Mari mengenal Pesantren Gontor lebih dalam. Sebenarnya nama lengkap dari pesantren ini adalah Pondok Modern Darussalam Gontor. Namun ada juga yang menyebutnya Pesantren Gontor saja. Pesantren ini terletak di kota Ponorogo Jawa Timur dan memiliki banyak cabang di Indonesia.

Gontor, tentu kita sudah sering mendengar namanya. Nama ini begitu dikenal oleh masyarakat Indonesia (bahkan dunia) berkat konsistensinya memegang prinsip dan menjaga kualitas.

Kiprah alumni Gontor di masyarakat turut memberi sumbangsih terhadap harumnya nama Gontor. Alumninya selain menjadi ustadz dan kyai, juga banyak yang meraih sukses bahkan menjadi tokoh di bidang agama, pendidikan, ekonomi, politik, sosial, seni budaya, pemerintahan dll. Tidak sulit mencari alumni Gontor, orang bilang alumni Gontor ada dimana-mana.

Banyak sudah alumni Gontor yang dikenal masyarakat, Baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Sebut saja Idham Khalid (Ketua MPR RI), Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR RI), Maftuh Basyuni (Menteri Agama), Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PB Nahdhatul Ulama), Emha Ainun Nadjib (Budayawan), Abu Bakar Ba’asyir (Pimpinan Pesantren Ngruki), Ahmad Fuadi (Novelis) dan masih banyak lagi.

Namun demikian kesuksesan alumni Gontor tidak bisa dinilai dari harta, jabatan dan popularitasnya. Jauh diatas semua itu, alumni yang sukses adalah alumni yang mengajarkan ilmunya. Begitu pesan yang sering disampaikan oleh Pimpinan Pondok Modern Gontor.

Di Gontor santri dididik dengan nilai-nilai keislaman yang tidak hanya diajarkan di kelas namun juga diaplikasikan langsung selama 24 jam penuh didalam rutinitas kehidupan pesantren sehari-hari. Gontor menyebutnya sebagai sebuah totalitas. Sehingga santri yang lulus dari Gontor diharapkan bisa menjadi muslim yang baik, berakhlak baik, sehat, dan berwawasan luas.

Kondisi Indonesia akhir-akhir ini yang sangat mengkhawatirkan, membuat banyak orang menjadikan Gontor sebagai sekolah pilihan bagi anak-anaknya. Betapa tidak, kemaksiatan sudah merajalela dimana-mana. Dosa sudah dianggap biasa. Pergaulan bebas, rokok, narkoba, kekerasan, pornografi, zina, judi, minuman keras. Belum lagi kehancuran moral yang hampir setiap detik dipertontonkan oleh media-media kita. Korupsi, penipuan, pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan dll.

Orang tua mana yang rela anaknya menjadi korban kerusakan-kerusakan ini? Tidak ada. Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk dalam hal memilih sekolah dan lingkungan dimana anaknya tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang baik, yang selamat dari kerusakan apapun itu namanya.

Lokasi Gontor yang jauh dari keramaian kota, banyak berpengaruh terhadap kekebalan dunianya dari pengaruh buruk dunia luar. Namun jangan salah, kecanggihan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan justru begitu up to date disana.

Pengakuan terhadap kualitas Gontor oleh banyak pihak tercermin pada status ijazahnya yang diakui dimana-mana. Diantaranya: Menteri Pendidikan dan Pengajaran Republik Arab Mesir, Kementerian Pengajaran Kerajaan Arab Saudi, University of the Punjab, Lahore, Pakistan, Dirjen Binbaga Islam Depag RI, Menteri Pendidikan Nasional RI.

Melihat kehidupan sehari-hari di Gontor, kita akan merasakan kesejukan yang luar biasa. Nilai-nilai luhur yang sudah jarang kita temukan di masyarakat, bisa kita rasakan kehadirannya di Gontor. Nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan ukhuwah Islamiyah tampak jelas menjiwai setiap sisi kehidupannya.

