Aug 262010
 

Tahun 40 sampai 132 Hijriah.

Tahun 660 sampai 750 Masehi.

Antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim

Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pendiri Daulat Bani Umayyah ialah cicit dari Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, Ummayah adalah seorang dari pemimpin Quraisy di zaman Jahiliyah, ketinggian dan kemuliaannya seimbang dengan Hasyim bin Abdi Manaf. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau keturunan Umayyah dan keturunan Hasyim selalu berlomba dalam merebut pengaruh dan kedudukan di kalangan Quraisy. Perlombaan itu kerap kali menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah antara kedua belah pihak, baik di zaman jahiliah maupun di zaman Islam.

Diantara keturunan Bani Umayyah yang terkenal ialah: Harb, Abu Sufyan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Yazid bin Mu’awiyah.

Ketinggian derajat Abu Sufyan bin Harb dalam kalangan suku Quraisy dapat dilihat ketika Nabi Muhammad membebaskan Makkah, Nabi pernah berkata ketika itu: “Barangsiapa yang menyarungkan pedangnya, maka ia aman, siapa yang masuk masjid maka ia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka iapun mendapat keamanan”.

Perkataan Rasulullah yang sedemikian itu menjadi tanda kemuliaan besar bagi Abu Sufyan, kemuliaan yang tak pernah diterima oleh siapapun dari para sahabatnya.

Sedangkan Yazid bin Abi Sufyan pernah diserahi oleh Khalifah Abu Bakar memimpin pasukan tentara Islam yang pergi menaklukkan Syam dan kemudian diangkat menjadi gubernur di kota Damaskus, dan  Mu’awiyah bin Abi Sufyan dijadikan gubernur di daerah Syam. Setelah Yazid wafat, daerah pemerintahannya diserahkan oleh Khalifah Umar kepada Mu’awiyah. Kemudian di zaman Khalifah Utsman, Mu’awiyah diangkat menjadi wali atas seluruh negeri Syam.

Demikianlah riwayat keturunan Umayyah ini. Mereka pernah menjadi penguasa di zaman jahiliah dan zaman Islam.

1. MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN

(40 – 60 H. = 660 – 680 M.)

Mu’awiyah bin Abi Sufyan menjadi Khalifah

Mu’awiyah bin Abi Sufyan dapat menduduki kursi Khilafah dengan berbagai cara, yaitu dengan ketajaman mata pandangnya, dengan siasatnya yang halus dan dengan tipu dayanya yang sangat licin. Bukanlah ia mendapat pangkat yang mulia itu dengan ijma’ dan persetujuan ummat Islam, melainkan karena licinnya itu.

Dengan naiknya Mu’awiyah sebagai Khalifah maka berakhirlah hukum syura, pemilihan menurut hasil permusyawaratan terbanyak, yang berlaku di zaman al-Khulafaurrasyidin, yaitu hukum yang menyerupai aturan pemerintahan Republik (jumhuriyyah) di zaman kita ini. Dan pangkat Khalifah menjadi pusaka turun-temurun, maka daulat Islam pun berubah sifatnya menjadi daulat yang bersifat kerajaan (monarchie).

Sesungguhnya Mu’awiyah telah sangat terpengaruh oleh peraturan-peraturan peninggalan Romawi di negeri Syam, yakni di negeri tempat ia memerintah itu.

Kemegahan dan kemuliaan raja-raja yang belum pernah ditiru oleh Khalifah-khalifah yang terdahulu. Dia telah memakai singgasana dan kursi kerajaan serta mengadakan barisan pengawal yang senantiasa menjaga dirinya siang dan malam. Bahkan dalam masjidpun ia mendapatkan tempat yang istimewa, tempat dia sembahyang seorang diri, dijaga oleh pengawalnya dengan pedang tercabut. Hal ini dilakukan karena ia takut kalau terjadi atas dirinya apa yang pernah terjadi atas diri Ali bin Abi Talib.

Kepribadian Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah seorang diplomat Arab yang terkenal, ialah yang ditugaskan oleh Rasulullah s.a.w. menyampaikan surat beliau kepada Kaisar Imperium Romawi (Bysantium), seorang yang beruntung dalam karier politiknya, sehingga dia dapat mencapai kekuasaan dan kedudukan yang amat tinggi yang sebetulnya masih banyak yang lebih pantas darinya. Tabi’atnya yang penyantun lagi sabar menderita atas segala bencana dan celaan dalam mencapai dan melaksanakan cita-citanya.

Dengan sifatnya yang sedemikain itu ia dapat mengalahkan perlawanan partai Khawarij dan partai Syi’ah khususnya, dan melenyapkan kebencian hati ummat Islam atas dirinya pada umumnya. Dalam soal keagamaan, fahamnya luas dan tidak fanatik, ini terbukti dengan pengangkatannya seorang Kristen bernama Sarjun menjadi menteri keuangannya, dan kebijakannya memperbaiki gereja di Irak yang runtuh akibat bencana gempa bumi. Abhkan Ahluzzimmah sendiri, yaitu seorang Yahudi dan Nasrani yang tunduk dibawah undang-undang kerajaan Islam, mengakui akan keadilannya dan ketidak fanatikannya dalam agama. Mereka seringkali menyerahkan perkara mereka yang teristimewa pentingnya kepada Mu’awiyah sendiri.

PENAKLUKAN DI ZAMAN MU’AWIYAH

1- Penaklukan ke arah Timur

Mu’awiyah meluaskan kedaulatan Islam ke negeri-negeri sebelah Timur, hingga sampai negeri Sind (daerah sungai Indus di India). Gubernurnya yang di Khurrasan yaitu Sa’id putera Utsman bin Affan, diperintahkannya untuk menyeberangi sungai Sihon untuk menaklukkan Samarkand dan Sughda (Sogdiana) sehingga kedua negeri itu tunduk dibawan kekuasaannya.

2. Perang melawan Byzantium

Imperium Byzantium senantiasa mengerahkan laskarnya menjarah kenegeri-negeri yang diperintah oleh daulat Islam. Oleh sebab itu ia Mu’awiyah bin Abi Sufyan mempersiapkan laskarnya untuk memerangi imperium itu dari darat dan laut. Untuk melaksanakan pekerjaan yang berat ini agar berhasil, maka ia memerintahkan angkatan perangnya memerangi orang-orang Byzantium terus-menerus, baik di musim dingin maupun di musim panas.

Angkatan perang Mu’awiyah dapat mengalahkan tentara Byzantium dalam beberapa pertempuran di Armenia dan di Asia Kecil. Armadanya yang ketika itu terdiri dari 1700 kapal perang kecil, diperintahkan menyerang pulau-pulau Cyprus dan Rhodus di Laut Tengah, sehingga kedua pulau itu dan beberapa pulau lain di Archipel dapat ditaklukkan.

Pada tahun 48 H. (669 M.) Mu’awiyah melengkapi angkatan perangnya yang dipimpin oleh panglima Sufyan bin ‘Auf beserta sepasukan armada dibawah pimpinan laskamana Fadhalah al-Anshary, untuk menyerang Konstantinopel (Ibukota Byzantium). Sebagai Panglima Besar atas kedua angkatan perang itu diangkat puteranya Yazid bin Mu’awiyah.

Serangan Pertama ke Konstantinopel

Tentara besar itu menyerbu memasuki daerah-daerah Romawi Timur dan kemudian mengepung Konstantinopel. Akan tetapi angkatan perang ini tidak mampu menaklukkan kota itu karena benteng-bentengnya sangat kuat. Akhirnya laskar besar itu terpaksa kembali ke Syam setelah kehilangan beberapa buah kapalnya dan sebagian besar balatentaranya. Dalam pertempuran itu meninggal pula seorang sahabat yang menerima kedatangan Nabi Muhammad dirumahnya sendiri ketika beliau hijrah ke Yatsrib, yaitu Abu Ayyub. Untuk peringatan bagi sahabat yang mulia itu didirikanlah dikemudian hari sebuah masjid megah di tengah kota Konstantinopel bernama Masjid Ayyub. Sampai kini masjid pusaka itu senantiasa diziarahi orang.

Serangan Kedua

Pada tahun 58 H. (679 M.) Mu’awiyah mengerahkan balatentaranya untuk kedua kalinya untuk mengepung Ibukota kerajaan Byzantium itu. Pengepungan yang sekali ini memakan waktu dua tahun lamanya. Akan tetapi  ketika pengepungan itu hampir usai, Mu’awiyah meninggal dunia, dan angkatan perangnya yang mengepung Ibukota Byzantium itu dipanggil pulang ke Syam. Tentunya lembaran sejaran akan berbeda kalau para pengganti Dinasti Bani Umayyah melanjutkan usaha-usaha Mu’awiyah itu dengan sungguh-sungguh.

3. Perang Afrika

Pada tahun 50 H. Mu’awiyah mengangkat Ukhbah bin Nafi’ menjadi wali di Maghrib, Panglima ini dapat mengalahkan serdadu Romawi di daerah itu, sehingga daerah Daulat Islam sampai ke negeri Tunisia. Dengan usaha Uqbah ini banyak bangsa Barbar yang memeluk Islam. Disana didirikan kota Kairawan sebagai markas besar tentaranya. Disana didirikan masjid Nafi’ yang terkenal itu sebagai peringatan atas atas sahabat pemimpin perang itu.

Pengangkatan Putera Mahkota

Pada tahun 56 H. (676 M.) Mu’awiyah mengangkat puteranya Yazid menjadi  putera Mahkota yang akan langsung menggantikan dirinya kalau ia mati. Dengan perbuatannya ini berarti Mu’awiyah telah merubah undang-undang khilafah yang semula dipilih oleh Majlis Permusyawaratan Ummat Islam menjadi turun temurun. Dan diapun telah melanggar janjinya dengan Hasan bin Ali, yaitu janji yang telah diikrarkannya, bahwa pangkat Khalifah sepeninggalnya diserahkan kepada Permusyawaratan Ummat Islam.

Walaupun Mu’awiyah mengemukakan alasan, bahwa dia berbuat sedemikian itu untuk menghindari fitnah dan persengketaan sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Khalifah-khalifah pendahulunya, namun siasatnya yang sedemikian itu menimbulkan huru-hara dan pemberontakan sepeninggalnya.

2. YAZID BIN MU’AWIYAH

(60 – 63 H. = 680 – 683 M.)

Sikap para sahabat atas pemerintahan Yazid.

Ibu Yazid adalah seorang wanita pedalaman yang dikawini oleh Mu’awiyah sebelum ia menjadi Khalifah. Oleh karena itu iapun membawa puteranya Yazid pulang kedusun untuk dididik pada lingkungan yang masih bersih, bahasa yang masih murni dan penuh dengan kearifan dan sopan santun. Maka ia tumbuh dengan sifat badwi nya yang pemberani dan fasih bertutur kata, serta pandai bersair.

Akan tetapi ia bukanlah seorang yang ahli untuk menduduki kursi Kholifah, karena ia dinilai mempunyai tabi’at yang zalim lagi gemar memperturutkan hawa nafsunya melakukan perbuatan maksiat. Oleh karena itu pemerintahannya tidak disukai oleh para sahabat besar dan terutama, seperti Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair.

Perang Karbala (61 H. = 681 M.)

Sebagian penduduk Irak mengirim surat kepada Husein bin Ali meminta ia datang ke Kufah. Mereka mengatakan bahwa mereka bersedia memberikan bantuan kepada Husein dalam sehala hal yang dihajatkannya. Huseinpun terpedaya dengan bunyi surat itu. Dia lupa akan apa yang terlah dilakukan oleh penduduk Irak atas ayahandanya Ali bin Abi Talib dan saudara kandungnya Hasan bin Ali. Dengan pengiring yang jumlahnya tidak lebih dari 80 orang, ia berangkat menuju Kufah. Akan tetapi ketika ia sampai di Karbala, ia bertemu dengan tentara musuhnya (Yazid) yang dikepalai oleh Ubaidillah bin Ziad.

Kematian Husein yang menyedihkan

Dengan peristiwa ini Husein baru insyaf kalau ia tertipu, sebab tak seorangpun dari penduduk Irak yang meminta kedatangannya itu yang membantu. Maka terjadilah pengepungan atas Husein serta para pengikutnya yang hanya sedikit itu oleh tentara Ubaidillah bin Ziad yang berpuluh kali lipat banyaknya. Dalam pertempuran itu Husein terbunuh dengan sangat mengenaskan, kepalanya dipisah dari tubuhnya dan diserahkan kepada Yazid di Damaskus.

Sekalipun Yazid orang yang dzalim dan aniaya, tetapi kematian Husein yang mengerikan itu menyedihkan hatinya, karena ayahandanya (Mu’awiyah) berwasiat kepadanya, bahwa jika nanti ia dapat mengalahkan Husein putera musuhnya itu, ia harus mema’afkannya dan menghormatinya. Tapi kini apa boleh buat, ia hanya bisa memberikan kemurahan hatinya kepada putera-putera Husein dan kaum keluarganya, mereka itu dikirimkannya ke Hijaz dengan segala penghormatan dan kemuliaan.

Pemberontakan Hijaz

Berita perang Karbala yang menyedihkan itu tersebar luas, berita itu menggemparkan ummat Islam. Hati mereka diliputi kesedihan dan dendam yang menyala-nyala. Maka orang-orang Syi’ah bersatu hendak menuntut balas, anti pati ummat Islampun semakin bertambah terhadap keluarga Bani Umayyah.

Kesedihan dan kemarahan itu meluap dimana-mana, terutama di kota Madinah tempat dikuburnya kakek Husein bin Ali, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. Maka meletuslah pemberontakan besar di Madinah menentang pemerintahan Yazid pada tahun 63 H. (683 M.). Kaum pemberontak yang telah naik darah itu dapat mengusir wali Madinah dan menangkapi beberapa orang yang berasal dari keturunan Bani Umayyah.

Untuk memadamkan pemberontakan besar itu Yazid mengerahkan 12.000 orang tentaranya yang dikepalai oleh Muslim bin ‘Uqbah.

Laskar itu mengepung kota Madinah dari jurusan Wadil Harrah, yaitu dari utara kota itu. Kemudian kota itu menyerah dan Muslim memberikan keleluasaan kepada laskarnya untuk berbuat sekehendak hatinya, membunuh, merampas dan menyamun tiga hari tiga malam lamanya di kota suci itu. Sungguh hina dan ngeri sekali perbuatan yang dilakukan oleh angkatan perang Yazid itu.

Ka’bah Nyaris Runtuh

Setelah dapat menundukkan Madinah, Muslim bin ‘Uqbah beserta laskarnya melaju ke Makkah, karena disana Abdullah bin Zubair telah mengangkat dirinya sebagai Khalifah kemudian diperkuat dengan bai’at penduduk kota itu. Akan tetapi semendara dalam perjalanan, Muslim bin Uqbah meninggal dunia dan pimpinan laskar sementara diserahkan kepada hasyim bin Numair seorang panglima Bani Umayyah yang terkenal juga.

Setelah mereka tiba di Makkah, terjadilah pertempuran sengit antara mereka dengan tentara Abdullah bin Zubair (64 H. = 683 M.) Ketika itu sebagian dinding Ka’bah runtuh karena terkena manjanik (pelontar).

Ditengah berkecamuknya peperangan, datanglah berita dari Syam yang menyatakan bahwa Yazid telah meninggal dunia. Dan oleh karena itu Ibnu Numair pun menghentikan peperangan.

Segala peristiwa itu merupakan bencana besar yang telah menimpa ummat Islam di zaman pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah dan tetap menjadi lembaran hitam sejaran pemerintahan Yazid untuk selama-lamanya.

3. MU’AWIYAH BIN YAZID

(64 H. = 683 M.)

Sebelum Yazid meninggal dunia ia telah berwasiat supaya puteranya Mu’awiyah bin Yazid diangkat menggantikan dia menjadi Khalifah, menurut cara yang telah dilakukan oleh ayahandanya Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Akan tetapi Mu’awiyah II bin Yazid ini hanya memerintah 40 hari saja, karena ia sakit-sakitan dan jiwanya memberontak tidak dapat menanggung jawab atas perobahan dan kerusakan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Maka dengan kemauannya sendiri ia turun dari kursi Khilafah, dan pangkat Khalifah diserahkan kepada musyawarah ummat Islam agar mereka dengan merdeka memilih dan mengangkat seorang Khilafah yang layak menurut mereka. Namun cita-citanya itu tidak menjadi kenyataan, karena pemilihan khalifah telah ditentukan oleh kemauan keluarga Bani Umayyah.

4. MARWAN BIN HAKAM

(64 – 65 H. = 683 – 685 M.)

Perpecahan keluarga Bani Umayyah

Setelah Mu’awiyah II menyatakan berhenti dari khilafah, timbul persoalan pelik diantara penduduk Syam, yaitu tentang siapa yang akan dipilih menjadi Khalifah. Kesulitan itu adalah perpecahan dikalangan Bani Umayyah, yaitu kelompok yang hendak mengangkat Khalid bin Yazid yang masih kecil dan kelompok yang hendak mengangkat Marwan bin Hakam, seorang yang tertua dalam keluarga Bani Umayyah. Karena perpecahan inilah khilafah nyaris terlepas dari kekuasaan bani Umayyah.

Penolakan Abdullah bin Zubair

Dalam pada itu Abdulalh bin Zubair semakin luas pengaruhnya. Ia telah diakui menjadi Khalifah oleh penduduk Hijaz, Irak, Yaman dan Mesir, bahkan sebagian penduduk Syam juga telah ada yang berpihak kepadanya. Akan tetapi Abdullah bin Zubair ini bukanlah seorang ahli siasat yang tajam pandangannya.

Hasyim bin Numair panglima perang Bani Umayyah yang memeranginya di Makkahpun telah datang hendak membai’atnya, asalkan ia suka pindah ke Syam. Tetapi tawaran itu ditolak oleh Abdullah bin Zubair, karena ia hendak menghidupkan kemegahan dan kebesaran di tanah Hijaz sekali lagi, dengan menjadikannya sebagai pusat khilafah ummat Islam. Dia tidak menyadari bahwa keputusannya itu telah melenyapkan peluang emasnya untuk menjadi Khalifah secara menyeluruh. Sementara itu Bani Umayyah telah sekata kembali dan kemudian mereka menetapkan Marwan bin al-Hakam menjadi Khalifah pada tahun 64 H. Dengan demikian khilafah telah berpindah dari keturunan Abu Sufyan kepada keturunan Marwan bin al-Hakam, dari belahan suku Umayyah yang lebih besar.

Disini terjadilah perlombaan dua pemimpin besar yaitu Abdullah bin Zubair di Makkah dan Marwan bin al-Hakam di Damaskus.

Huru-hara di Syam

Pada masa pemerintahan Marwan inilah terjadi huru-hara di negeri Syam. Tetapi berkat kesungguhan dan keteguhan hatinya Marwan bisa mengatasinya dan mengirimkan pasukannya ke Mesir dari tangan walinya yang diangkat oleh Ibnu Zubair.

Marwan hanya memerintah selama 9 bulan, waktu tersebut hanya digunakan untuk menguatkan kedudukannya saja, dan sebelum ia meninggal ia telah menetapkan penggantinya dari dua orang puteranya sebagai Putera Mahkota yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz.

5. ABDUL MALIK BIN MARWAN

(65 – 86 H. = 685 – 705 M.)

A. KEPRIBADIAN ABDUL MALIK BIN MARWAN

Setelah marwan bin al-Hakam wafat, timbullah kekacauan dalam Daulat Bani Umayyah, sehingga hampir saja Daulat itu pecah belah dan hancur oleh pemberontakan dan huru-hara dalam negeri. Akan tetapi untunglah Khalifah yang menggantikannya Abdul Malik bin Marwan, yaitu puteranya sendiri seorang yang bijaksana berhati baja, pandai dan cerdik mengurus segala urusan kerajaan. Ia termasuk seorang Khalifah yang besar yang bersejarah dalam Daulat Bani Umayyah.

Langkah pertama kepemimpinannya ialah memadamkan segala pemberontakan dan pembuat huru-hara. Peperangan melawan para pemberontak itu berjalan selama tujuh tahun lamanya, setelah itu pemerintahan berjalan normal dan kedudukan Khalifah menjadi kokoh kembali.

B. KESULITAN-KESULITAN YANG DIHADAPI

1. Menghadapi perlawanan kelompok Syi’ah

Lantaran pembunuhan Husein bin Ali di Karbala, api kemarahan hati ummat Islam menyala atas keluarga Bani Umayyah. Syi’ah berusaha menyebarkan bibit-bibit kebendian ummat Islam yang ada Kufah terhadap Bani Umayyah, sehingga timbul penyesalah dan dendam yang sangat mendalam. Orang-orang Kufah berangkat menuju ke ‘Ainul Wardah, satu tempat dekat sungai Euphrat. Mereka dapat menarik sebagian besar penduduk Basrah san Madain ke dalam barisam mereka. Mereka hendak memberontak.

Setelah Abdul Malik bin Marwan mendengar berita tersebut, ia segera mengerahkan pasukannya sebanyak 30.000 orang dibawah kepemimpinan panglima Ubaidillah bin Ziad. Pasukan ini berhasil mematahkan kaum pemberontak.

Namun sesaat setelah itu golongan Syi’ah yang lain dibawah pimpinan Mukhtar bin Abi Ubaid, sebagai wali Irak yang diangkat oleh Abdullah bin Zubair, menyatakan berdiri sendiri keluar dari kedua kekuasaan baik Bani Umayyah atau Abdullah bin Zubair.

Perlawanan Mukhtar ini memporak-porandakan pasukan Ibnu Ziad, bahkan Ibnu Ziadpun mati terbunuh.

2. Menghadapi Abdullah bin Zubair

Khalifah Abdullah bin Zubair mengangkat saudaranya Mash’ab menjadi gubernur di Irak. Dia diperintahkan oleh Abdullah merebut Irak kembali dari tangan Mukhtar, walinya yang mendurhakainya.

Pertempuran antara laskar Mukhtar dan laskar Mash’ab terjadi, Mash’ab memperoleh kemenangan, sedangkan Mukhtar beserta laskarnya yang berjumlah 7.000 mati terbunuh di medan perang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 67 H. (687 M.).

Setelah Mash’ab membersihkan Irak dari pengaruh partai Syi’ah yang dikepalai Mukhtar bin Ubaid, ia bersiap-siap hendak memerangi Abdul Malik bin Marwan.

Khalifah Abdul Malik bin Marwan dengan segera menyiapkan angkatan perangnya yang terdidi laskar Syam, Mesir dan Aljazair, maka terjadilah pertempuran yang dahsyat diantara kedua belah pihak. Laskan Mash’ab mengalami kekalahan, Mash’ab sendiri terbunuh di medan pertempuran. Kekalahan ini besar terjadi karena penghianatan laskar asal Irak yang keluar dari barisan dan menggabungkan diri dengan pasukan Abdul Malik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 72 H. (692 M.).

Setelah Abdul Malik mengalami kemenangan di Irak itu, ia mengerahkan laskarnya untuk memerangi Abdullah bin Zubair di Hijaz. Untuk melaksanakan niatnya ini Abdul Malik mengirimkan panglimanya al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Saqafi. Panglima ini mengepung kota Makkah sekuat tenaga, sehingga kota itu menyerah dan Abdullah bin Zubairpun dapat dibunuhnya pada tahun 73 H. (693 M.). Setelah peristiwa itu Abdul Malik mengangkat al-Hajjaj menjadi wali atas Hijaz, Yaman dan Yamamah sampai tahun 75 H.

3. Menghadapi Kaum Khawarij

Sesudah Abdul Malik membersihkan Syam dan Palestina dari kaum pemberontak, ia tidak ragu lagi untuk mengarahkan pasukannya menghadapkan pasukannya ke daerah Masyrik (daerah-daerah di sebelah Timur). Untuk ini panglima terkenalnya kembali diperintahkan yaitu al-hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafy. Ia segera berangkat ke Kufah, di dalam masjidnya ia berpidato dengan suara yang keras membanggakan dirinya, menyatakan keras perintahnya atas rakyat yang keras kepala. Dari sana ia terus ke Basrah, dan dinegeri ini ia melakukan hal yang sama seperti di Kufah. Kemudian ia membantu Mahlab bin Abi Sufrah membersihkan Irak dan Persia dari kaum Khawarij. Al-Hajjaj terkenal dalam sejarah karena kekejamannya dan darah dinginnya membunuh sesama manusia.

4. Menghadapi ‘Amru bin Sa’id

Pada tahun 70 H. (690 M.) seorang dari keluarga Abdul Malik yang bernama ‘Amru bin Sa’id mendurhakai Khalifah. Pendurhakaan itu ditumpas dengan tipu muslihat saja, yaitu dengan mengangkat ‘Amru bin Sa’id menjadi putera mahkota. Akan tetapi tidak lama kemudian ia dipanggil mengahadap,  pengangkatan itu dibatalkan dan ‘Amru bin Sa’id dibunuh, kepalanya dilemparkan kepada pengiringnya yang menunggu dibawah. Menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu laskar ‘Amru bin Sa’id kecil hati dan lari cerai berai. Dengan kematian ‘Amru bin Sa’id ini selamatlah ia dari bahaya terakhir yang menggerogoti kekuasaannya.

C. PERBAIKAN YANG DILAKUKAN ABDUL MALIK

Setelah Abdul Malik selesai membersihkan khilafahnya dari para pemberontak, ia segera menghilangkan bekas-bekas peristiwa-peristiwa tersebut, iapun mengadakan perbaikan di dalam, yang dengan demikian ia dijuluki sebagai pendiri Daulat Bani Umayyah yang kedua. Adapun perbaikan-perbaikan itu ialah:

1. Mendirikan pabrik mata uang dan administrasi (dewan)

Sebelum Abdul Malik memerintah, mata uang yang beredar dalam masyarakat ialah mata uang Persia dan Byzantium. Hal ini berubah pada zaman Abdul Malik. Ia mendirikan pabrik mata uang di Damaskus, pada mata uang itu terdapat tulisan ‘La ilaha Illa Allah, dan dibaliknya ditulisi nama Khalifah sendiri.

Surat-menyurat dalam dewan keuangan yang dulunya dengan bahasa Persia dan Romawi diganti dengan bahasa Arab, peraturan ini berlaku di seluruh Syam dan Persia. Sedangkan di Mesir baru dirubah ke bahasa Arab paa masa puteranya Walid bin Abdul Malik.

Usaha Abdul Malik yang demikian itu sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan bahasa Arab, sehingga ia menjadi bahasa pengetahuan, terutama dalam ilmu hisab dan riyadhat (wiskunde). Seiring dengan itu Abdul Malik berusaha menghidupkan kegiatan para pujangga dalam memperindah syair dan karangannya. Dia sendiripun dikenal sebagai seorang ahli pidato yang bijaksana dan penyair yang fasih.

2. Memperbaiki pos intelejen

Ia menyempurnakan sistim pos intelejen yang sebelumnya telah berjalan, disetiap jarak jauh seperjalanan kuda didirikan tempat pemberhentian.

Adapun tugas jawatan pos intelejen yang utama ialah mengamati segala pekerjaan para pembesar negara dan menyampaikan segala kejadian di daerah kepada Khalifah.

3. Membentuk Mahkamah Agung

Untuk memeriksa dan mengadili perkara-perkara pembesar tinggi dan orang-orang yang di pemerintahan, Abdul Malik membentuk Pengadilan Agung. Hal ini sengaja didirikan supaya para pembesar negara yang tertinggi tidak berbuat sekehendak hatinya sendiri kepada rakyat atau kepada bawahannya. Haki yang mengepalai mahkamah ini adalah seorang yang ternama dan salah seorang ahli dalam hukum-hukum agama. Siapa saja yang merasa dirinya tertindas oleh para pembesar kerajaan, boleh mengadukan kepada Mahkamah itu.

4. Mendirikan Bangunan Yang Megah

Abdul Malik tidak lupa memperbaiki kota-kota dengan mendirikan gedung-gedung yang indah, seperti rumah suci Qubbatu Sakhra di Baitul Maqdis dan lain-lain. Demikianpun ia mendirikan sebuah Darus Shina’ah di Tunis, tempat pembuatan kapal perang dan senjata. Dari sanalah didatangkan beratus-ratus kapal untuk angkatan laut Daulat Bani Umayyah.

D. KEMATIAN ABDUL MALIK

Sesudah memeringah selama 21 tahun, Abdul Malik bin Marwan wafat di Damaskus dalam usia 60 tahun. Dari selama itu kurang lebih delapan tahun dihabiskan untuk memberantas pemberontakan dan menghadapi persengketaan dengan Abdullah bin Zubair.

Sebenarnya putera mahkota yang akan menggantikan dia ialah Abdul Aziz,  saudaranya sendiri. Akan tetapi Abdul Aziz terlebih dahulu meninggal. Maka Abdul Malik mengangkat dua orang puteranya menjadi Putera Mahkota, yaitu al-Walid dan Sulaiman.

Ahli sejarah memberi gelar Abdul Malik dengan sebutan ‘Abul Muluk’, artinya ayahanda para raja, karena empat orang dari puteranya menjadi Khalifah, yaitu al-Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam.

6. Al-Walid bin Abdul Malik

(86 – 96 H. = 705 – 715 M.)

Zaman Keemasan Bani Umayyah

Zaman Khalifah al-Walid bin Abdul Malik adalan zaman keemasan dan semegahan Bani Umayyah. Pada zamannya kekuasaan Daulat Bani Umayyah diperluas ke Timur dan Barat. Ke Timur sampai di Hidustan dan perbatasan Tiongkok dan ke Barat sampai di Spanyol dan Perancis bagian Selatan. Di zaman al-Walid bin Abdul Malik inilah peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh pesat, bangunan-bangunan megah, masjid yang indah juga didirikan seperti masjid raya ‘al-Umawy’ di Damaskus  dan juga diperbaharui masjid ‘An-Nabawy’ di Madinah.

Khalifah al-Walid juga dikenal dengan Khalifah yang pengasih dan penyayang kepada para fakir-miskin. Dia sangat memperhatikan hal-ikhwal rakyatnya dan senantiasa berusaha meringankan penderitaan rakyat yang melarat. Ini dapat dibuktikan dengan usahanya mendirikan beberapa rumah sakit untuk orang yang menderita penyakit kusta dan sebagainya. Ia mendirikan tempat-tempat penginapan yang lengkap dengan penjaganya, menyediakan penunjuk jalan dan penghibur hati bagi orang buta.

PENAKLUKAN DI ZAMAN AL-WALID

Ke Daerah Timur

Laskar Al-Walid yang dipimpin oleh panglima Qutaibah bin Muslim telah sampai keseberang sungai Jihon dan sungai Sihon, menaklukkan negeri Bukhara dan Samarkand, yaitu dua negeri yang terletak di Asia Tengah dan mayoritas penduduknya dari bangsa Turki.

Dengan penaklukan ini berarti Daulat Islam meluas sampai pada kerajaan Tiongkok.

Ke Daerah Barat

Di antara penaklukan di zaman Al-Walid juga adalah ke daerah Maghribil Aqsha (Barat jauh) yang pada masa sebelumnya ummat Islam pernah mendudukinya namun kedudukan disana tidak kokoh karena bangsa Barbar selalu memberikan perlawanan. Pada masa inilah al-Walid memperkuat kedudukan ummat Islam disana.

Mereka senantiasa menaruh dendam kepada para Amir Arab yang memerintah merka, karena para Amir disana kerap kali memperlakukan mereka seperti rakyat jajahan, disamping seringnya tentara Byzantium membantu perlawanan mereka.

Untuk memerintah daerah yang selalu bergejolak itu, Khalifah al-Walid mengangkat Musa bin Nushair menjadi wali Afrika Utara. Berkata usaha al-Walid ini Maghribil Aqsha takluk Musa bin Nushair melanjutkan penyiaran agama Islam di daerah tepian laut Atlantik (selain kota Kueta).

Penaklukan Andalusia

Pada tahun 92 H. (711 M.) Musa bin Nushair memerintahkan perwira Thariq bin Ziad, seorang panglima terkenal dari bangsa Barbar, untuk pergi menaklukkan daerah Andalusia (Spanyol) yang ketika itu berada dibawah pemerintahan raja Gothia-Barat yang penuh dengan kedzaliman, penindasan dan penuh ketidak adilan.

Sebelum menyeberang ke daratan Eropa tersebut Thariq bin Ziad beserta laskarnya mempersiapkan diri di lereng sebuah gunung, yang sekarang dikenal dengan nama pemimpin itu yaitu Jabal Thariq yaitu Gunung Thariq, yang juga biasa disebut Giblartar, Selat yang diseberangipun dinamai dengan nama serupa.

Sesampainya di Andalus Panglima Thariq bin Ziad membakar armadanya beserta persediaan makanannya supaya tentara Islam tidak mempunyai fikiran untuk melarikan diri. Siasat Thariq ini membuahkan hasil, perjuangan menaklukkan Andalusia berhasil dan Thariqpun bisa membunuh raja terakhir Gothia-Barat yang zalim itu, dan memperisteri jandanya.

Dengan penaklukan ini Islam telah mengadakan perombakan dan perbaikan secara menyeluruh dan besar-besaran, baik dari sistim kenegaraan, strata sosial dan segala segi kehidupan bermasyarakat.

al-Walid memerintah selama 9 tahun 7 bulan, ia wafat pada usia 42 tahun 6 bulan. Dimakamkan di Damaskus, sepeninggalnya diangkatlah saudara kandungnya Sulaiman bin Abdul Malik sebagai pengganti.

7. SULAIMAN BIN ABDUL MALIK

(96 – 99 H. = 715 – 717 M.)

Siasat Sulaiman bin Abdul Malik

Di zaman Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik kemewahan mewarnai negara. Siasatnya sangat berbeda dengan ayahandanya Abdul Malik dan saudaranya al-Walid. Kalau ayahandanya dan saudaranya itu memberikan kepemimpinan negara dan tentara kepada orang-orang besar seperti al-Hajjaj, Qutaibah, Musa dan Thariq, maka Sulaiman malakukan sebaliknya. Bahkan orang-orang tersebut dipecat dan diganti, dan orang-orang yang berpihak kepada mereka ditangkap dan dipenjarakan.

Tidak lama setelah memerintah, para tawanan yang ditawan al-Hajjaj dilepaskan, keluarga al-Hajjaj di Irak ditangkap dan hartanya dirampas. Demikian pula hal serupa menimpa Qutaibah bin Muslim penakluk negeri di seberang sungai Jihon.

Sebab murka Sulaiman kepada keluarga kedua panglima itu adalah karena mereka pernah berusaha untuk memecat Sulaiman sebagai Putera Mahkota ketika al-Walid masih hidup.

Nasib lebih mengenaskan dialami oleh Musa bin Nushair, panglima perkasa penakluk Afrika Utara dan Andalusia itu menjadi korban kemurkaannya, sehingga ia dipenjarakan dan mati dalam kemiskinan.

Sebab murka Sulaiman atas Musa bin Nushair adalah karena sebelum al-Walid wafat, Sulaiman mengirimkan surat kepada Musa bin Nushair agar ia tidak datang ke Damaskus dan membawa harta rampasan perang sebelum al-Walid wafat, dan harta itu supaya dibawa setelah al-Walid wafat, hal ini dimaksudkan agar harta itu jatuh ke tangan Sulaiman, namun permintaan itu tidak diindahkan oleh Musa bin Nushair, ia tetap datang ke Damaskus dan membawa harta rampasan perang ketika al-Walid masih hidup. Inilah yang membuat Sulaiman marah, dan kemarahan itulah yang dibalaska setelah  ia menjadi Khalifah dengan kekejaman yang luar biasa.

Pengepungan Konstantinopel yang ketiga

Kota Konstantinopel dikepung laskar Islam untuk ketiga kalinya pada masa pemerintahan Sulaiman. Sebelum al-Walid wafat, ia telah menyiapkan angkatan perang besar untuk menyerang Konstantinopel dibawah pimpinan Saudaranya Maslamah bin Abdul Malik, usaha ini diteruskan oleh Sulaiman.

Armada Islam ketika itu terdiri dari 1700 kapal dan membawa 100.000 tentara. Seorang pangeran Byzantium yang bernama Pangeran Leo menggabungkan diri ke dalam laskar Islam yang berada di Asia Kecil, namun bergabungnya itu mempunyai maksud untuk merebut mahkota Byzantium.

Laskar Islam dari Asia Kecil itu dapat merebut satu persatu kota-kota di Asia kecil, sehingga mereka menyeberang mendekati dinding kota Konstantinopel. Disana mereka bertemu dengan angkatan laut yang datang dari Syam dan Mesir, lalu mereka mengepung kota itu bersama-sama.

Akan tetapi ketika pengepungan berda pada puncaknya, pangeran Leo memaklumkan diri sebagai Kaisar Byzantium, lalu ia berbalik memerangi orang Islam. Armada Islam dibakarnya sehingga banyak sekali tentara Arab yang binasa. Mereka kembali ke Syam dengan menderita kerugian yang sangat besar.

8. UMAR BIN ABDUL AZIZ

(99 – 101 H. = 717 – 720 M.)

Umar bin Abdil Aziz dipandang ummat Islam seperti Khalifah Umar bin Khattab dalam keadilan dan kesalehannya. Hal ini tidak mengherankan, karena sesungguhnya ibu Umar bin Abdil Aziz adalah seorang  puteri dari ‘Ashim bin Umar bin al-Khattab. Maka dia mewarisi beberapa sifat yang mulia dari kakeknya Umar bin Khattab, seperti zuhud, wara’, adil dan ahli ilmu agama.

Karena kepribadian dan siasatnya yang mengikuti Khalifah Umar bin Khattab itulah maka sebagian orang menjulukinya sebagai ‘Khulafa’urrasyidin yang kelima’.

Di zaman Khalifah Abdul Malik dan al-Walid dia menjadi wali di Hijaz. Di tangannyalah usaha memperbaiki masjid Nabawy di Madinah dan pemerintahannya berjalan dengan sempurna.

Ketika ia mendengar wasiat Khilafah yang jatuk kepadanya, ia menangis akan berat beban dan amanat yang ia embah sebagai Khalifah. Pada masanyalah perintah penulisan Hadits dimulai, karena setelah semakin banyaknya kelompok Ummat Islam, Umar khawatir ummat Islam lebih mendengarkan ucapan pimpinan kelompok masing-masing daripada sabda Rasulullah s.a.w.

Siasat Dalam Negeri Umar bin Abdil Aziz

Khalifah Umar bin Abdil Aziz mengganti wali-wali y ang diangkat oleh Sulaiman dengan orang-orang yang dipandangnya cakap, dan layak untuk mendapatkan jabatan itu. Mereka bertanggung jawab penuh atas kesempurnaan jalannya pemerintahan dalam wilayah mereka masing-masing di hadapan Khalifah. Mereka tidak boleh menjatuhkan hukuman mati atas seseorang sebelum ketetapannya disetujui oleh Khalifah.

Satu diantara bukti keadilan Khalifah Umar bin Abdil Aziz adalah sikapnya yang menyama-ratakan hadiah dan pemberian kepada ummat Islam, dengan tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain. Ia berusaha memperbaiki hubungan antara Bani Umayyah dengan keturunan Ali bin  Abi Talib beserta golongan Syi’ah. Dahulu sejak tahun 41 H. ketika Hasan bin Ali menyatakan berhenti dari kursi Khalifah dan menyerahkannya kepada Mu’awiyah, nama Ali bin Abi Talib selalu dicela diatas mimbar apabila Bani Umayyah berpidato. Maka sejak Umar bin Abdil Aziz memerintah pada tahun 99 H. tidak ada lagi pidato yang menjelekkan keluarga Ali bin Abi Talib.

Siasat Luar Negeri Umar bin Abdil Aziz

Khalifah Umar bin Abdil Aziz menjauhkan diri dari penaklukan negeri-negeri. Angkatan perang Islam yang sedang mengepung Konstantinopel dipanggilnya pulang ke Damaskus. Minatnya dihadapkan kepada perluasan agama Islam. Beberapa orang Muballigh dikirim menghadap para raja Hindu dan Sind menyeru mereka ke dalam Islam. Mereka tidak diwajibkan membayar upeti dan kemerdekaan mereka tidak diganggu. Hal yang seperti itu juga dilakukan kepada raja-raja Turki dan Amir Barbar di Afrika.

Siasat Khalifah Umar bin Abdil Aziz yang sedemikian itu justru besar pengaruhnya, sehingga beberapa raja Hindu denga tulus mereka memeluk agama Islam.

Kematian Umar bin Abdil Aziz

Ia memerintah hanya dua tahun dua bulan lamanya, namun namanya harum semerbak sepanjang masa, Khalifah yang budiman itu wafat paa tahun 101 H. (720 M.) pada usianya yang ke 39 tahun.

9. YAZID BIN ABDUL MALIK

(101 – 105 H. = 720 – 724 M.)

Pada permulaan pemerintahannya Yazid bin Abdul Malik mengikuti jejak Khalifah Umar bin Abdil Aziz. Akan tetapi yang demikian itu hanya sebentar. Tidak lama kemudian timbul dari tindakannya yang menyebabkan kekalutan dalam kerajaan.

Sendi kedaulatan Bani Umayyah mulai goyah, di jazirah Arab terjadi huru-hara dan pemberontakan.

Yazid bin Mahlab bekas penglima dan Amir di Masyrik yang dipenjarakan di zaman Umar bin Abdul Aziz dapat melarikan diri dari penjara ketika Umar bin Abdil Aziz wafat. Ia mengadakan pemberontakan, Wali Bashrah ditawan, Kufah juga ditaklukkan, sehingga ia banyak dapat  pengikut dari dua daerah itu.

Setelah besarnya ancaman bahaya yang datang dari Yazid bin Mahlab, Khalifah mengerahkan tentaranya dibawah pimpinan Maslamah bin Abdul Malik. Tapi walaupun Maslamah dapat membunuh Yazid bin Mahlab dan mengalahkan para pengikutnya, namun pengaruhnya sangat besar dalam Daulat Bani Umayyah.]

Dizaman Khalifah Yazid inilah keluarga Bani Abbas mulai menghimpun kekuatan di Khurrasan pada tahun 103 H. (722 M.). Keluarga inilah yang nanti akan meruntuhkan kekuasaan Bani Umayyah. Pada masa Yazid ini pula lahir seorang bernama Abul Abbas Assafah (penumpah darah), yaitu khalifah pertama dari keluarga Bani Abbas.

Khalifah Yazid wafat pada tahun 105 H. (724 M.) pada usia 40 tahun. Pemerintahannya yang hanya 4 tahun 1 bulan ini diwarnai dengan kemewayah, aniaya dan huru-hara.


10. HISYAM BIN ABDUL MALIK

(105 – 125 H. = 724 – 743 M.)

Hisyam bin Abdul Malik ditetapkan sebagai Khalifah dihari wafatnya Yazid pada tahun 105 H. (724 M.). Dia seroang Khalifah yang bijaksana, budiman, mulia dan perkasa. Ia dikenal sebagai seorang negarawan yang pandai, mempunyai ketelitian dan pandangan yang tajam. Pernah ada yang mengatakan bahwa negarawan terpandai selama pemerintahan Bani Umayyah adalah Mu’awiyah, Abdul Malik dan Hisyam.

Pemberontakan di Kufah

Pada masa pemerintahannya ini timbul pemberontakan dari keompok Zaidiyah yang dikepalai oleh Zaid bin Ali Zainul Abidin, keturunan Ali bin Abi Talib, ia menyeru orang Kufah untuk membaiatnya sebagai Khalifah, pengikutnya sebanyak kurang lebih 15.000 orang.

Namun pemberontakan kelompok Zaidiyah ini dapat dipadamkan oleh Amir Kufah Yusuf bin Muhammad. Pengikut Zaid banyak yang lari meninggalkannya, dan dengan tentara yang tidak seberapa banyaknya Zaid meneruskan perlawanannya hingga ia mati terbunuh dalam peperangan melawan Amir Kufah itu pada tahun 122 H. Seorang putera Zaid yang bernama Yahya dapat melarikan diri ke Khurrasan, ia menetap disana selama 3 tahun.

Penduduk Khurrasan membaiatnya sebagai Khalifah, dan kemudian mengadakan perlawanan terhadan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, namun nasibnya tidak jauh berbeda dengan ayahnya, ia mati terbunuh dalam pertempuran, kepalanya disula dan dibakar.

Penaklukan di zaman Hisyam

Zaman Hisyam adalah zaman banyak penaklukan, ia tidak berhenti memerangi orang Byzantium di perbatasan Siria dan Asia Kecil dan orang Turki di Kaukasia. Panglima tentaranya dari keluarga Bani Umayyah sendiri.

Pertempuran di Tours dan Poitiers

Di zaman Hisyam bin Abdul Malik ini laskar Arab yang di Andalus menyerbu masuk tanah Perancis, mereka sampai di kota Tours di Perancis selatan. Semula laskar Islam mengalami kemenangan atas kecerdikan panglimanya Abdurrahman al-Ghafiqy.

Akan tetapi cahaya mereka mulai pudar dikala di musim dingin memasuki kota Tours dan Poitiers, Abdurrahman kalah besar, laskarnya cerai-berai diserbu oleh laskar panglima Karel Martel, pahlawan terkenal Perancis. Dengan kekalahan itulah benua Eropa terlepas dari kekuasaan laskar Islam.

Perbaikan di zaman Hisyam

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik sangat mementingkan kemakmuran kerajaannya. Untuk pengairan ia memerintahkan penggalian beberapa sungai, terutama di tempat-tempat sepanjang jalan ke Madinah. Di zamannya didirikan kerajinan sutera, diperbanyak pabrik senjata dan pabrik pembuatan pakaian tentara.

Hisyam seorang yang gemar memelihara kuda pacuan dan dialah khalifah yang pertama kali mengadakan tempat pacuan kuda.

Sifat Hisyam bin Abdul Malik yang dicela ialah kekerasannya dan penindasannya atas kaum ‘Alawiyyin’, tabiatnya kasar dan pelit.

BANI UMAYYAH MENJELANG KERUNTUHANNYA

Al-Walid bin Yazid Khaliah yang buruk

Sepeninggal Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Daulat Bani Umayyah memasuki masa mendekatnya masa kehancuran. Pada tahun 125 H. al-Walid bin Yazid menduduki singgasana Khalifah.

al-Walid bin Yazid adalah Khalifah yang sangat ‘aib dan buruk, sikapnya penuh angkara murka dan sering melakukan yang dilarang oleh agama. Oleh karena itu para pembesar terutama dari keluarganya sendiripun membencinya, maka ia dibunuh oleh keluarganya sendiri. Ia digantikan oleh Yazid  kemudian Ibrahim yang keduanya putera dari al-Walid bin Abdul Malik.

Kemunduran memuncak di zaman Yazid dan Ibrahim

Pada masa Yazid dan Ibrahim bin al-Walid inilah kemunduran Bani Umayyah memuncak, sementasa sasana keluarga Abbasiah di Khurrasan hidup dengan suburnya.

Marwan bin Muhammad, pahlawan yang malang

Pada tahun 127 H. (745 M.) Marwan bin Muhammad, yaitu Khalifah yang terakhir dari keluarga Bani Umayyah menaiki singgasana Khilafah. Ia seorang ahli negara yang bijaksana dan seorang pahlawan yang perkasa, akan tetapi nasibnya buruk, dengan sifat-sifatnya yang mulia itu ia tidak dapat mempertahankan Daulat Bani Umayyah dari keruntuhan.

Pemberontakan terjadi di seluruh kerajaan, kelompok Khawarij mengadakan huru-hara di Palestina, Hadramaut dan Yaman. Marwan bin Muhammad dapat menundukkan pemberontakan-pemberontakan tersebut namun ia tidak berdaya menghadapi pemberontakan Bani Abbas.

Pada suatu hari Marwan bin Muhammad dapat menangkap sepucuk surat yang dikirimkan oleh Ibrahim al-Imam (keturunan Abbas yang menjadi kepala kelompok Abbasiyah) kepada Abu Salmah, muballigh yang juga tangan kanan keluarga Abbasiyah di Irak. Berdasarkan surat itu Ibrahim al-Imam ditangkap, dipenjarakan dan dibunuh.

Sebelum ia meninggal ia berwasiat kepada para pengikutnya agar mereka berusaha dengan sekuat tenaga menyampaikan cita-citanya, dan mereka harus mengangkat saudaranya yaitu Abul Abbas dan kemudian Ja’far, menjadi Khalifah. Keluarganya disuruh sesegera mungkin untuk meninggalkan Kufah.

Khurrasan menjadi pusat gerakan kelompok Bani Abbas

Sebab dijadikannya Khurrasan sebagai pusat kegiatan Bani Abbas, karena letaknya yang jauh dari pusat Ibukota kerajaan Bani Umayyah yaitu Damaskus, dan karena penduduk Khurrasan sangat membenci keluarga Bani Umayyah karena kezaliman mereka atas penduduk Khurrasan.

Seorang pengikut dan tulang punggung keluarga Bani Abbas ialah Abu Muslim Al-Khurrasani, dengan tipu dayanya dan kelicinan siasatnya ia dapat memecah-belah suku-suku Arab di Khurrasan. Setelah berhasil ia memerangi wali negeri itu yang diangkat oleh Marwan yaitu Nashru bin Saiyar. Nashru dikalahkannya dan ia berkuasa di Khurrasan.

Ia beserta laskarnya berangkat ke Irak, lalu menundukkan kota Kufah. Disana ia menetapkan Abul Abbas Assafah menjadi Khalifah dari Bani Abbas yang pertama, pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal tahun 132 H. = 30 Oktober 749 M.

Akhir hayat Marwan bin Muhammad

Setalah Abul Abbas menjadi Khalifah pertama dari Bani Abbas, dia memerintahkan kepada pamannya Abdullah bin Ali untuk memerangi Marwan bin Muhammad. Abdullah segera mengerahkan laskarnya. Ditepi sungai Zaad (anak sungai Tigris) bertemu dengan pasukan Marwan yang berjumlah 120.000 orang. Tetapi laskar Marwan yang banyak itu tidak kuat menahan serangan musuhnya, ia dikalahkan oleh Abdullah. Marwan terpaksa melarikan diri menyeberangi sungai Tigris untuk menuju Mosul. Akan tetapi penduduk negeri itu tidak suka menerima kedatangan Marwan, mereka segera merusak jembatan yang akan dilaluinya, akhairnya Marwan berbelok memutar haluannya menuju ke Herran dan kemudian terus ke Damaskus. Dia dikejar oleh Abdullah sampai ke Fusthath (Mesir). Sampai disini Abdullah menyerahkan tugasnya memburu Marwan itu kepada saudaranya Saleh bin Ali.

Di desa Bushair, di Alfayaum (Mesir) Saleh bertemu dengan Marwan, dan Khalifah yang malang itu mati dibunuh oleh musuhnya. Kejadian yang menyedihkan ini terjadi pada 27 Dzulhijjah 132 H. atau 5 Agustus 750 M. Kepalanya disula dan dikirimkan ke Kufah kepada Abul Abbas Assafah. Demikian seluruh keluarga Khalifah Bani Umayyah dibunuh keluarga Bani Abbas, hanya satu dari keturunan Bani Umayyah yang selamat dan melarikan diri ke Andalus, yaitu Abdurrahman.

Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulat Bani Umayyah dan berkibarlah bendera hitam yang menjadi syi’ar lambing persatuan Abbasiyah dengan jayanya diatas menara benteng-benteng Damaskus.

SEBAB-SEBAB RUNTUHNYA DAULAT BANI UMAYYAH

1. Pengkhianatan atas diri Ali bin  Abi Talib

Sebagian besar sebag yang membuka jalan baginya utnuk menjadi Khalifah adalah dengan ketajaman mata pedangnya dan kebijaksanaannya. Dengan tipu dayanya dan kebijaksanaannya ia dapat memusnahkan segala rintangan yang menghadangnya dan mematahkan perlawanan kaum Khawarij dan Syi’ah. Namun ia telah melakukan kesalahan besar, yaitu dengan perbuatannya yang selalu menghina Ali bin Abi Talib dan merendahkan derajatnya pada khutbah-khutbahnya di hadapan ummat Islam. Inilah yang menyalakan api kemarahan Syi’ah kepadanya.

2. Melanggar janji dengan Hasan bin Ali

Kesalahan yang kedua ialah pelanggaran atas janji yang ia ikrarkan kepada Hasan bin Ali, yaitu bahwa pengangkatan Khalifah sepeninggalnya harus diserahkan kepada permusyawaatan ummat Islam. Janji ini telah dibatalkan dengan pengangkatan Yazid sebagai Putera Mahkota. Inilah yang menyebabkan terjadinya perang Karbala dan terbunuhnya Husein bin Ali;  peperangan yang sangat mengenaskan hati ummat Islam sehingga mereka banyak yang memihak kepada keturunan Ali dan Fatimah.

Peristiwa itu pula yang menyebabkan api pemberontakan dan huru-hara dimana-mana menentang kekuasaan Bani Umayyah. Abdullah bin  Zubair memberontak di Makkah. Mukhtar bin Ubaid durhaka di Irak, Syi’ah menghidupkan perlawanan dimana-mana, sehingga sendi singgasana Bani Umayyah menjadi goyah, memang ketika kerajaan sedang kuat mereka bisa ditindas tapi gerakan itu bagaikan api dalam sekam, ia tetap selalu menyala.

Peraturan yang dibuat oleh Mu’awiyah menjaikan pangkat Khalifah menjadi turun temurun dalam keluarga bani Umayyah, padahal keturunan Nabi pun tidak memperoleh pangkat itu.

Peristiwa yang juga menyakiti hati ummat Persia juga yang menimpa Ali Zainul Abidin bin Husain bin  Ali, yang mana ibundanya dalah puteri  Yazdayird Kisra Persia yang sangat dimuliakan di Persia. Oleh karena itu keturunan Husein bin Ali menjadi termulia dan terutama sekali menurut keyakinan orang Persia, karena turunan itu merupakan pertalian keluarga Nabi dengan keluarga Kisra. Orang Persia ingin melanjutkan kerajaan Islam di bawah kuasa gabungan darah bangsawan Persia dengan darah suci turunan Nabi.

Orang Persia juga terhina oleh siasat Bani Umayyah, karena ia amat mengutamakan bangsa Arab dan tidak mengindahkan bangsa selain Arab. Pangkat yang tertinggi hanya boleh dijabat oleh orang Arab. Bangsa lain walaupun telah memeluk agama Islam diwajibkan juga membayah jizyah. Dan tentara yang bukan bangsa Arab tidak diberi hak menerima pembagian harta rampasan perang sebagai tentara Islam, sekalipun agama Islam telah membentangkan hak persamaan diantara kaum muslimin.

3. Ta’assub Jahihiyah

Bani Umayyah menghidupkan kembali faham kebangsaan di masa jahiliah, yaitu baham kebangsaan yang sempit yang tidak diizinkan oleh agama Islam. Pemberian Khalifah atas suku tertentu tidak sama denga yang diberikan kepada suku yang lain. Peristiwa sedemikian itu  yang membuka peluang bagi Abu Muslim al-Khurrasani dalam usahanya menegakkan Daulat Abbasiyah.

Begitu pula kegemaran Khalifah-khalifah Bani Umayyah yang akhir, yang banyak menghabiskan waktunya untuk bermain-main dan kemewahan yang tidak terbatas, sehingga mereka kurang mengacuhkan urusan kerajaan. Hal ini yang menambah kebencian ummat Islam kepada pemerintahan keluarga itu. Adat-istiadat istana Byzantium yang menimbulkan kerusakan batin, banyak yang mereka tiru.

4. Pengangkatan dua orang Putera Mahkota

Pengangkatan dua orang mahkota juga sangat buruk akibatnya. Putera mahkota yang lebih dahulu menduduki singgasana Khalifah, berusaha memecat saudaranya dan melantik puteranya sendiri. Hal in imenimbulkan perpecahan dalam tubuh keluarga bani Umayyah. Kemudian Khalifah yang baru membalaskan dendamnya kepada siapa saja yang membantu singgasananya. Oleh karena itu perhatian dan simpati rakya menjadi pudar. Mereka senantiasa menunggu kedatangan seorang pemimpin yang akan mempersatukan mereka untuk membalas dendam kepada keluarga Bani Umayyah. Di saat demikian Abu Muslim muncul membawa suara baru dan janji perbaikan.