Jan 152009
 

Berawal dari menderita penyakit yang multikompleks, A. M. Isran mulai menemukan titik-titik kekuatan pada dirinya. Badan yang tak kunjung sehat itu, juga mulai merasakan jengah terhadap obat-obatan kimia. Satu-satunya cara yang kemudian dilakukannya adalah merefleksikan cara para nabi menjaga kesehatan. Rahasia itu terungkap ketika beliau mencoba memperbaiki tata cara shalat yang diawali dengan thaharoh (bersuci), yaitu wudhu.

Dari keseriusannya dalam menelusuri literatur rahasia wudhu dan shalat yang kemudian dipraktikkannya melalui cara-cara yang sesuai dan benar, Bapak Isran mulai menemukan kesehatannya berangsur-angsur pulih. Inilah yang kemudian mengantarkan beliau memilih menekuni bidang kesehatan dengan konsepnya ‘Senam Ergonomik’.

Senam Ergonomik, menurut penuturan beliau ketika mengisi pelatihan di Pesantren Darunnajah (28/02/2008) merupakan konsep sehat melalui senam yang diinspirasi dari cara para nabi melakukan gerakan shalat dan lainnya. Gerakan pertama misalnya yaitu mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya dengan wajah mendongak dengan tujuan membuka dada tempat paru-paru sehingga dapat mengembang secara maksimal merupakan adaptasi dari Nabi Ibrahim AS.

Pesantren Darunnajah merupakan pesantren pertama kali yang melaksanakan pelatihan Senam Ergonomik ala Bapak Isran yang menamatkan pendidikan S3nya di KWU USA dengan titel Ph.D. In distance Learning ini. Dengan energik penuh vitalitas, Sang Doktor pun mengambil kendali mengomandoi langsung praktik Senam Ergonomik yang diikuti pimpinan pesantren Darunnajah Cipining, dewan guru, dan santri Aliyah di aula.

Walau terkesan humoris dan santai, lelaki kelahiran Sintang yang kini menetap di Bandung tersebut mengajak para peserta mengikuti urutan senam sehat yang berjumlah 6 gerakan dari takbir hingga berbaring dengan sungguh-sungguh. Meski dalam melakukan senam,para peserta mengalami kram, semutan hingga kesakitan, beliau malah bersikeras untuk menahan. “Ketika merasa sakit, terus paksakan, karena begitulah cara melawan penyakit” tutur beliau.

Selain senam, Bapak Isran banyak mengemukakan rahasia-rahasia kesehatan lainnya dari ritual ibadah yang dilakukan seorang muslim, seperti rahasia wudhu, rahasia shalat tahajud, dan lainnya. Sebagai kegiatan akhir dari pelatihan Senam Ergonomik adalah sesi pemijatan. Sesi ini dilakukan untuk membuka titik-titik saraf dan pembakaran. Proses pemijatan dilakukan dalam durasi + 15-20 menit. Dalam pemijatan ini, tak jarang peserta yang dipijat secara bergiliran itu berteriak dan meringis menahan rasa sakit.

Pemijatan dalam senam Ergonomik sangat urgen karena sebagai pembuka saraf sehingga mempercepat proses pemulihan kesehatan. Begitulah keterangan Bapak Isran yang menyebut dirinya dengan ‘Mbah Pijat’. Kini, Senam Ergonomik yang mulai disosialisasikan mulai tahun 2000 tersebut telah memiliki wadah bernama Yayasan Masyarakat Suka Senam Ergonomik Indonesia (MASUSEI).