Di awal tahun 2012 Gontor telah memiliki 10 cabang dengan 13 kampus yang tersebar di seluruh Indonesia. Keseluruhan santrinya (putra-putri) yang sedang belajar ada 14.273 orang.

Gontor memisahkan kampus putra dan putri dengan jarak yang jauh sampai puluhan kilometer. Tujuannya untuk meminimalisir pengaruh negatif dari interaksi dengan lawan jenis.

Kampus putra di Ponorogo, sedangkan kampus putri di desa Sambirejo kecamatan Mantingan kabupaten Ngawi Jawa Timur. Kampus khusus putri ini sudah memiliki 5 cabang, 3 cabang di Ngawi, 1 cabang di Sulawesi Tenggara dan 1 cabang di Kediri.

Di Gontor santri dan guru semuanya wajib disiplin taat menjalankan aturan pesantren, tanpa terkecuali. Hasilnya setiap individu jadi terbiasa dan terlatih untuk menjalani hidup dengan disiplin, tidak asal-asalan, tidak malas-malasan. Dinamika rutinitas kehidupan didalam pesantren yang berjalan selama 24 jam terlihat begitu rapi, teratur dan terukur. Aturan-aturan pesantren sudah jelas dan terus disosialisasikan kepada para santri dan guru. Semua ada aturannya, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali.

Kehidupan di Gontor yang dinamis, rapi, teratur dan terukur adalah yang dimaksud dengan totalitas pendidikan. Karena apa yang kita lihat, dengar dan rasakan semuanya adalah pendidikan. Semuanya berperan menyampaikan nilai-nilai pendidikan kepada kita dan membentuk kita sesuai dengannya.

Kita bisa membayangkan Gontor seperti sebuah kota besar yang sangat maju. Seluruh penduduknya aktif beraktifitas dan saling berinteraksi. Aturan-aturannya ditaati dan dihormati. Nilai-nilai luhur dijunjung tinggi dan diaplikasikan didalam setiap aspek kehidupannya.

Kegiatan-kegiatan didalamnya banyak, bervariasi dan sangat dinamis. Bahkan Gontor menyatakan bahwa Al Ma’hadu Laa Yanaamu Abadan (pesantren tidak tidur selamanya). Maksudnya adalah, pesantren selalu sibuk dengan kegiatan-kegiatannya yang banyak dan bervariasi. Bukan hanya sekolah dan mengaji, tapi lebih dari itu Gontor juga memberikan banyak kegiatan ekstra kurikuler.

Ada pramuka, olahraga, kesenian, latihan pidato bahasa bahasa arab inggris indonesia, khutbah jum’at, tau’iyah diniyah, diskusi, komputer, lab bahasa, jurnalistik dalam bahasa arab inggris indonesia, perpustakaan, keterampilan, manajemen organisasi dan koperasi, bersih lingkungan, dll.

Allughatu taajul ma’had. Language is our crown. “Bahasa adalah mahkota pesantren” Begitu Gontor menanamkan kepada santri-santrinya tentang arti penting bahasa. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris diajarkan kepada seluruh santri. Mulai dari dasar sampai yang tinggi. Kedua bahasa ini merupakan bahasa resmi dunia. Terlebih lagi Bahasa Arab merupakan bahasanya penduduk surga. Bahasa Arab adalah kunci terpenting membuka khazanah literatur Agama Islam. Diharapkan kedua bahasa bisa menjadi bekal bagi para santri untuk menambah ilmunya lebih dalam lagi setelah lulus dari pesantren.

Bukan hanya diajarkan, bahasa arab dan inggris juga wajib dipraktekkan oleh para santri dalam kehidupan mereka sehari-hari. Di masjid, di sekolah, di kamar, di lapangan, di kantin, dimana saja. Justru disini kuncinya, bahasa hanya akan bisa dikuasai jika dipraktekkan langsung. Para ahli bahasa modern menyebutnya sebagai metode direct immersion. Metode paling efektif didalam pengajaran bahasa.

Para santri bebas menggunakan bahasa arab dan inggris sesuai kemampuannya tanpa takut salah. Yang penting bicara dulu, salah tidak apa-apa jangan takut. Yang salah itu santri yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah.

Pramuka di Gontor diikuti oleh seluruh santri. Di pramuka mereka belajar banyak hal, bukan hanya bernyanyi dan baris berbaris. Namun lebih daripada itu, pendalaman materi, life skill, kepemimpinan, organisasi dan mental juang juga menjadi fokus kepramukaan di Gontor. Tak heran banyak alumni Gontor yang berhasil memajukan gerakan pramuka di daerahnya.

Di Gontor kegiatan pramuka sangat digemari. Aneka perlombaan pramuka digelar didalam pesantren. Para santri berlomba-lomba memberikan kemampuan terbaiknya untuk meraih juara. Puncaknya, di setiap bulan Syawal Gontor mengadakan Jamrana (Jambore dan Raimuna). Sebuah lomba pramuka bergengsi dengan skala nasional dan diikuti oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Gerakan Pramuka Gontor sendiri punya banyak prestasi di tingkat lokal, regional, nasional dan internasional. Sebab Gontor memang sejak dulu sudah berperan aktif dalam even-even pramuka nasional dan internasional.

Di Gontor santri-santri dilatih bersosialisasi dengan cara penugasan didalam organisasi-organisasi. Mulai dari ketua kamar, ketua kelas, ketua kelompok, ketua organisasi-organisasi kegiatan ekstrakurikuler, ketua regu pramuka dll. Sedikitnya ada 1.500 jabatan ketua yang selalu berputar sepanjang tahun ajaran.

Selain melayani pendidikan di tingkat SLTP dan SLTA, Gontor juga punya perguruan tinggi bagus bernama Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Kampus ISID terpisah beberapa kilometer dari kampus Gontor 1. Perkuliahan di ISID sudah terdiri dari jenjang S-1 dan S-2. ISID mempunyai 3 fakultas yaitu: Tarbiyah, Ushuluddin dan Syariah.

Mahasiswa yang belajar di ISID mayoritas adalah lulusan Gontor, namun ISID juga menerima mahasiswa dari luar selain lulusan Gontor. ISID juga punya pusat studi keislaman dan oksidentalisme bernama CIOS (Central of Islamic and Oksidentalism Studies).

Gontor juga punya majalah bagus berskala nasional. Namanya Majalah Gontor. Majalah ini berisi tulisan-tulisan wawasan keislaman, peluang beasiswa, profil sukses, berita Gontor, bisnis dll. Majalah ini dijual bebas untuk umum, bisa didapatkan di toko buku, penjual majalah dan juga di warung-warung padang atau kunjungi situsnya di majalahgontor.com

Banyak yang bertanya bagaimana caranya memasukkan anak ke Gontor. Mudah saja, cukup bawa anak kita ke Gontor 2 yang lokasinya berdekatan dengan Gontor 1 (pusat). Gontor 2 adalah cabang Gontor yang khusus diperuntukkan bagi calon santri yang hendak mendaftar ke Gontor 1. Di Gontor 2 santri akan dipersiapkan matang-matang untuk menghadapi ujian masuk Gontor 1.

Bagaimana jika tidak lulus ujian masuk Gontor 1? Tenang saja, Gontor masih punya banyak cabang di tempat lain. Anak kita akan ditempatkan di Gontor cabang yang kualitasnya sama bagus dengan Gontor 1.

Gontor juga punya ratusan pesantren alumni, yaitu pesantren yang dipimpin oleh alumni Gontor dan menerapkan sistem pendidikan ala Gontor. Pesantren alumni Gontor ini banyak tersebar di seluruh Indonesia. Diantaranya adalah Pondok Pesantren Darunnajah Cipining di Bogor Jawa Barat. Informasi lengkap tentang pesantren ini bisa dibaca di situs resminya www.darunnajah-cipining.com

Share: