setelah anak disapih

Siklus kelamin                     : Poliestrus dalam setahun bisa 5 kali bunting

Siklus birahi                         : Sekitar 2 minggu

Periode estrus                    : 11-15 hari

Ovulasi                                   : Terjadi pada hari kawin (9-3 jam kemudian)

Fertilitas                                : 1-2 jam sesudah kawin

Jumlah anak lahir              : 4-10 ekor

Volume darah                     : 40 ml/kg berat badan

Bobot dewasa                      : Sangat bervariasi, tergantung pada ras, jenis     kelamin, dan faktor pemeliharaan.

Kelinci tipe sedang ( bobot dewasa 4 kg) mulai dikembangbiakan setelah berumur 6-7 bulan. Lama induk mengandung sekitar 31 hari. Lama induk mengasuh anak 56 hari. Berdasarkan data itu, kelinci dapat diprogam melahirkan anak empat kali dalam setahun. Dasar perhitungannya sebagai berikut.

31 hari mengandung + 56 hari menyusui            = 87 hari

31 hari mengandung + 56 hari menyusui            = 87 hari

31 hari mengandung + 56 hari menyusui            = 87 hari

31 hari mengandung + 56 hari menyusui            = 87 hari

Jumlah                                                                                = 348 hari

Bila sekali melahirkan rata-rata menghasilkan enam ekor anak, dalam setahun dari satu pasang kelinci dapat diperoleh kelinci baru 4 X 6 ekor = 24 ekor anak. Ini belum termasuk kelinci dewasa yang juga bisa berkembang biak.

Dengan mempersingkat masa menyusui dari 56 hari menjadi 28 hari, kelahiran kelinci dapat ditingkatkan menjadi delapan kali setahun. Kalau rata-rata menghasilkan enam ekor anak, dalam setahun dari satu pasang induk dapat diperoleh kelinci 8 X 6 ekor = 48 ekor anak.

Tabel 2. pengaruh waktu perkawinan ulang dan penyapihan dini

Kawin Ulang

(hari)

Penyapihan

(hari)

Jarak Antar Litter

(hari)

Jumlah Litter/

Induk/Tahun

14

21

28

42

28

35

42

56

45

52

59

73

8

7

6

5

Sumber: James Blakely & David H.Bade,1992.

Catatan: litter = sekelompok anak satu kelahiran.

Progam kelahiran diatur berpangkal pada kapan induk dikawinkan lagi setelah melahirkan. Anak kelici yang telah mencapai umur 28 hari dapat disapih dengan memindahkan kekandang pembesaran. Di desa oro-oro ombo, batu, malang (jawa timur), peternak mengawinkan kembali kelincinya setiap 13-15 hari setelah melahirkan. Kelinci melahirkan setiap 45 hari. Setahun kelinci diprogam melahirkan 8 kali.

Anak dipisahkan ketika berumur 28 hari setelah dilahirkan. Anak yang disapih pada umur itu berukuran kecil dan kondisi karkasnya pun kurang memuaskan dibanding anak yang disapih setelah berumur 42-56 hari. Namun, penyapihan lebih awal tersebut memungkinkan jumlah litter lebih banyak dalam masa setahun. Selain itu, disapih umur berapa pun, anak kelinci biasanya dipotong setelah berumur 56 hari.[3]

Potensi Besar

Kelinci memiliki potensi besar sebagai ternak penghasil daging. Secara teoritis sepasang induk kelinci dapat menghasilkan 80 kg daging dalam setahun. Hal ini berdasarkan daya produksi kelinci menghasilkan anak, dan kemampuan kelinci mengonsumsi pakan yang tidak dimanfaatkan manusia dan ternak industri intensif seperti ayam ras petelur dan pedaging.

Sepasang kelinci umur 5-6 bulan dalam setahun akan melahirkan 4-8 kali. Setiap satu kali kelahiran akan menghasilkan rata-rata enam ekor anak. Bila setahun melahirkan empat kali, akan diperoleh anak 4 X 6 = 24 ekor.

Bila 50% anak dijadikan induk baru, akan diperoleh 12 ekor induk baru atau enam pasang induk baru. Jika enam pasang induk baru tersebut pada tahun pertama melahirkan tiga kali ( per pasang induk menghasilkan anak enam ekor sehingga diperoleh 18 induk muda), akan diperoleh 108 ekor induk muda. Pada tahun pertama itu juga, kelinci muda yang dapat dipotong adalah 24 ekor + 108 ekor = 132 ekor. Kalau berat rata-rata kelinci muda 2 kg/ekor, persentasi karkas 50%, akan diperoleh daging 50% X 2 kg X 132 ekor = 132 kg daging.

Dengan adanya fakta-fakta yang ada, kami pun bergegas untuk mengambil peluang bisnis yang menggiurkan itu. Dan kami optimistis dengan melihat lingkungan sekitar, kami yakin akan memperoleh keuntungan yang signifikan. Sebab kami juga sudah mempunyai sumber daya yang cukup untuk menangani bisnis ini. Baik dari sumber daya insani kami sudah ada, serta sumber daya alam pun juga telah mendukung.

Potensi Peluang bisnis kelinci

Kelinci merupakan ternak potong non-ruminansia potensial bila dilihat dari aspek produksi dan reproduksi. Ternak ini bila dikelola secara intensif dapat beranak 4-8 kali setahun. Dengan tata laksana budi daya yang tepat dan benar akan mampu menghasilkan anak 6-8 ekor perkelahiran, sekaligus dapat dikelola menjadi industri yang menjanjikan.

Disamping kelinci diambil daging dan lainnya, disini kelinci juga akan menghasilkan pupuk kandang yang cukup banyak. Di Indonesia, kelinci sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1912, pada zaman Belanda. Saat itu, kelinci dipelihara sebagai binatang kesayangan oleh para elite pekerja pekerbunan, dan baru diternak sebagai usaha sampingan dan kotoran ternak tersebut dijadikan pupuk kandang sejak tahun 1940-an oleh para petani sayur.

Dalam kemampuan mengahsilkan daging pun kelinci lebih tinggi dibandingkan dengan sapi atau kambing, karena sifatnya yang profilik (beranak banyak). Ternak kelinci cepat berkembang biak, dan beranak banyak (4-8 ekor) per kelahiran. Dalam setahun kelinci dapat diatur 4-8 kali melahirkan.

Secara intensif, produktivitas sapi hanya 35%, domba 63%, kambing 53% dan babi 1.200% pertahun. Produktivitas kelinci lebih unggul, dapat mencapai 2.900% bila dikelola secara intensif. Pengelolaan secara ekstensif, produktivitas kelinci dapat mencapai 390% per tahun . Tetap lebih baik dari pada sapi , domba, dan kambing. Penilaian produktivitas berdasar pada anak yang dilahirkan setiap tahun oleh seekor induk.

Berdasarkan yang telah kami paparkan diatas, maka kami yakin akan memperoleh profit yang sangat menjanjikan. Sebagai contoh kami akan menyajikan hitung-hitungannya secara sederhana.

Contoh:

1. Sepasang induk kelinci dengan kemampuan beranak pertahun 4 kali dengan perkelahiran 6 ekor. Maka dalam setahun kami akan memperoleh; 6 ekor x 4 kali kelahiran/ tahun = 24 ekor.

2. Kalau seandainya kami mempunyai 100 ekor kelinci betina, maka kami akan memperoleh; 6 ekor x 100 ekor (induk kelinci) x 4 kelahiran = 2.400 ekor.

Hal ini kami hitung dengan rata-rata minimum, padahal kalau kami mengelolanya secara intensif lagi, maka kami bisa mengoptimalkan kelahiran terencana. Dalam setahun kami bisa mengoptimalkan 4-6 kelahiran dalam setahun. Bahkan bisa mencapai 8 kali kelahiran dalam setahun.

3.Untuk mengembangkan uasaha, kami akan mengadakan regenerasi. Dalam satu tahun kami akan mengambil 25% dari hasil kelahiran anak kelinci. Kami akan mengambil regenerasi yang berkualitas. Maka dari hasil hitungan nomor 2 diatas, kami akan mengambil 25 % yakni 600 ekor per tahun. Hal ini sebagai investasi jangka panjang. Maka semakin lama usaha kelinci ini berjalan. Maka semakin besar pula pendapatan yang kita dapatkan.

4. Kami akan menghitung profit yang akan kami peroleh pada soal nomor 2 diatas setalah diambil 25% untuk proses regenerasi . Kalau kami bisa memperoleh kelinci baru, dari anak induk yang kami pelihara sebanyak 2.400 ekor – 600 ekor = 1800 ekor ( tahun pertama), maka kalau harga satu ekornya dibuat rata-rata Rp 35.000, maka kami akan memperoleh profit: 1800 ekor x harga per ekor kelinci Rp 35.000 = Rp 63.000.000,     ( laba kotor)

Laba rata-rata, 63.000.000/12 bulan = Rp 5.250.000, per bulan. ( laba kotor)

5. Dengan adanya regenerasi 600 ekor untuk tahun pertama, maka dalam produksi tahun berikutnya kami dengan sangat yakin akan bisa meningkatkan produktivitas ternak kami menjadi berkali lipat. Kalau kami sudah menyiapkan regenerasi 600 ekor untuk tahun pertama, maka kami akan yakin paling tidak kami akan memperoleh kelinci baru lagi bisa tiga kali lipat yakni dari angka 2400 ekor menjadi 7200 ekor untuk tahun kedua. kami akan melakukan hal serupa untuk tehun berikutnya dan seterusnya.

Berdasarkan estimasi diatas, laba bersih dapat diramalkan seperti yang diperlihatkan dalam tabel.3.

Tabel 3. Proyeksi laporan rugi laba usaha kelinci potong.

Tahun pertama Tahun kedua
Penjualan ……………………………

Harga Pokok Produksi

Biaya Tetap………………..

Biaya Variabel (10%  Penjualan……………………

Total Harga Pokok Produksi…………………….

Laba Kotor………………………….

Biaya Operasional

Biaya tetap…………………

Biaya variabel (15% Penjualan)………………….

Total Biaya Operasi…….

Laba operasi………………………..

Laba Bersih…………………………

Rp. 63.000.000

Rp. 10.000.000

Rp.  6.300.000

Rp. 16.300.000

Rp. 46.700.000

Rp. 5.000.000

Rp. 9.450.000

Rp.14.450.000

Rp.32.250.000

Rp. 32.250.000

Rp. 189.000.000

Rp. 25.000.000

Rp. 18.900.000

Rp.   43.900.000

Rp. 145.100.000

Rp. 12.000.000

Rp.  28.350.000

Rp.   40.350.000

Rp. 104.750.000

Rp. 104.750.000

Dengan hasil yang sebesar itu kami masih yakin akan memperoleh profit yang lebih tinggi lagi, sebab kelinci dalam setahun dapat beranak lebih dari 4 kali serta kelinci dapat beranak setiap kelahiran mencapai 8 ekor perkelahiran. Maka yang kami taksir masih ada profit yang masih potensial untuk kami peroleh lagi.

Apalagi dalam operasionalnya, kami telah mengoptimalkan pengelolaan limbah ternak untuk mendukung produksi pakan ternak kami. Kami dapat memangkas biaya produksi, untuk memperoleh laba semakasimal mungkin.

Rencana kami setelah kami sukses dalam memproduksi kelinci dan sukses dalam pemasaran. Kami akan mengembangkan bisnis ini hingga besar. Komitmen kami sudah kami analisis, kalau seandainya progam ini berhasil maka tidak menutup kemungkinan kami akan menjadi pengusaha sukses dan bisa membuka lapangan kerja baru bagi lingkungan sekitar.

Tabel.4. Laporan rugi laba, usaha budidaya kelinci potong

Usaha Budidaya Kelinci Potong

Laporan Rugi Laba

Untuk Per 31 Desember (progam satu tahun)

Penjualan……………………………………………………………………. Rp. 63.000.000

Dikurangi biaya-biaya

Biaya produksi…………………..Rp. 16.300.000

Biaya transportasi………………Rp.   8.000.000

Biaya penjualan…………………Rp.   4.000.000

Biaya administrasi……………..Rp    2.450.000

Rp. 30.750.000 .

Laba bersih…………………………………………………………………..Rp. 32.250.000

  1. H. Metode  Pelaksanaan

1. Metode Produksi

v         Pemilihan Bibit Kelinci

Peternak harus menentukan tujuan, sebelum menjalankan usaha peternakannya. Ia harus melakukan pemilihan dan menentukan sendiri jenis kelinci yang akan diternakan. Setelah pemilihan ditentukan, bibit kelinci dipilih seekor demi seekor. Tiap ekor kelinci untuk bibit harus diseleksi secara teliti. Bibit itu harus diketahui dengan pasti asal usulnya. Bibit kelinci yang jelas asal-usulnya hanya ada di breending farm yang dikelolah dengan baik.

  1. A. Bibit Berkualitas

Agar tujuan usaha peternakan dapat dicapai, diperlukan bibit-bibit yang sehat, produktif, dan mampu mengahsilkan banyak anak, baik jantan maupun betinanya. Karakter dan ukurannya harus sesuai dengan standar ras yang berlaku. Usia Bibit harus masih mudah dan dalam keadaan masih produktif.

Kriteria bibit unggul yang kami gunakan dalam perkembang biakan kelinci adalah sebagai berikut;

1.  Telinga tegak, bersih

2.  Mata bersinar, bulat

3.  Hidung kering, bersih

4.  Mulut kuat, kering

5.  Kuku pendek

6.  Anus kering

7.  Ekor tegak, kering

8.  Otot paha tebal

9.  Bulu punggung panjang dan halus

Beberapa keuntungan yang kami dapat dengan menggunakan bibit yang terjamin kemurnian dan kualitasnya seperti;

1.  Angka kematian ternak rendah, bahkan ada kemungkinan semua anak bisa tumbuh sehat sampai dewasa.

2.  Tata laksana pemeliharaan lebih mudah, karena pembibit akan menunjukkan teknik dan tata cara pemeliharaannya.

3.  Biaya produksi bisa diperhitungkan dengan mudah sesuai dengan sekala ekonomis yang dikehendaki.

4.  Jelasnya modal dan biaya produksi yang diperlukan, sehingga tingkat keuntungan yang diharapkan terukur pasti. Ini kalau beternak kelinci tak sadar sekedar hobi, tapi usaha itu memang dikembangkan sebagai peternakan komersial.

  1. B. Sehat dan Enerjik

Bibit kelinci yang sehat memiliki sifat lincah dan aktif. Gerakannya enerjik, tidak malas-malasan atau mengantuk, dan memiliki nafsu makan yang tinggi. Secara umum, bibit yang digunakan kami untuk peternakan kelinci, memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut.

1.  tipe kepala sesuai ukuran dengan badan

2.  berkaki normal

3.  berbadan bulat

4.  berekor lurus, tegak keatas

Gambar.1 ciri-ciri kelinci sehat dan enerjik

Gambar; ciri-ciri kelinci sehat dan enerjik

v         Kandang dan perlengkapannya

Perkandangan dan perlengkapannya dalam peternakan kelinci sangat tergantung pada kondisi lokasi, situasi, tingkat usaha, dan modal. Tiap peternak memiliki problem sendiri-sendiri.

Kami membuat bentuk dan ukuran kandang dengan menyesuaikan keadaan dan lingkungan sekitar serta pembuatan kandang dengan memperhatikan kemudahan dalam bekerja, mengotrol, dan kehematan waktu dan tenaga dalam pengelolahannya. Sarana dalam kandang juga kami lengkapi dengan fasilitas penunjang kebutuhan kelinci. Sebab kandang yang baik  memiliki andil yang tinggi dalam keberhasilan peternakan karena berperan pada stabilitas kesehatan dan produktivitas kelinci.

Sistem perkandangan, kami rangkum sebagai berikut;

  1. Lokasi kandang

Lokasi yang kami gunakan untuk peternakan kelinci kami tergolong lokasi yang aman dan suasananya pun tenang dari gangguan suara-suara hiruk. Lokasi dikandang pun tergolong tidak terlalu panas, ditempat kami cukup baik untuk beternak kelinci, sebab lokasi ternak kelinci kami berada di desa.

  1. Lantai kandang

Lantai kandang ternak kelinci kami terbuat dari bambu, disini kami menggunakan lantai dengan bambu, disamping harga bambu relatif lebih murah dibandingkan dengan kawat, kegunaan bambu juga tidak kalah jauh dengan kawat. Sebab bambu sifatnya tidak menyerap air, jadi air kencing kelinci dan kotoran kelinci akan langsung jatuh ke penampungan pertama kotoran.

  1. Suasana lingkungan kandang

Suasana dilingkungan sekitar, situasinya tenang dan aman. Kami meletakkan kandang kami jauh dari keramaian dan suara hiruk dan bunyi-bunyian yang keras.  Sebab Kami waspada terhadap gangguan yang tidak terduga, kami mengingat bahwa kelinci merupakan hewan yang mudah terkejut. Kalau kelinci kami sering terkejut, seandainya hal tersebut terjadi maka angka kematian ternak kelinci yang tinggi pun akan kami alami. Dalam progam usaha kami pun pasti akan terganggu.

  1. Pola kandang

Kami menggunakan pola kandang bertingkat tiga, sebab hal tersebut disamping menghemat modal juga akan memudahkan kami dalam hal kebersihan kandang. Bangunan kandang ternak kelinci kami terbuat terdiri dari kayu, kawat, dan bambu.  Tiap ruang kandang kelinci luasnya 1 m x 1 m x 0,5 m, satu unit kandang di isi 3-4 ekor kelinci.

Kelinci dewasa dan kelinci anak dipisah dalam penempatannya. Kandang kelinci kecil sama ukuran kandangnya dengan kelinci dewasa, tetapi perbedaannya kalau kandang untuk kelinci anak, bisa diisi samapai 10 ekor kelinci anak tiap kandangnya.

Untuk bentuk kandang bisa dilihat dilampiran gambar kandang di lembar lampiran belangkang.

  1. Sarana kandang

Sistem perkandangan ternak kelinci, kami lengkapi dengan sarana berupa kotak sangkar, tempat pakan, tempat minum, dan perlengkapan lain.

  1. Kotak sangkar diperlukan untuk menyediakan tempat yang nyaman bagi induk yang melahirkan, sekaligus tempat berlindung bagi anak-anak kelinci yang beru lahir. Ukuran kotak sangkar 30 cm x 30 cm x 40 cm. Pintu keluar masuk kelinci berukuran 15 cm x 20 cm. Di pintu sangkar terdapat tanggul pencegah, setinggi 10 cm dari alas sangkar, hal ini berguna supaya anak kelinci tidak keluar sarang sebelum waktunya.

Gambar kotak sangkar bisa dilihat dilampiran

  1. Tempat pakan kami buat dengan dari bahan papan, dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 7,5 cm. Tempat ini khusus untuk pakan konsentrat. Sedangkan untuk tempat pakan hijuan kami taruh di lantai kandang langsung.
  2. Tempat minum kami buat dari bambu besar, kira-kira ukurannya berdiamter 10 cm dan panjangnya 30 cm.
  3. Penempatan kandang

Penempatan kandang kami tempatkan di dalam ruangan, sebab hal ini untuk menghindari dari adanya gangguan, seperti keamanan, untuk melindungi ternak dari air hujan dan panas matahari. Tetapi walaupun penempatan kandang terdapat di dalam ruangan, kami selalu memberikan fasilitas untuk ternak kelinci kami dengan cermat.

Dalam pembuatan tempat pelindung kandang, kami buatkan ventilasi tempat keluar masuknya udara, serta bisa dijangkau oleh sinar matahari pagi. Hal ini berguna untuk kesehatan kelinci juga. Dan sekaligus untuk memberikan suasana kandang supaya tidak pengap.

Dalam hal untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi biaya, serta mengurangi pencemaran lingkungan. Maka kami akan membuat bentuk konsep kandang yang sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan dan sistem fasilitas yang memadai untuk menunjang peternakan kelinci yang baik dan sehat.

Maka, dalam proposal ini kami telah menyajikan bentuk gambaran perencanaan bentuk kandang yang baik. Untuk lebih jelasnya, Gambar kandang kelinci dan fasilitasnya, serta keterangan telah kami sajikan sebagai berikut:

Gambar 2-5.. Bentuk kandang kelinci dan perlengkapannya

v         Pakan kelinci

Kelinci yang diternak hidup terbatas disekeliling kandang. Kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh perhatian dan perawatan peternaknya. Jenis, jumlah, dan mutu pakan yang diberikan sangat menentukan pertumbuhan, kesehatan, dan perkembang biakannya.

Beternak kelinci bertujuan mendapatkan keuntungan ekonomis dari usaha tersebut maka kami dengan mengoptimalkan kerja kami. Kami menanam kangkung sebagai pakan pokok hijauan bagi ternak kelinci. Kami berfikir bahwa tanaman kangkung sangat mudah tumbuh di daerah kami. Jadi dengan menyewa tanah yang tidak begitu luas kami tanami kangkung, hal ini untuk menjebatani proses pakan ternak yang kontinue.

Dengan demikian, pakan kelinci ternakan kami terdiri dari hijauan sebagai pakan pokok, biji-bijian sebagai pakan tambahan, serta konsentrat sebagai makanan pokok(kering).

Pakan seimbang

Kami juga memberi pakan ternak dengan memperhatikan keseimbangan gizi kelinci ternak kami. Kelinci kami membutuhkan karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan air. Jumlah kebutuhannya tergantung pada umur, tujuan produksi, serta laju atau kecepatan pertumbuhannya.

Pakan kelinci berupa hijauan kami beri 650-700 gram hijauan/ekor/hari serta kami tambah dengan bekatul sebagai konsentrat 120-180 gram/ekor/hari. Kami menggunakan bekatul sebagai konsentrat, sebab di daerah kami banyak terdapat tempat penggilingan padi, sehingga harga bekatul dikampung kami sangat terjangkau harganya. Disamping itu pula menurut informasi yang kami baca di salah satu artikel surat kabar, ternyata bekatul mengandung protein yang tinggi, sehingga dapat memberikan protein yang cukup untuk kebutuhan kelinci.

Pengaturan pemberian pakan

Kami menggunakan pakan dengan bahan pakan yang mudah dijangkau dan harganya juga relatif murah. Akan tetapi kualitas dan nilai gizinya tetap terjamin. Seperti halnya kami menggunakan bekatul sebagai konsentrat, sebab disanping harganya relatif murah, juga kandungan gizinya dan protein yang terkandung didalamnya cukup untuk kebutuhan hidup kelinci.

Cara pembuatan pakan kelinci mengunakan bekatul adalah bekatul sebagai konsentrat dapat diseduh dahulu dengan air yang sudah mendidih dan garam sebelum diberikan sebagai pakan tambahan. Per 3 kg bekatul dicampur satu sendok makan garam. Capuran itu jangan sampai lembek, yang penting cukup basah.

Keteraturan pemberian pakan lebih penting dibanding frekwensi pemberianya. Pakan kelinci boleh diberikan dua atau tiga kali sehari.  Bisa juga sepanjang hari. Mengingat sifat alami kelinci sebagai binatang malam, volume pemberian pakan terbanyak sebaiknya diberikan pada sore atau malam hari.

Pagi dan siang ternak kelinci, kami beri pakan konsentrat (bekatul), baru sore atau malam hari kami beri pakan hijauan untuk memenuhi kebutuhan pakannya sepanjang malam.

Air minum bagi ternak kelinci, kami utamakan menggunakan air bersih atau seteril dari bibit penyakit. Hal ini untuk mengantisipasi timbulnya penyakit yang menyerang ternak kelinci kami. Persedian air minum ini mutlak kami berikan kepada ternak kelinci kami, terutama ketika kelinci mengonsumsi pakan kering seperti konsentrat atau biji-bijian.

Jadwal pemberian pakan, perawatan, dan pembersihan kandang sehari-hari.

Tabel. 5 Jadwal kerja kandang

Waktu Kegiatan
< 08.00

Pukul 10.00

Pukul 13.00

Pukul 18.00

Kandang sudah bersih, kotoran disapu. Lampu dan diding kandang disikat, dipel sampai bersih satu kali seminggu.

Pemberian pakan pertama berupa bekatul ditambah garam, dicampur sedikit air. Perekor kelinci dewasa 100 gram pakan. Pemberian bekatul dapat diganti ampas tahu, atau biji-bijian yang telah dihaluskan.

Pemberian pakan berupa hijauan (kangkung) segar atau hijuan lain. Volume 0,5 kg per ekor kelinci dewasa.

Pemberian pakan berupa rumput segar atau hijuan lain yang banyak mengandung serat kasar. Volume 1 kg atau lebih per ekor kelinci dewasa.

v         Pengolahan limbah ternak

Pengolahan limbah ternak seperti kotoran dan air kencing kelinci serta sisa-sisa pakan kelinci yang tidak dimakan, akan kami tampung dalam suatu wadah khusus penampungan limbah. Hal ini kami lakukan demi kesehatan hewan ternak, disamping itu juga dari penampungan kotoran kemudian kami olah kotoran tersebut menjadi pupuk kandang. Sehingga kotoran tersebut berguna untuk proses produksi pakan hijau, dan akhirnya pun hijauan tersebut digunakan untuk pakan kelinci.

Cara menangani limbah ternak khususnya kotoran kelinci dan air kencing kelinci dengan cara, membuat kandang yang dibawah lantai kandang diberi penadah yang selanjutnya jatuh kepenampungan kotoran. Selanjutnya kotoran di ambil dari penampungan pertama, setelah itu kotoran ditampung dipenampungan kotoran kedua. Yang dimana penampungan kotoran kedua tersebut sekaligus juga sebagai pengelolahan pupuk.

2. Metode pemasaran produk ternak (kelinci)

Berbicara soal potensi pasar maka kami juga harus melihat lingkungan sekitar. Sebab adanya pasar dan siapa yang berpotensi menjadi sasaran pemasaran produk, itu tergantung pada kami harus membagi sasaran (segmentasi) pasar.

Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk kedalam satuan-satuan pasar ( segmen pasar ) yang bersifat homogen[4].

Dasar-dasar yang dapat dipakai untuk segmentasi pasar ini adalah

  1. Faktor demografi, seperti : umur, kepadatan penduduk, jenis kelamin, agama, kesukuan, pendidikan dan sebagainya.
  2. Tingkat penghasilan
  3. Faktor sosiologis, seperti : kelompok budaya, kelas-kelas social, dan sebagainya.
  4. Faktor psikhologis atau psikhografi, seperti : kepribadian, sikap, manfaat produk yang diinginkan, dan sebaginya.
  5. Faktor geografis, seperti : daerah sejuk, daerah panas, dan sebagainya.

Dari sini telah kami telaah untuk mendapatkan potensi pasar yang besar. Dalam pemasaran kami menggunakan sistem kerja sama dengan pedangang yang menyediakan aneka masakan daging kelinci. Kami akan melihat seberapa besar permintaan pasar yang ada di dalam suatu lingkungan pasar potensial.

Pertama, Kami melihat permintaan pasar adalah dengan cara mendata kelompok  tingkat penghasilan yang tinggi. Sebab hal itu sangat potensial sekali  terjadi transaksi jual beli antara konsumen dan produsen barang.

Disini kami ikut adanya permintaan dari pedagang warung makanan yang menyediakan aneka masakan daging kelinci. Jadi kalau semakin banyak penjualan yang terjadi di warung kenlici itu tinggi, maka kami pun akan memasok daging kelinci sesuai permintaan yang ada.

Kedua, Dalam pemasaran kami telah memperhatikan demografi yang ada. Sebab faktor demografi ini sangat mempengaruhi dalam aspek kelanggengan dan kesinambungan penjualan produk. Data ini sangat kami butuhkan, sebab analisis kami, semakin banyak jumlah penduduk yang ada, serta tingkat pendidikan yang berkualitas, maka itu akan memunculkan peluang potensi pasar yang lebih tinggi. Misalnya Dalam setiap hari, tidak semua orang pasti makan di warung A, maka penduduk yang lain yang merupakan potensi pasar akan berpotensi membeli produk makanan yang ada di warung A. Jadi kesimpulan dari demografi ini adalah semakin banyak penduduk yang ada di suatu daerah itu, maka semakin tinggi pula tingkat pasar potensialnya.

Ketiga, Kami membutuhkan  Faktor psikhologis atau psikhografi sebagai analisis pasar. Sebab disini kami telah membutuhkan yang namanya potensi pasar yang tahu kebutuhan akan produk-produk kami. Di pasar ini kami yakin akan memperoleh pasar yang signifikan, sebab sekarang pasar sudah tahu, kalau kandungan yang ada didalam daging kelinci itu lebih banyak mengandung gizi, dan yang paling membuat optimis kami dalam mencakup pasar ini adalah sebab sekarang pasar lebih selektif dalam memilih daging yang akan dikonsumsi untuk kebutuhan pemenuhan gizi.

Kempat, Kami membutuhkan Faktor sosiologis sebagai analisis pasar, sebab faktor kelas-kelas sosial ini bisa menguntungkan kami. Mulai dari sisi kami akan membagi segmen ini sesuai kebutuhan dan selera pasar. Kalau seandainya kami menjual daging kelinci kepada warung makan yang menyediakan makanan untuk kalangan kelas orang menegah keatas, maka kami pun di untungkan dengan adanya permintaan warung makan tersebut meningkat akan kebutuhan daging kelinci kami.

Kelima, Kami membutuhkan faktor geografis sebagai analisis pasar. Sebab hal ini sangat mempengaruhi akan potensi pasar yang membutuhkan daging sebagai barang untuk dikonsumsi.

  1. I. Jadwal Pelaksanaan

Jadwal kegiatan usaha ini di alokasikan selama enam bulan dengan tujuan memberikan kegiatan pelaporan usaha yang dilakukan, dan akan djelaskan pada tabel 4.

Tabel. 6 . jadwal pelasanaan kegiatan

No. Kegiatan Bulan Pelaksanaan
1 2 3 4 5 6
1 Persiapan proposal
2 Seminar dan penyempurnaan proposal
3 Pemilahan Induk,pensiapan persediaan pakan, pemeliharaan, pengembang biakan bibit baru.
4 Pembesaran
5 Penjualan hasil pembesaran
6 Penyusunan draft hasil budidaya
7 Penyusunan laporan akhir

  1. J. Rancangan Anggaran Biaya

Rancangan anggaran biaya untuk proses pembudidayaan kelinci potong, selama periode 6 bulan adalah sebagai berikut, sebagaimana yang akan dijelaskan pada tabel 5.

Tabel 7. Biaya investasi dan modal kerja usaha budidaya kelinci potong.

No. Keperluan Rincian Jumlah  (Rp)
1 Biaya investasi

a.   Induk kelinci 115 ekor

– Induk Betina

– Jantan

b.   kandang

– Kayu mauni ukuran 4 cm x 6 cm panjang 4 m, 18 batang

– Kayu kalimantan ukuran 2 cm x 3 cm panjang 4 m, 8 batang

– Esbes ukuran 1 m x 3 m, 5 buah

– Bambu petung, 12 batang

– kayu waru ukuran 4 cm x 6 cm panjang 4 m, 12 batang

– kayu waru ukuran 2 cm x 3 cm panjang 4 m, 10 batang

– kawat untuk pagar kandang ukuran 1 cm, 19 m

– paku

– engsel

– seng

– papan sengon ukuran 4 m, 3 lembar

c .  perlengkapan kandang

– papan untuk membuat wadah pakan, 5 lembar

@  Rp.     35.000

@  Rp.     30.000

@  Rp.    25.000,-

@  Rp.    20.000,-

@  Rp.    60.000,-

@  Rp.    20.000,-

@  Rp.     20.000,-

@ Rp.      10.000,-

@ Rp.      12.000,-

@ Rp.        1.500,-

@ Rp.      20.000,-

@ Rp.      20.000,-

Rp. 3.500.000,-

Rp.    450.000,-

Rp.     450.000,-

Rp.     160.000,-

Rp.     300.000,-

Rp.     240.000

Rp.     240.000

Rp.     100.000

Rp.     228.000

Rp.       60.000

Rp.       50.000

Rp.       50.000

Rp.        60.000

Rp.     100.000

Sub Total @  Rp.    230.000,- Rp. 5.988.000,-
2 Biaya modal kerja

a. biaya perawatan

– konsentrat ( bekatul) 1 ton untuk persediaan pakan, cara beli bertahap

– persediaan pakan tambahan

– binih kangkung

– persediaan obat-obatan

b.   Biaya Taransportasi

c.   biaya sewa tanah untuk produksi pakan hijauan

@  Rp.     1.000,- Rp.   1.000.000,-

Rp.      642.000

Rp.        20.000

Rp.     300.000,-

Rp.   1.000.000,-

Rp.      600.000,-

Sub Total @  Rp.    1.000,- Rp.  3.562.000,-
3 ATK

a.   biaya print

b.   Laporan Pembukuan

@  Rp.       500,

@  Rp.  11.000,-

Rp.      100.000,

Rp.      110.000,-

Sub Total @  Rp. 11.500,- Rp.      210.000,-
4 Penulisan laporan

a.   Penjilitan X 10

@  Rp.  25.000,- Rp.       250.000,-
Sub Total @  Rp.  25.000,- Rp.       250.000,-
JUMLAH TOTAL Rp.  10.000.000,-

(Wardan/kasanudin)

[1] B. Sarwono, Kelinci Potong dan Hias, Jakarta, Agro Media Pustaka, 2001, hlm 11

[2] Ibid, B. Sarwono, hlm 117

[3] Ibid, B. Sarwono, hlm 93-96

[4] Basu Swastha, Drs, Dh, M.B.A dan Irawan, Drs, M.B.A, Menejemen Pemasaran Modern, Yogyakarta: Liberty Offset, 2003, Cet. 11, hlm. 20

Share: