Potensi  pesantren Darunnajah Cipining yang memiliki lahan seluas 70 hektar di daerah pedesaan, membuka peluang untuk mengembangkan bidang pertanian. Berbagai kerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dengan pertanian dari yayasan KEHATI (2000), APP (Akademi Penyuluh Pertanian—2000), Yayasan Masa & Indononi (2004), PT. Sakinah Mandiri Bogor (2005) dan pada tahun 2008 lalu tergabung dalam program ‘eco-pesantren’ mengukuhkan pesantren ini sebagai ‘pesantren agribisnis’. Bahkan predikat tersebut pada tahun 1995 lalu telah diberikan oleh pemerintah kabupaten Bogor atas nama Bupati Bogor. Pada tahun 1995-1998 juga menjadi pesantren percontohan agribisnis tingkat nasional di bawah binaan Badan Agribisnis Nasional.

Bersama CSS MoRA IPB

Bersama CSS MoRA IPB

Dan semangat dalam mengembangkan bidang pertanian pada tahun 2010 ini salah satunya kembali di ingatkan oleh para mahasiswa IPB yang menyelenggarakan lomba cepat tepat dan karya ilmiah bertemakan ‘santri dan pertanian’ pada pertengahan bulan Mei 2010.  Lomba ini diperuntukkan bagi pesantren-pesantren yang berada di Bogor dan sekitarnya tingkat MA/SLTA.

Sebagai penggerak dari kegiatan ini adalah para mahasiswa yang tergabung dalam program beasiswa Departemen Agama RI dari berbagi pondok pesantren di Indonesia. Mereka tergabung dalam organisasi bernama CSS MoRA IPB karena berdomisili di IPB. CSS MoRA sendiri merupakan akronim dari Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs.

Pada perhelatan ini, Darunnajah Cipining menurunkan 5 tim, 4 tim mengikuti lomba karya tulis ilmiah (LKTI) dan 1 tim untuk lomba cepat tepat (LCC). Dari 4 tim LKTI, pada sesi seleksi makalah semuanya lolos. Setelah melewati semifinal dan final, 2 tim menempati juara 3 dan harapan pertama.

Dalam cabang LCC, meski background MA Darunnajah Cipining bukanlah jurusan IPA, namun dapat menyisihkan sebagian besar lawan-lawannya dan masuk 9 besar dengan lolos babak penyisihan. Di akhir kompetisi, setelah melawan MA Darul Ulum Lido dan MA Al-Atiqiyyah Sukabumi, MA Darunnajah Cipining menempati posisi juara ke-2.

Pembagian Hadiah

Pembagian Hadiah

“Hasil ini memang belum maksimal. Meski waktu yang digunakan untuk persiapan relatif singkat, namun perjuangan dan pengorbanan anak-anak ini cukup maksimal. Mereka menulusuri berbagai literatur baik  di perpustakaan-perpustakaan yang kita miliki maupun di internet. Selain itu mereka juga giat mencari nara sumber untuk diwawancarai guna menyempurnakan tulisan mereka” ungkap Ustadz Afif Maghfuri selaku pembimbing dan staf LP2S (Lembaga Pengembangan Prestasi santri).

Di kesempatan yang lain, sembari memberikan motivasi  untuk terus berkarya dan evaluasi terkait  dengan perlombaan kali ini, LP2S mengharapkan pencapain yang lebih baik untuk tahun mendatang. Karena memang perlombaan ini juga merupakan hajat perdana CSS MoRA IPB atas dukungan  Departeman Agama. Rencana untuk ke depannya, pihak Depag bersedia memberikan kontribusi lebih baik dari segi pendanaan bahkan mengharap agar kegiatan ini melibatkan sekup nasional, mengingat CSS MoRA juga tersebar di 9 perguruan tinggi negeri. (WARDAN/Billah)

Share: